240609 Angkasa Pura II Siapkan Belanja Modal Rp 2 Triliun

CENGKARENG—PT Angkasa Pura II (AP II) menyiapkan belanja modal (Capital Expenditure/Capex) sebesar dua triliun rupiah guna mencapai target perseroan meraih pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 8 persen pada tahun ini.

Pada tahun lalu, AP II mencatat pendapatan sebesar 2,2 triliun rupiah atau meningkat 11 persen dari tahun sebelumnya sekitar 2 triliun rupiah. Sedangkan laba usaha sebesar 777 miliar rupiah atau naik 36 persen dari 2007 sebesar 572 miliar rupiah. Sementara laba bersih mencapai 493 miliar rupiah.

Direktur Utama AP II Edi Haryoto mengungkapkan sebanyak 65 persen atau 1,3 triliun rupiah dari Capex akan digunakan untuk pembangunan bandara dan sisanya untuk berinvestasi meningkatkan keselamatan serta kenyamanan pengguna bandara.

”Tahun ini terdapat tujuh bandara yang akan dikembangkan dan dibangun. Beberapa ada yang sudah dimulai proses lelangnya, ”ujarnya di Cengkareng, Banten, Selasa (23/6).

Bandara yang akan dikembangkan pada tahun ini adalah Bandara International Minangkabau yang menelan investasi 40 miliar rupiah. Sedangkan bandara yang akan selesai pembangunannya tahun ini adalah Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh dengan investasi 124,5 miliar rupiah.

Sementara bandara yang sedang dalam proses lelang pengerjaan adalah Raja H Fisabilillah (Tanjung Pinang) dengan investasi 87 miliar rupiah, Sultan Thaha (Jambi) dengan investasi 104 miliar rupiah, Depati Amir (Pangkal Pinang) dengan investasi 104 miliar rupiah, dan Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru) yang menelan investasi 165 miliar rupiah.

Dijelaskannya, pembangunan bandara tetap dilakukan oleh perseroan guna mengantisipasi terjadinya liberalisasi di usaha penyedian terminal dan navigasi penerbangan sesuai amanat UU Penerbangan No 1/2009.

”Jika jasa navigasi udara dilepas dari bisnis AP II maka ada potensi kerugian sebesar 35 persen dari total pendapatan. Untuk menutup hal itu perseroan perlu meningkatkan kapasitas dan mencari lini usaha baru,” katanya.

Direktur Teknik dan Operasi AP II Tulus Pranowo menambahkan, peningkatan kapasitas dilakukan dengan menambah dan mengembangkan bandara. Sementara lini usaha baru dengan mengembangkan infrastruktur di sekitar bandara.

”Selama ini bandara dibangun hanya fokus menangani arus penumpang masuk dan keluar bukan untuk berlama-lama di bandara. Ke depan bandara dibuat untuk tempat bisa berbisnis,” jelasnya.

Dijelaskannya, selama ini kontributor terbesar bagi pendapatan perseroan adalah dari jasa aeronautika, non aeronautika, dan biaya kargo. Pada tahun lalu dari total pendapatan 2 triliun rupiah, aeronautika menghasilkan 1,714,37 triliun rupiah, non aeronautika (Rp 524,91 miliar), dan kargo (Rp 37,25 miliar).

Jasa aeronautika adalah pelayanan yang berhubungan langsung dengan penerbangan. Jasa ini terbagi atasa non Air Traffic Services (ATS) dan yang diakibatkan oleh penerbangan seperti Passenger Service Charge (PSC), landing fee, penyewaan garbarata, serta lainnya.

Selanjutnya Edi mengungkapkan, selama ini dari 12 bandara yang dikelola oleh perseroan hanya dua bandara yang memiliki keuntungan besar yakni Bandara Soekarno-Hatta dan Polonia (Medan).

Soekarno-Hatta pada tahun lalu memiliki keuntungan sebesar satu triliun rupiah dan Polonia sekitar 250 miliar rupiah.

”Bandara lainnya yang berpotensi memberikan keuntungana adalah di Pekanbaru dan Pontianak. Sisanya yang terjadi adalah kerugian,” katanya.

AP II mencatat, di bandara yang dikelolanya masih terjadi pertumbuhan pesawat dan penumpang meskipun krisi global sedang terjadi. Tercatat, jumlah pergerakan pesawat mencapai 432.098 kali atau tumbuh 4,2 persen dari periode yang sama 2007 sebesar 414.624 kali.

Sedangkan jumlah penumpang naik 3,5 persen menjadi 46,3 juta daripada 2007 yang mencapai 44,7 juta penumpang. Sementara untuk kjargo pada tahun lalu mencapai 579.818 unit meningkat 5,1 persen daripada 2008.[dni]