160609 Prediksi Kinerja Kuartal II : Awan Cerah Mulai Menyelimuti

grafik-lontPeriode kuartal kedua tahun ini akan berakhir beberapa minggu lagi. Banyak operator  berharap cuaca mendung  yang menggelayuti kinerja perseroan selama kuartal pertama akan berganti dengan  awan cerah pada kuartal kedua ini.

Pada kuartal pertama  lalu, dampak dari krisis keuangan mulai terasa di sektor telekomunikasi. Laba bersih dari operator menurun hingga dobel digit. Bahkan ada juga yang mengalami kerugian.

Semua itu  tak bisa dilepaskan dari kerugian akibat selisih kurs yang dialami oleh operator dimana hutang yang dimiliki banyak dalam bentuk dollar AS. Fenomena lainnya adalah terjadinya penghapusan nomor oleh operator incumbent untuk mencari pelanggan produktif.

Indosat menghapus 3,2 juta nomor miliknya sehingga pada kuartal pertama hanya tersisa 33,3 juta pelanggan dari 36,5 juta pelanggan pada akhir 2008. Sementara XL menghapus satu juta pelanggannya yang menjadikan anak usaha Telekom Malaysia itu hanya memiliki  25,1 juta nomor dari sebelumnya 26,1 juta pelanggan.

Lebih Baik

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah memprediksi, kinerja perseroannya pada kuartal kedua nanti akan lebih baik ketimbang kuartal pertama tahun ini. “Layanan seluler Telkomsel menunjukkan pertumbuhan pelanggan yang menjanjikan. Apalagi nilai tukar kurs mulai membaik. Kita optimis kuartal kedua akan lebih baik ketimbang periode sebelumnya,” katanya belum lama ini.

Rinaldi memprediksi akan terjadi pertumbuhan juga di sisi laba dan pendapatan usaha meskipun tidak sebesar masa-masa jaya industri beberapa tahun belakangan. “Ada pertumbuhan, tetapi single digit,” katanya.

Berdasarkan catatan, pendapatan usaha Telkom pada kuartal kedua 2008 hanya sebesar 30,18 triliun rupiah atau naik cuma 5,86 persen dibandingkan periode yang sama 2007 sebesar 28,51 triliun rupiah.

VP Area II Telkomsel Irwin Sakti yang membawahi wilayah persaingan paling ketat (Jabodetabek-Jabar) mengungkapkan, selama kuartal kedua terjadi pertumbuhan di luar target.  “Kartu perdana terjual  dengan harga jauh lebih baik dibanding  tahun lalu. Penjualan  jauh lebih efektif, pembeli  yang menjadi pelanggan perbandingannya juga meningkat dibanding  sebelumnya,” ungkapnya.

VP Sales XL Djunaedy Hermawanto juga mengaku optimistis akan terjadi perubahan pada kinerja XL selama kuartal kedua nanti mengingat strategi untuk penjualan telah berubah.

“Kami tidak menggunakan lagi cara membombardir pasar dengan membanting harga kartu perdana. Sekarang XL ingin mendapatkan pelanggan produktif agar pendapatan meningkat. Hasilnya mulai terasa dengan melihat meningkatnya jumlah subscriber with event (SWE),” katanya.

SWE adalah pelanggan yang benar-benar menggunakan nomor yang dimiliki untuk panggilan atau layanan data.

Pola yang dilakukan XL itu telah dijalankan oleh Telkomsel sejak setahun lalu dengan membatasi persediaan kartu perdana   agar harga jual yang sehat terbentuk. Kebijakan tersebut   untuk mendidik pengguna tidak memperlakukan kartu perdana sebagai calling card.

“Jadi, kartu perdana   yang didistribusikan berfungsi sebagai net add, pengganti buat pelanggan yang  lupa top up.  Walaupun tidak bisa dinafikan masih ada tipikal  pelanggan calling card,” kata Irwin.

Berkaitan dengan kinerja keuangan, Direktur XL Hasnul Suhaimi saat memaparkan pencapaian kuartal pertama beberapa waktu lalu menyakini jika nilai tukar rupiah menguat, XL bisa saja meraih keuntungan.

“Bagi kami jika rupiah menguat seribu rupiah setiap bulannya, itu bisa membuat perseroan untung 700 miliar rupiah per tahun,” katanya.

