160609 Depkominfo Tahan Sertifikat A RIM

blackberry-boldJAKARTA–Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) memutuskan untuk menahan sertifikat A milik Reserach In Motion (RIM) mengingat sejauh ini belum ada komitmen dari penyedia perangkat BlackBerry itu membuka layanan purnajual di Indonesia.

Sertifikat A biasanya dibutuhkan oleh prinsipal untuk memasukkan varian baru dari produknya. RIM disebut-sebut mengajukan sertifikat A utk varian baru BlackBerry tipe Gemini.

“Kami memutuskan menahan dulu pemberian ijin bagi RIM. Tidak bisa berbisnis tanpa mengindahkan regulasi setempat. Purna jual itu wajib ada di Indonesia,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI)Heru Sutadi seusai menerima delegasi RIM di Jakarta, Senin (5/6).

Dikatakannya,  RIM baru dalam tahap melakukan feasibility study dengan tujuan untuk mencari format yang tepat bagi pendirian kantornya di Indonesia secepat mungkin. Format yang dipilih.  dalam bentuk representative office, sales service atau service centre.

“Regulator tidak mau RIM lepas tangan terhadap perdagangan BlackBerry lain yang tidak melalui mitra mereka. Hak pelanggan harus dilindungi,” ketusnya.

Secara terpisah, praktisi telematika Ventura Elisawati mengatakan tidak pantas RIM menerapkan pola berbisnis yang sama di luar negeri dengan Indonesia.

“Pasar Indonesia banyak anomali. Seharusnya RIM menyesuaikan dengan dinamika lokal,” katanya.

Berdasarkan catatan, RIM telah menjual sekitar 25 juta BlackBerry ke 160 negara di dunia dimana menghasilkan pendapatan sekitar  11 miliar dollar AS bagi perusahaan asal Kanada itu.

Saat ini layanan purna jual BlackBerry di Indonesia melalui mitra RIM (Telkomsel, Indosat, XL, dan Axis). Layanan purna jual yang diperbolehkan dilakukan  jenis servis level 1 yakni memeriksa.  kerusakan di tingkat aplikasi dan firmware.

Jika ternyata kerusakan bukan di level 1, maka perangkat  harus dikirim ke RIM Singapura.[Dni]

160609 Kabel Segera Laut AAG Beroperasi

fiberopticJAKARTA— PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) memperkirakan pada bulan depan atau Agustus nanti kabel laut   Asia-America Gateway (AAG) akan segera beroperasi.

“AAG akan beroperasi bulan depan atau Agustus. Jika beroperasi, ini akan membantu bisnis broadband Telkom,” ujar Direktur Jaringan Telkom Ermady Dahlan, di Jakarta, belum lama ini.

AAG merupakan kabel laut dengan kapasitas 1,92 terabit per detik dan panjang 19.000 km yang menyambungkan Asia dengan Amerika yang dibangun oleh 19 persusahaan. Beberapa perusahaan tersebut adalah  Telkom, Indosat, dan   AT&T Corp (AS).

Kabel laut tersebut    menghubungkan langsung jalur Asia dan Amerika Serikat dengan persinggahan (landings) di Malaysia, Singapore, Brunei, Thailand, Vietnam, Hong Kong, Philippines, Guam, Hawaii dan daratan AS.

Telkom berinvestasi sebesar  40 juta dollar AS agar bisa menjadi anggota konsorsium guna menggenjot kuota bandwidth internasional hingga 70 gigabit per detik (Gbps).

Ermady menjelaskan, bergabungnya Telkom dalam AAG  untuk mengatasi masalah keterbatasan bandwidth internasional di Indonesia. “Keterbatasan itu membuat daya saing   Indonesia dalam percaturan ekonomi dunia ikut terpengaruh. Telkom bertanggungjawab mengatasi ini,” katanya.

Ermady menjelaskan, layanan broadband milik Telkom  terus menunjukkan pertumbuhan pelanggan yang menjanjikan. Saat ini layanan  tersebut membidik pasar perumahan, korporasi, dan mobile.

