300609 Penyetopan Impor BlackBerry : Bentuk Ketegasan atau Kebablasan

rim-blackberry-bold-smartphonePemerintah akhirnya mengambil langkah kongkrit dan tegas kepada prinsipal BlackBerry, Research in Motion (RIM), dengan membekukan sementara sertifikasi perangkat tersebut  hingga  pusat layanan besutan RIM hadir di negeri ini.

Pembekuan sertifikasi bagi RIM bisa dikatakan menyetop secara tidak langsung masuknya BlackBerry ke Indonesia mengingat sistem National Single Windows telah diterapkan di Bea dan Cukai. Jika pemilik perangkat tidak bisa menunjukkan sertifikasi yang dimilikinya, maka pabean tidak akan mengizinkan barang tersebut masuk ke Indonesia.

Tidak ingin dianggap remeh. Inilah kesan yang ingin dimunculkan oleh regulator telekomunikasi Indonesia di mata para pemain lokal dan internasional. Pertemuan dengan para petinggi RIM digelar awal  Juni, dan menjelang akhir bulan  keluarlah keputusan yang lumayan kontroversial dan pro rakyat tersebut.

“Waktu pembekuan tidak memiliki batas. Jika pusat purna jual sudah beroperasi, baru keran impor dibuka kembali,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi kepada Koran Jakarta, Senin (29/6).

Operator Rugi

Menghadapai tarik menarik antara regulator dengan RIM tersebut, operator sebagai mitra perusahaan asal Kanada tersebut hanya bisa pasrah. “Untuk sementara stok kami masih mencukupi. Tetapi hanya untuk satu bulan ke depan. Semoga masalah ini cepat selesai, karena permintaan layanan BlackBerry di pasar lumayan tinggi,” ujar GM Sales XL, Handono Warih.

Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya mengharapkan, pemerintah   memberikan  tenggang waktu sebelum kebijakan itu dilaksanakan. Hal itu  agar operator dapat memaksimalkan stok perangkat yang diperkirakan dapat mencukupi kebutuhan pelanggan.

“Jika tiba-tiba saja ditutup tanpa adanya masa tenggang akan berdampak pula terhadap pemesanan operator ke RIM yang saat ini masih dalam tahapan pengiriman atau fabrikasi. Ini akan menimbulkan potential loss secara finansial, waktu,  maupun opportunity,” jelasnya.

Diperkirakannya, jika keran impor ditutup selama sebulan  secara total seluruh mitra RIM akan mengalami kerugian sekitar 18 juta dollar AS. Asumsi yang digunakan adalah rata-rata penjualan BlackBerry oleh seluruh mitra sebanyak 30 ribu unit dengan harga perangkat sekitar  600 dollar AS per unit.

Bukan Terbaik

Praktisi Telematika Faizal Adiputra  menilai langkah yang diambil oleh pemerintah bukanlah yang terbaik bagi kedua belah pihak. “Ini ibarat ingin membunuh tikus di lumbung padi. Pemerintah lebih memilih membakar lumbungnya ketimbang meracun tikus. Sebaiknya kedua belah pihak kembali duduk bersama untuk mencari solusi terbaik,” katanya.

Menurut Faizal, hal yang menjadi masalah adalah selama ini RIM hanya menjadikan mitra sebagai pick up point service dan dianggap itu sudah menjadi bagian dari purna jual. Sementara pemerintah mengacu pada regulasi yaitu  purna jual harus berada di Indonesia.

Berdasarkan catatan, Layanan purna jual yang diperbolehkan dilakukan oleh mitra RIM adalah  jenis servis level 1 yakni memeriksa  kerusakan di tingkat aplikasi dan firmware. Jika ternyata kerusakan bukan di level 1, maka perangkat  harus dikirim ke RIM Singapura.

Sementara menurut Penggagas id-blackberry@yahoogroups.com Abul A’la Almaujudy lmaujudy,  pemerintah  memiliki  peran lumayan besar menciptakan kekisruhan penyelenggaraan layanan BlackBerry di Indonesia.

“Model bisnis RIM itu  menunjuk mitra  dalam memasarkan perangkat dan layanannya. Tiba-tiba pemerintah  membolehkan importir umum memasukkan BlackBerry ke dalam pasar lokal. Jadilah muncul kisruh ketika RIM melakukan pemblokiran PIN yang di-kloning,” katanya.

Almaujudy menyarankan,  solusi terbaik dari kisruh ini adalah diperbanyak jalur distribusi oleh RIM dan pemerintah mengoreksi diri melalui pemberian sertifikasi yang lebih ketat. “Postel harus mau juga mengoreksi diri. Jangan seperti sekarang, ketika masalah muncul yang disalahkan pihak luar. Jika terus-terusan seperti ini prinsipal asing bisa memusuhi Indonesia,” katanya.

Pada kesempatan lain, Sumber Koran Jakarta melihat kebijakan yang diambil oleh regulator terkesan berat sebelah dan menguntungkan kompetitor RIM. “Bukan rahasia pertumbuhan penjualan BlackBerry selama 2009 paling tinggi. Saya curiga ada kompetitor yang melapor ke regulator. Buktinya regulator baru cawe-cawe belakangan ini, kenapa tidak dari dulu,” selidiknya.

Berdasarkan catatan, praktik mengadu ke regulator oleh sesama pemain sudah hal yang biasa terjadi di industri telekomunikasi. Kasus pelaporan paling fenomenal tentunya tentang   penetapan tarif SMS  oleh beberapa pemain lama yang diadukan oleh salah satu pemain baru pada dua tahun lalu.

Kala itu, regulator telekomunikasi tiba-tiba mengungkap tarif SMS terlalu tinggi dipatok oleh pemain lama.  Seiring berjalannya waktu, dari hasil pemeriksaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) terbukalah bahwa sumber informasi regulator salah satunya laporan dari pemain baru. Menarik ditunggu untuk kasus RIM, benarkah regulator independen atau ditunggangi? Waktu yang akan menjawab.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s