280609 Dampak Pengganda Sektor Telekomunikasi Masih Rendah

orang-teleponJAKARTA—Dampak pengganda (multiplier effect) sektor telekomunikasi bagi perekonomian lokal ternyata masih rendah. Tercatat, untuk satu rupiah nilai investasi di sektor telekomunikasi hanya memiliki kooefisien multiplier effect sebesar 1,83 kali.

“Riset itu dilakukan dua tahun lalu. Tetapi saya yakin sekarang ada kenaikan, meskipun belum besar. Jika pun ada peningkatan masih jauh dari ideal karena di luar negeri koefisiennya mencapai lima kali,” ungkap Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta, Minggu (28/6).

Basuki menjelaskan, rendahnya tingkat koefisien multiplier effect tak dapat dilepaskan dari sektor telekomunikasi yang masih mengembangkan pasar downstream (ritel) dan meninggalkan upstream (supplier).

“Di luar negeri dua pasar tersebut (downstream dan upstream) bergerak bersamaan dan saling mendukung. Di Indonesia, masih berfikir berjualan ke ritel saja,” katanya.

Akibat dari terlalu fokus ke pasar downstream, menurut Basuki, belanja modal dari operator banyak terserap ke luar negeri untuk membeli peralatan. “Nilai pasar dari industri telekomunikasi rata-rata setiap tahunnnya sekitar 100 triliun rupiah. Memang untuk negara ada sumbangan berupa pungutan dan Universal Service Obligation (USO), tetapi jika pasar upstream digarap, tentu akan membuat roda perekonomian berputar lebih kencang,” jelasnya.

Basuki menjelaskan, pemerintah sudah mendorong industri untuk lebih bermain di manufaktur diantaranya dengan mensyaratkan kandungan lokal dalam pembelanjaan modal. “Dalam tender Broadband Wireless Access (BWA) pemerintah mensyaratkan penggunaan kandungan lokal untuk perangkat ke konsumen dan infrastruktur,” jelasnya.

Secara terpisah, praktisi telematika Suryatin Setiawan mengatakan, pengembangan manufaktur lokal  harus didukung oleh  keputusan Presiden agar semua departemen langkahnya seirama melindungi pemain lokal.

Ruh   dari regulasi yang dikeluarkan oleh Presiden itu adalah  memberi kesempatan dan kemudahan sumber dana bagi industri manufaktur lokal untuk keperluan modal kerja dan investasi. Memberikan waktu yang reasonable bagi industri lokal untuk melakukan pengembangan prototype , lolos uji , memenuhi spesifikasi yang ditetapkan dan melakukan semua proses industrialisasi lengkap dan stabil.

Berikutnya, menyediakan   anggaran APBN untuk membeli produk pertama dalam jumlah awal yang cukup agar proses industri dan kematangan produk hasil industri lokal itu teruji dan stabil. Terakhir, membuka  tender lisensi yang diharuskan menggunakan produk hasil industri dalam negeri tersebut sehingga pasar langsung menyerap.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s