010709 Kebutuhan Kacang Kedelai Masih Didominasi Impor

JAKARTA–Kebutuhan kacang kedelai lokal masih didominasi oleh impor dari Amerika Serikat (AS). Tercatat, 70 persen dari 2,2 juta ton per tahun  kebutuhan kacang kedelai lokal dipenuhi oleh impor sedangkan sisanya dari petani domestik.

“Kebutuhan kacang kedelai untuk pasar lokal didominasi oleh petani AS. Jika dibiarkan, ada devisa yang lari lima triliun rupiah setiap tahun,” ujar Ketua Umum Forum Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Kopti) H Sutaryo di Jakarta, Selasa (30/6).

Dijelaskannya, masyarakat Indonesia banyak menggunakan kacang kedelai sebagai bahan baku pembuatan tahu dan tempe.

“Masyarakat Indonesia sangat gemar makan tahu dan tempe. Sayangnya supplai bahan baku sangat bergantung impor,” jelasnya.

Menurut dia, kebergantungan yang tinggi terhadap AS membuat harga kedelai di Indonesia fluktuatif mengikuti harga negeri asal. “Di AS kedelai dijual di pasar komoditi, jika harga di AS naik, maka di pasar Indonesia otomatis naik juga,” katanya.

Dicontohkannya, tinggi fluktuatif harga bisa dilihat pada awal 2008 dimana harga mencapai 7.500 rupiah per kilogram.

Disarankannya, untuk mengatasi fluktuasi harga pemerintah agar menetapkan tata niaga kedelai dengan memfungsikan kembali peran Bulog dalam menjaga stabilitas harga kedelai. “Ketika liberalisasi hak impor diberikan juga pada swasta, ini membuat produk impor membanjir. Karena itu dibutuhkan penetapan harga dasar kedelai lokal yang tidak merugilkan petani,” katanya.

Hal lain yang disarankan adalah memberikan proteksi harga kacang kedelai kepada petani dalam hal penjualan hasil panen kedelai apabila pada saat panen harga kedelai impor lebih murah, maka diatasi dengan cara menaikkan bea masuk untuk kedelai impor.

Berikutnya memberikan bantuan bibit maupun pupuk bagi petani secara tepat waktu dan sasaran. “Jika langkah ini dilakukan bisa saja swasembada kedelai pada 2012 dapat tercapai,” katanya.

Pada kesempatan sama Ketua Umum Dewan Tani Ferry J mengakui, insentif yang diungkapkan Kopti memang dibutuhkan oleh petani. “Kondisi sekarang para petani enggan menanam kedelai karena banyaknya kedelai impor. Harga jual kami kebanting,” tegasnya.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s