250609 Sisa Tender USO: Anomali Permintaan Industri

telepon-teleponPihak swasta boleh saja berteriak kepada  pemerintah untuk memberikan perhatian terhadap pembangunan infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Tetapi, seyogianya komitmen dari pihak swasta pun harus ikut dipertanyakan.

Bukti kongrit bisa dilihat pada sisa  tender telepon pedesaan atau Universal Service Obligation (USO) untuk paket I dan II yang sedang dikerjakan oleh pemerintah.  .

Paket I dan II adalah dua proyek tersisa dari tujuh paket penyedian telepon pedesaan yang diadakan oleh pemerintah untuk tahun ini. Lima paket pengerjaan telah diborong oleh Telkomsel. Sedangkan dua paket tersisa hanya menyisakan dua pemain yakni Indonesia Comnets Plus (Icon+) dan PT Indonusa System Integrator Prima.

Pekerjaan  paket I   meliputi wilayah Sulawesi Utara  (474 desa), Gorontalo (84 desa), Sulawesi Tengah (744 desa), Sulawesi Barat  (236 desa), Sulawesi Selatan (905 desa), Sulawesi Tenggara (929 desa),  Maluku   (710 desa), dan Maluku Utara (576 desa) dengan pagu  sebesar 488,28 miliar rupiah. Untuk paket ini Icon+ dan PT Indonusa System Integrator Prima bersaing keras menjadi pemenang.

Sedangkan pekerjaan  paket 2 dilakukan di Papua (2.247 desa)  dan Irian Jaya Barat (768 desa) dengan pagu anggaran sebesar 679,47 miliar rupiah. Di paket II ini hanya menyisakan Icon+ sebagai peserta tender.

Sisa dari tender  USO   yang ditenderkan tahun ini memang terlihat tidak menarik perhatian operator telekomunikasi sejak awal. Masa prakualifikasi pun harus dilakukan hingga dua kali untuk memeroleh calon peserta minimal dua perusahaan per paket.

Kedua paket ini dinilai operator tidak menarik karena lokasinya yang tidak memiliki potensi pasar, ditambah biaya logistik tinggi untuk melakukan pembangunan di sana. Apalagi, untuk membuka akses di wilayah tersebut sangat bergantung dengan teknologi VSAT yang membuat investasi melejit tinggi.

Inilah yang menjadi pemicu incumbent layaknya Telkomsel dan Telkom terkesan sengaja “mengugurkan” diri di paket ini.

Hal itu bisa dilihat dari pernyataan Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno yang mengakui   memang mundur dari tender USO di wilayah timur Indonesia tersebut.”Soal USO, setelah kami pelajari request for proposal [RFP] secara mendalam, kami belum siap proposal komersialnya,” tuturnya di Jakarta belum lama ini

Disesuaikan

Kepala Balai Telekomunikasi dan Informatika Pedesaan (BTIP) Santoso Serad menjelaskan, pihaknya telah mencoba menyesuaikan persyaratan dengan kondisi di lapangan. Misalnya, pagu yang dinaikkan dan masa penyelesaian yang diperpanjang menjadi 2 tahun tiga bulan dari sebelumnya satu tahun.

“Modifikasi persyaratan yang dibuat ternyata tidak membuat jumlah peserta bertambah. Sekarang malah ada yang menawar lebih rendah hingga 80 persen dari harga penawaran sendiri (HPS). Untuk itu kami meminta nilai jaminan dinaikkan,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (24/6).

Meskipun terkesan tidak laku dijual, tahapan dari tender akan dilaksanakan mengacu  pada Kepres 80/2003 tentang pedoman pelaksanaan lelang dan pengadaan jasa. Pemenang paket 1 dan 2  akan ditentukan dari nilai administrasi teknis dan harga.

“Pada awal Juli nanti akan diumumkan pemenangnya. Jadinya untuk paket I itu terkesan seperti pemilihan langsung, sementara untuk paket II seperti penunjukan langsung. Ini tidak menyalahi regulasi,” tegasnya.

Secara terpisah, Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono menilai, rendahnya minat perusahaan telekomunikasi menggarap sisa tender USO karena area yang tersisa adalah “kering” secara komersial.

“Pengusaha TIK yg lahir di alam kompetisi pada hakekatnya adalah kapitalis, dimana

nalurinya adalah membangun infrastruktur TIK pada daerah yang berpotensi untung,” tegasnya.

Menurut Nonot,  seperti  menentang hukum alam bila  meminta para kapitalis melakukan perbuatan sosialis. Karena itu pemerintah mengambil jalan tengah dengan menarik dana USO dari para pengusaha, lalu menggunakan dana itu untuk memperluas jangkauan sarana TIK di daerah-daerah yang diharapkan bisa menjadi pendorong terjadinya transformasi sosial menuju masyarakat yang memerlukan sarana TIK.

“Bila ini terjadi, maka daerah tersebut akan bisa men-generate trafik baru dan bisa diperlakukan secara komersial,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s