“Sebagian dari belanja modal tahun ini memang untuk mengembangkan broadband. Telkom ingin mendorong konvergensi data, suara, dan video yang dikenal dengan triple play segera terwujud,” jelasnya.[dni]

160609 ICS 2009, Masih Sebatas Berjualan

Ajang pameran tahunan teknologi seluler atau yang dikenal dengan nama Indonesia Cellular Show (ICS) baru saja usai pada Minggu (14/6) lalu. Ajang yang digelar bersamaan dengan Festival Komputer Indonesia (FKI) itu banyak dimanfaatkan oleh para pelaku usaha di jasa seluler untuk menunjukkan eksistensi dirinya.

Lihat saja Indosat yang meluncurkan sejumlah layanan selama empat hari itu. Mulai dari mobile TV digital, paket langganan akses internet bagi pengguna StarOne, dan lainnya.

Hal sama juga dilakukan oleh Telkomsel dengan meluncurkan SMS Pro yang berisi layanan pesan singkat Auto Reply, SMS Divert, SMS Copy, SMS Blacklist, dan SMS Whitelist. Sementara XL tak mau kalah dengan meluncurkan program menyambut liburan dan pasca bayar dengan penawaran tarif lebih kompetitif.

Sedangkan pemain CDMA seperti Smart Telecom dan Mobile-8 Telecom memperkenalkan program layanan data yang kompetitif. Smart menyiapkan  10 ribu unit netbook, 50 ribu USB modem, dan 5 ribu unit wireless router untuk menggeber pengguna mobile data.

Pada kesempatan sama Mobile-8 menggandeng pembuat netbook Advan untuk membuat jasa akses data Mobi makin menarik. Masih soal layanan data, pada ICS pula Axis secara resmi meluncurkan jasa BlackBerry miliknya.

Praktisi telematika Ventura Elisawati melihat, meskipun ribuan pengunjung memadati ajang ICS tetapi secara kualitas pameran tersebut mengalami penurunan. “ATPM ponsel besar banyak yang absen. Sedihnya lagi porsi dari seluler tergusur oleh FKI yang menempati lokasi lebih luas,’ ujarnya kepada Koran Jakarta, Senin (15/6).

Ventura menilai, ICS lebih banyak didominasi  nafsu berjualan oleh operator ketimbang mengedukasi pelanggan untuk menggunakan jasa seluler ke arah produktif. “Semuanya hanya keras-kerasan sound system. Kalau begini masyarakat tetap akan menjadi konsumtif dalam menggunakan pulsanya,” katanya.

Praktisi Telematika Faizal Adiputra mengatakan, kualitas dari ICS semakin lama tidak menarik .”Penyelenggara harus mulai memberikan porsi kecanggihan teknologi seperti yang dilakukan Singapura melalui CommunicAsia,” katanya.

Faizal menilai, konsep ICS yang lebih fokus ke Business to Customer (B2C) memicu peserta pameran untuk  berlomba-lomba menawarkan dagangannya kepada pengunjung dengan iming-iming hadiah tertentu. “Harus ada pemikiran dari penyelenggara untuk menyampurkan edukasi dengan berjualan. Kalau tidak, pameran ICS bisa kehilangan nama-nama besar yang menjadi peserta seperti tahun ini,” katanya.

Menanggapi hal itu,  Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya mengatakan, sebagai ajang tahunan operator harus mengikuti ICS untuk menunjukkan eksistensi diri. “Design dari ICS memang dari pelaku bisnis langsung ke konsumen. Karena itu semangatnya berjualan,” katanya.

Manager Brand Corporate Communication dan Kartu Halo Telkomsel Deasy Andriani menjelaskan,  Telkomsel mengikuti ajang tersebut sebagai upaya untuk mendekatkan diri ke pelanggan agar mengetahui kebutuhan pelanggan. “Dari situ sebagai operator kita melakukan perbaikan layanan,” katanya.

Masih menurut Deasy, jika terlihat operator terlalu berjualan karena dalam konsep B2C  pengunjung memang menantikan hot offer dari peserta. “Kalau di booth Telkomsel itu yang paling ditunggu adalah  redeem poin khusus selama pameran,” katanya.

Bintang Pameran

Operator boleh sibuk berjualan, tetapi bintang lapangan dari ICS adalah Nexian melalui ponselnya yang mirip dengan BlackBerry. Ponsel yang dibundling dengan layanan data milik XL tersebut mampu menghadirkan antrian panjang pengunjung untuk membelinya selama pameran.

