160609 ICS 2009, Masih Sebatas Berjualan

Ajang pameran tahunan teknologi seluler atau yang dikenal dengan nama Indonesia Cellular Show (ICS) baru saja usai pada Minggu (14/6) lalu. Ajang yang digelar bersamaan dengan Festival Komputer Indonesia (FKI) itu banyak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di jasa seluler untuk menunjukkan eksistensi dirinya.

Lihat saja Indosat yang meluncurkan sejumlah layanan selama empat hari itu. Mulai dari mobile TV digital, paket langganan akses internet bagi pengguna StarOne, dan lainnya.

Hal sama juga dilakukan oleh Telkomsel dengan meluncurkan SMS Pro yang berisi layanan pesan singkat Auto Reply, SMS Divert, SMS Copy, SMS Blacklist, dan SMS Whitelist. Sementara XL tak mau kalah dengan meluncurkan program menyambut liburan dan pasca bayar dengan penawaran tarif lebih kompetitif.

Sedangkan pemain CDMA seperti Smart Telecom dan Mobile-8 Telecom memperkenalkan program layanan data yang kompetitif. Smart menyiapkan  10 ribu unit netbook, 50 ribu USB modem, dan 5 ribu unit wireless router untuk menggeber pengguna mobile data.

Pada kesempatan sama Mobile-8 menggandeng pembuat netbook Advan untuk membuat jasa akses data Mobi makin menarik. Masih soal layanan data, pada ICS pula Axis secara resmi meluncurkan jasa BlackBerry miliknya.

Praktisi telematika Ventura Elisawati melihat, meskipun ribuan pengunjung memadati ajang ICS tetapi secara kualitas pameran tersebut mengalami penurunan. “ATPM ponsel besar banyak yang absen. Sedihnya lagi porsi dari seluler tergusur oleh FKI yang menempati lokasi lebih luas,’ ujarnya kepada Koran Jakarta, Senin (15/6).

Ventura menilai, ICS lebih banyak didominasi  nafsu berjualan oleh operator ketimbang mengedukasi pelanggan untuk menggunakan jasa seluler ke arah produktif. “Semuanya hanya keras-kerasan sound system. Kalau begini masyarakat tetap akan menjadi konsumtif dalam menggunakan pulsanya,” katanya.

Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengatakan, kualitas dari ICS semakin lama tidak menarik .”Penyelenggara harus mulai memberikan porsi kecanggihan teknologi seperti yang dilakukan Singapura melalui CommunicAsia,” katanya.

Faizal menilai, konsep ICS yang lebih fokus ke Business to Customer (B2C) memicu peserta pameran untuk  berlomba-lomba menawarkan dagangannya kepada pengunjung dengan iming-iming hadiah tertentu. “Harus ada pemikiran dari penyelenggara untuk menyampurkan edukasi dengan berjualan. Kalau tidak, pameran ICS bisa kehilangan nama-nama besar yang menjadi peserta seperti tahun ini,” katanya.

Menanggapi hal itu,  Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya mengatakan, sebagai ajang tahunan operator harus mengikuti ICS untuk menunjukkan eksistensi diri. “Design dari ICS memang dari pelaku bisnis langsung ke konsumen. Karena itu semangatnya berjualan,” katanya.

Manager Brand Corporate Communication dan Kartu Halo Telkomsel Deasy Andriani menjelaskan,  Telkomsel mengikuti ajang tersebut sebagai upaya untuk mendekatkan diri ke pelanggan agar mengetahui kebutuhan pelanggan. “Dari situ sebagai operator kita melakukan perbaikan layanan,” katanya.

Masih menurut Deasy, jika terlihat operator terlalu berjualan karena dalam konsep B2C  pengunjung memang menantikan hot offer dari peserta. “Kalau di booth Telkomsel itu yang paling ditunggu adalah  redeem poin khusus selama pameran,” katanya.

Bintang Pameran

Operator boleh sibuk berjualan, tetapi bintang lapangan dari ICS adalah Nexian melalui ponselnya yang mirip dengan BlackBerry. Ponsel yang dibundling dengan layanan data milik XL tersebut mampu menghadirkan antrian panjang pengunjung untuk membelinya selama pameran.

Nexian sendiri mengklaim sebanyak 70 ribu unit ponsel Nexian Berry laku terjual. Melihat tingginya animo masyarakat, Nexian optimistis sebanyak 400 ribu unit akan ludes nantinya.

Menurut Faizal, keberhasilan Nexian tak bisa dilepaskan dari tren pelanggan yang senang berkomunikasi di situs sosial. “Apalagi bentuk perangkatnya sama dengan BlackBerry. Jadinya, banyak kalangan menengah bawah yang ingin memiliki. Bisa dikatakan BlackBerry dengan harga murah meriah,” katanya.

Faizal menduga, sukses Nexian akan diikuti oleh  beberapa produk  sejenis dari merek yang berbeda. “Sisi positifnya ini memberikan pilihan lain bagi calon pengguna, namun di sisi lain yang perlu di perhatikan adalah layanan purna jual. Jangan sampai harga yang menarik malah mengorbankan layanan purna jual sehingga pelanggan yang menanggung akibatnya,” katanya.

Ventura mengatakan, seharusnya yang hadir di pameran tersebut adalah prinsipal dari ponsel bukanlah penjualnya. “Bukan rahasia lagi merek lokal itu adalah ponsel China. Seharusnya dihadirkan prinsipal agar memberikan rasa nyaman dan aman bagi pengguna yang kebetulan membeli  produknya. Kalau pedagang yang berpameran, tentu saja berjualan terus. Unsur edukasi diabaikan,” ketusnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s