Berdasarkan catatan, XL pada kuartal pertama tahun ini perseroan mengalami kerugian bersih sebesar 306 miliar rupiah akibat depresiasi rupiah terhadap dollar AS.   Jika tanpa pengaruh selisih kurs yang belum terealisasi, normalized net income bsa mencapai 14 miliar rupiah.

Nilai tukar rupiah sendiri selama kuartal kedua ini menunjukkan penguatan yakni bermain dikisaran 10 ribu hingga nyaris 9 ribuan rupiah. XL sendiri mengalami kerugian dengan menggunakan  patokan dollar AS   dalam kisaran 11.575 rupiah.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro yang ditemui beberapa hari menjelang pergantian direksi di operator itu mengungkapkan, kuartal kedua secara penjualan belum menunjukkan kemajuan jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Penjualan kartu perdana di beberapa area yang selama ini ekonominya maju melambat.misalnya di wilayah yang mengandalkan kelapa sawit seperti Medan atau Lampung, di sana penjualan menurun,” katanya.

Guntur memperkirakan, penghangusan nomor tetap akan terjadi selama kuartal kedua nanti karena operator harus menjaga kapasitasnya dengan tidak terbebani oleh nomor tidur. “Sekarang ada regulasi kualitas layanan. Jika jaringan buruk kinerja, pelanggan bisa berpindah. Selain itu, operator berkepentingan untuk mencari pelanggan produktif agar pendapatan naik,” katanya.

Sedangkan Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menilai jika masih terjadi penghangusan besar-besaran oleh satu operator tak bisa dilepaskan karena selama ini menyimpan pelanggan yang tidak produktif di database.

Titik Balik

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys menjelaskan, kuartal kedua ini adalah titik balik (rebound) dari masa krisis yang dialami oleh operator telekomunikasi.

“Ini adalah rebound dari dampak penurunan tarif ritel hingga 70 persen pada kuartal pertama  dan krisis keuangan pada kuartal ketiga 2008,” katanya.

Tetapi dikatakannya, meskipun menunjukkan titik balik, kinerja kuartal kedua untuk industri tidak sebaik dari tahun sebelumnya. “Masa kuartal pertama dan kedua setiap tahunnya memang sulit karena tidak ada stimulus yang mendorong pengguna menggunakan pulsa secara berlebihan. Kuartal ketiga itu masanya cari duit karena ada Lebaran dan libur sekolah,” katanya.

Berdasarkan catatan,   pada kuartal kedua 2008    pertumbuhan pelanggan per bulan dari operator telekomunikasi hanya sebesar tiga persen per bulan. Sementara pada 2007 pertumbuhan di periode tersebut bermain di angka empat persen.

Merza yang juga menduduki posisi Dirut Mobile-8 mengungkapkan, pada kuartal kedua ini operator kecil seperti pemilik merek Fren dan Hepi akan mulai tampil atraktif. “Mobile-8 dipastikan lebih agresif. Soalnya kami sedang mencari investor baru untuk menyuntik dana segar. Salah satu gula-gulanya tentu memperlihatkan adanya pertumbuhan pelanggan,” katanya.

Ucapan Merza bisa dilihat dengan langkah Mobile-8  menyatukan layanan seluler dan fixed wireless access (FWA) dalam satu kartu yang disebut Fren Duo. Selain itu Mobile-8 menggandeng Mega Life  untuk meluncurkan program ‘Ayo Menabung”. Program terbaru tersebut diharapkan mendatangkan   2,3 juta pelanggan baru.

Keagresifan operator kecil juga bisa dilihat dari langkah Smart Telecom dan Axis  yang akan menawarkan layanan BlackBerry tak lama lagi secara komersial.

Melihat mulai banyaknya pemain CDMA menggeber jasa data, Erik mengakui, jasa tersebut   memang berpotensi menghasilkan uang. “Tetapi  hanya bisa dijalankan secara baik jika ada kapasitas jaringan  yang cukup. Frekuensi esia sudah habis untuk suara dan sms. Operator CDMA yang main di data, biasanya  memiliki jumlah pelanggan tidak besar untuk jasa suara dan SMS,” katanya.[dni

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s