040709 Postel Hanya Berikan RIM Waktu 15 Hari

blackberry-boldJAKARTA– Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Ditjen Postel) hanya  memberikan waktu selama 15 hari kalender mulai 1 Juli lalu bagi Research in Motion (RIM),  guna membuka layanan purna jual di Indonesia.

RIM adalah prinsipal perangkat BlackBerry asal Kanada yang memasarkan produk dengan pola kemitraan melalui operator lokal. Operator yang menjadi mitra RIM adalah Telkomsel, XL, dan Indosat. Selama ini jika ada kerusakan berat pada perangkat, mitra RIM mengirimkan perangkat ke Singapura.

“Sejak 1 Juli lalu, Postel telah mengirim surat ke mitra RIM dan importir umum terkait permintaan pembukaan layanan purna jual,” ujar Kepala Pusat Komunikasi dan Humas Depkominfo Gatot S. Dewa Broto di Jakarta, Jumat (3/7).

Diungkapkannya, pada Jumat (3/7) RIM bertemu dengan Dirjen Postel, namun tidak ada pembicaraan yang menghasilkan kemajuan berarti. “Mereka hanya menjelaskan posisi bisnis, kami hanya mendengarkan,” ujarnya.

Pejabat Rim yang datang adalah Government Relation RIM Jason Saunderson dan Adviser Legal Cosultant, Abadi Sisnadisastra dan Kedubes Kanada, Atase Kebudayaan Muller.

Ditegaskan Gatot, jika tenggat waktu terlewati, Ditjen Postel akan menghentikan pemberian sertifikasi untuk seluruh perangkat BlackBerry baik yang model baru maupun kiriman tambahan model lama setelah hari kelimabelas bulan ini.

Secara terpisah,  Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya menilai kebijakan memaksa RIM membuka layanan purna jual hanya 15 hari kerja terlalu berat mengingat studi kelayakan saja belum selesai dikerjakan. “Sebagai mitra kami ikut saja kemauan pemerintah. Tetapi kalau melihat sisi bisnisnya, sepertinya berat hanya dalam 15 hari membuka layanan purna jual,” katanya.[Dni]

040607 ASC-UE Rekomendasikan Pencabutan Larangan Terbang

pesawatJAKARTA: Air Safety Committee Uni Eropa (ASC- UE) merekomendasikan empat maskapai penerbangan nasional dari daftar hitam (black list) maskapai yang dilarang terbang ke kawasan Eropa.

Keempat maskapai itu yakni PT Garuda Indonesia, PT Mandala Airlines, PT Airfast Indonesia dan PT Ekspres Transportasi Antarbenua (Premiair).

Dirjen Perhubungan Udara Departemen Perhubungan Herry Bakti S. Gumay mengatakan informasi itu diperoleh dari Ketua Air Safety Committee (ASC) UE Daniel Calleja tentang rekomendasi positif mengenai kemajuan keselamatan penerbangan RI.

“Informasi yang diterima  ASC telah mengeluarkan rekomendasi untuk mengangkat empat maskapai penerbangan RI yakni Garuda, Mandala, Airfast dan Premiair dari daftar larangan terbang UE,” katanya saat dihubungi, Jumat, (3/7).

Empat maskapai yang dikeluarkan dari daftar larangan terbang ke Eropa sejalan dengan program percepatan (fast track) Dephub untuk mengeluarkan keempat maskapai itu dari daftar hitam UE sejak 6 Juli 2007.

Herry mengungkapkan keputusan resmi pencabutan larangan terbang ke Eropa untuk empat maskapai nasional masih menunggu proses internal di Komisi Eropa yang membutuhkan waktu sekitar sembilan hari ke depan.

“Keputusan resmi UE  baru akan dikeluarkan sekitar dua minggu yakni setelah proses penerjemahan ke dalam 22 bahasa penandatangan oleh komisioner EU,” ujarnya.

Konsellor bidang ekonomi kedubes RI untuk Brussels Mohammad Syarif Alatas membenarkan,  ASC-UE  telah mengeluarkan pendapat yang positif mengenai kemajuan kinerja keselamatan penerbangan RI dan merekomendasikan untuk mencabut 4 (empat) maskapai penerbangan RI.

“Pengumuman resmi dikeluarkan kurang lebih 2 (dua) minggu dari sekarang, yaitu setelah proses penerjemahan ke dalam 22 (dua puluh dua) bahasa resmi Uni Eropa dan penandatanganan oleh Komisioner untuk Urusan Transportasi,” katanya melalui keterangan tertulis.

Secara terpisah, Dirut Garuda Emirsyah Satar menyatakan pihaknya menyambut baik rekomendasi ASC UE yang akan mengeluarkan maskapainya dari daftar larangan terbang ke Eropa.

Untuk itu, lanjutnya, Garuda segera mempercepat proses pembukaan kembali rute penerbangan ke Eropa khususnya ke Amsterdam Belanda.

“Garuda perlu melakukan persiapan operasional sebelum terbang ke Amsterdam. Ini akan memakan waktu kurang lebih sembilan bulan,” kata Emirsyah.

Managing Director PT Ekspres Transportasi Antarbenua (Premiair) Ari Singgih, menegaskan pihaknya yakin  maskapainya akan dikeluarkan dari daftar hitam maskapai yang dilarang ke Eropa.[Dni]