Nexian sendiri mengklaim sebanyak 70 ribu unit ponsel Nexian Berry laku terjual. Melihat tingginya animo masyarakat, Nexian optimistis sebanyak 400 ribu unit akan ludes nantinya.

Menurut Faizal, keberhasilan Nexian tak bisa dilepaskan dari tren pelanggan yang senang berkomunikasi di situs sosial. “Apalagi bentuk perangkatnya sama dengan BlackBerry. Jadinya, banyak kalangan menengah bawah yang ingin memiliki. Bisa dikatakan BlackBerry dengan harga murah meriah,” katanya.

Faizal menduga, sukses Nexian akan diikuti oleh  beberapa produk  sejenis dari merek yang berbeda. “Sisi positifnya ini memberikan pilihan lain bagi calon pengguna, namun di sisi lain yang perlu di perhatikan adalah layanan purna jual. Jangan sampai harga yang menarik malah mengorbankan layanan purna jual sehingga pelanggan yang menanggung akibatnya,” katanya.

Ventura mengatakan, seharusnya yang hadir di pameran tersebut adalah prinsipal dari ponsel bukanlah penjualnya. “Bukan rahasia lagi merek lokal itu adalah ponsel China. Seharusnya dihadirkan prinsipal agar memberikan rasa nyaman dan aman bagi pengguna yang kebetulan membeli  produknya. Kalau pedagang yang berpameran, tentu saja berjualan terus. Unsur edukasi diabaikan,” ketusnya.[dni]

160609 Pemegang Lisensi BWA Wajib Sewakan Jaringan

wimax-1JAKARTA—Pemegang lisensi Broadband Wireless Access (BWA) diwajibkan untuk menyewakan sebesar 20 persen dari kapasitas jaringannya untuk pihak ketiga.

“Tidak semua kapasitas dipakai sendiri oleh pemenang. Ada kewajiban untuk menyewakan,” ungkap Konsultan Ditjen Postel Bidang Regulasi Koesmarihati Koesnowarso kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Dikatakannya, kewajiban menyewakan tersebut akan membuka kesempatan bagi pemain yang tidak mendapatkan lisensi BWA untuk melakukan virtual network operation (VNO) sehingga aksesibilitas bisa digunakan secara bersama.

“Ini untuk menolong pemain yang kalah dalam tender sementara keadaan memaksa mereka membutuhkan layanan ini. Jadi, jangan berfikir pemerintah hanya ingin mencari untung dari lisensi ini,” katanya.

Koes mengatakan, jika para peserta merasa harga penawaran dasar yang ditetapkan oleh pemerintah kemahalan, semuanya secara kompak untuk tidak mengikuti  tender.”Jika demikian nantinya Ditjen Postel bisa bilang ke Depkeu kalau harganya kemahalan. Nah, setelah itu akan keluar harga baru. Tetapi, pertanyaanya apa benar itu yang diinginkan oleh para peserta,” ketusnya.

Koes juga menyakini tidak akan terjadi fenomena pasang harga tinggi dalam menawar satu zona nantinya karena peserta harus berhitung dengan realita lapangan terkait jasa broadband.”Apalagi tahun depan akan ada tender untuk standar mobile.  Ini beda dengan tender 3G dimana operator merasa jika tidak mendapatkan lisensi bisa kehilangan daya saing,”katanya.

Sebelumnya, Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) membanderol harga frekuensi Broadband Wireless Access (BWA) untuk spektrum 2,3 GHz sebesar 52,35 miliar rupiah. Angka tersebut merupakan total harga dari 15 zona dimana satu zona ditawarkan dua blok frekuensi.[dni]

160609 Prediksi Kinerja Kuartal II : Awan Cerah Mulai Menyelimuti

grafik-lontPeriode kuartal kedua tahun ini akan berakhir beberapa minggu lagi. Banyak operator  berharap cuaca mendung  yang menggelayuti kinerja perseroan selama kuartal pertama akan berganti dengan  awan cerah pada kuartal kedua ini.

Pada kuartal pertama  lalu, dampak dari krisis keuangan mulai terasa di sektor telekomunikasi. Laba bersih dari operator menurun hingga dobel digit. Bahkan ada juga yang mengalami kerugian.

Semua itu  tak bisa dilepaskan dari kerugian akibat selisih kurs yang dialami oleh operator dimana hutang yang dimiliki banyak dalam bentuk dollar AS. Fenomena lainnya adalah terjadinya penghapusan nomor oleh operator incumbent untuk mencari pelanggan produktif.

