140609 JSS Tak Mampu Atasi “Kutukan”

Johnny Swandi SjamQatar Telecom (Qtel) sebagai pemegang saham mayoritas Indosat akhirnya merombak total susunan direksi dari operator tersebut pada Kamis (11/6) lalu.

Posisi Direktur Utama yang diduduki oleh Johnny Swandi Sjam  diserahkan pada Harry Sasongko yang kini masih menjabat sebagai salah satu eksekutif di GE Finance.

Johnny yang akrab dipanggil JSS oleh para sahabatnya harus menyerahkan kursi ISAT-1 (Dirut) pada 11 Agustus nanti ke Harry yang juga pernah berkarir di Lippo Bank tersebut. Tentunya ini kado pahit bagi ulang tahun   urang awak itu, mengingat empat hari setelah serah terima, JSS akan berulang tahun.

Seperti adanya kutukan. Inilah kalimat yang tepat digunakan untuk menggambarkan masa bakti seorang  dirut di Indosat sejak saham perusahaan itu dijual ke pihak asing oleh pemerintah pada  2002 lalu.

Tercatat, tidak ada satupun seorang dirut  yang mampu menyelesaikan pengabdiannya selama empat tahun sesuai dengan amanah pemegang saham. Semuanya berhenti atau mengundurkan diri setelah tak lebih dari  1,5 tahun menjabat.

Bahkan, kondisi tanpa “kapten kapal” pun pernah dialami oleh Indosat dua kali yakni pada periode  2003-2005 dengan Ng Eng Hoo yang menjabat sebagai Wadirut dan Dirut, serta Kaizad Bomi Herjee pada 2006-2007 yang juga mengalami kondisi seperti Ng.

Karena itu, tidak dapat disalahkan performa keuangan Indosat selalu dalam kondisi  rapor merah kala itu. Perubahan terjadi ketika JSS terpilih pada Juni 2007. Mulai semester kedua 2007  kinerja Indosat mulai membaik. Bahkan, jika tidak ada hantaman krisis keuangan menjelang tutup 2008, laba Indosat bisa jadi tidak turun.

Terafiliasi

Anggota Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Iluni UI) Marwan Batubara menilai langkah yang diambil oleh Qtel dengan menggusur JSS dan mempertahankan sosok Kaizad dalam direksi baru sebagai bukti sahih Qtel masih memiliki afiliasi dengan anak usaha Temasek, Singapore Technologies Telemedia (STT).

“Itu tidak bisa dibantahkan lagi. Bagi saya hal yang aneh sebagai pemegang saham masih mempertahankan unsur STT di komisaris dan direksi. Ini berarti tangan siluman milik STT masih bermain,” katanya di Jakarta , belum lama ini.

Kaizad adalah direksi dari unsur STT. Kabar terbaru yang beredar, posisi direktur yang dipegangnya akan setara dengan Wadirut mengingat dua mantan direksi lama  (Guntur Siboro dan Syakieb Sungkar) akan berada di bawahnya. Guntur akan menjadi   Chief of Marketing dan Syakieb menempati Chief Of Sales. Jika itu terealisasi, maka kedua eksekutif itu mengalami penurunan jabatan.

Sumber Koran Jakarta yang terkenal dekat dengan JSS  mengungkapkan, mundurnya urang awak itu dari tampuk ISAT-1 bukanlah karena kinerja yang buruk tetapi tidak tahan dengan “tangan siluman” yang banyak campur tangan dalam mengurus perseroan.

“JSS capek hanya sebagai bemper dari pemegang saham jika berurusan dengan pihak pemerintah. Sementara untuk urusan strategis tidak diberikan kepercayaan penuh. Siapa yang tahan bekerja dengan kondisi seperti itu,” katanya.

Ekspansi

Pada kesempatan lain, banyak praktisi telematika yang mengkhawatirkan naiknya sosok Harry akan membuat ekspansi pembangunan infrastruktur milik Indosat akan melambat.

Hal ini karena sebagai orang yang kental dengan latar belakang keuangan Harry akan lebih memprioritaskan pada masalah restrukturisasi bisnis dan efisiensi. “Itu sudah insting dari eksekutif yang berasal dari industri keuangan. Sedangkan di telekomunikasi ini ekspansi tidak bisa ditunda karena teknologi berkembang terus,” kata seorang praktisi.

Hal lain yang disorot oleh para praktisi adalah nasib dari Indosat sendiri ke depan dalam menghadapi persaingan hingga akhir tahun nanti. Keputusan untuk memasukkan orang baru akan membuat laju Indosat terhambat karena harus belajar dulu industrinya. Apalagi Qtel banyak memasukkan orang asing yang memunculkan kembali   sentimen negatif di masyarakat.

Banyak kalangan menduga, masuknya sosok Harry tak bisa dilepaskan dari keinginan Qtel untuk mengamankan arus kas dari Indosat karena pada tahun depan  obligasi senilai 234,7 juta dollar AS akan jatuh tempo.

Sementara itu, Dirjen  Postel Basuki Yusuf Iskandar meminta Qtel untuk memenuhi janjinya ketika pertama kali sowan ke kantornya. “Dulu mereka presentasi akan memajukan industri telekomunikasi dengan memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri. Perkembangan terakhir, susunan direksi dikuasai orang asing. Karena itu saya masih penasaran dengan janji mereka ketika presentasi dulu. Semoga bisa ditepati,” katanya.

Berdasarkan catatan, Indosat telah memiliki komitmen ke pemerintah untuk meluncurkan satelit baru pada semester kedua 2009 dan menggelontorkan sejumlah uang untuk menyukseskan pembangunan serat optik di kawasan timur Indonesia.[dni]