Indosat menghapus 3,2 juta nomor miliknya sehingga pada kuartal pertama hanya tersisa 33,3 juta pelanggan dari 36,5 juta pelanggan pada akhir 2008. Sementara XL menghapus satu juta pelanggannya yang menjadikan anak usaha Telekom Malaysia itu hanya memiliki  25,1 juta nomor dari sebelumnya 26,1 juta pelanggan.

Lebih Baik

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah memprediksi, kinerja perseroannya pada kuartal kedua nanti akan lebih baik ketimbang kuartal pertama tahun ini. “Layanan seluler Telkomsel menunjukkan pertumbuhan pelanggan yang menjanjikan. Apalagi nilai tukar kurs mulai membaik. Kita optimis kuartal kedua akan lebih baik ketimbang periode sebelumnya,” katanya belum lama ini.

Rinaldi memprediksi akan terjadi pertumbuhan juga di sisi laba dan pendapatan usaha meskipun tidak sebesar masa-masa jaya industri beberapa tahun belakangan. “Ada pertumbuhan, tetapi single digit,” katanya.

Berdasarkan catatan, pendapatan usaha Telkom pada kuartal kedua 2008 hanya sebesar 30,18 triliun rupiah atau naik cuma 5,86 persen dibandingkan periode yang sama 2007 sebesar 28,51 triliun rupiah.

VP Area II Telkomsel Irwin Sakti yang membawahi wilayah persaingan paling ketat (Jabodetabek-Jabar) mengungkapkan, selama kuartal kedua terjadi pertumbuhan di luar target.  “Kartu perdana terjual  dengan harga jauh lebih baik dibanding  tahun lalu. Penjualan  jauh lebih efektif, pembeli  yang menjadi pelanggan perbandingannya juga meningkat dibanding  sebelumnya,” ungkapnya.

VP Sales XL Djunaedy Hermawanto juga mengaku optimistis akan terjadi perubahan pada kinerja XL selama kuartal kedua nanti mengingat strategi untuk penjualan telah berubah.

“Kami tidak menggunakan lagi cara membombardir pasar dengan membanting harga kartu perdana. Sekarang XL ingin mendapatkan pelanggan produktif agar pendapatan meningkat. Hasilnya mulai terasa dengan melihat meningkatnya jumlah subscriber with event (SWE),” katanya.

SWE adalah pelanggan yang benar-benar menggunakan nomor yang dimiliki untuk panggilan atau layanan data.

Pola yang dilakukan XL itu telah dijalankan oleh Telkomsel sejak setahun lalu dengan membatasi persediaan kartu perdana   agar harga jual yang sehat terbentuk. Kebijakan tersebut   untuk mendidik pengguna tidak memperlakukan kartu perdana sebagai calling card.

“Jadi, kartu perdana   yang didistribusikan berfungsi sebagai net add, pengganti buat pelanggan yang  lupa top up.  Walaupun tidak bisa dinafikan masih ada tipikal  pelanggan calling card,” kata Irwin.

Berkaitan dengan kinerja keuangan, Direktur XL Hasnul Suhaimi saat memaparkan pencapaian kuartal pertama beberapa waktu lalu menyakini jika nilai tukar rupiah menguat, XL bisa saja meraih keuntungan.

“Bagi kami jika rupiah menguat seribu rupiah setiap bulannya, itu bisa membuat perseroan untung 700 miliar rupiah per tahun,” katanya.

Berdasarkan catatan, XL pada kuartal pertama tahun ini perseroan mengalami kerugian bersih sebesar 306 miliar rupiah akibat depresiasi rupiah terhadap dollar AS.   Jika tanpa pengaruh selisih kurs yang belum terealisasi, normalized net income bsa mencapai 14 miliar rupiah.

Nilai tukar rupiah sendiri selama kuartal kedua ini menunjukkan penguatan yakni bermain dikisaran 10 ribu hingga nyaris 9 ribuan rupiah. XL sendiri mengalami kerugian dengan menggunakan  patokan dollar AS   dalam kisaran 11.575 rupiah.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro yang ditemui beberapa hari menjelang pergantian direksi di operator itu mengungkapkan, kuartal kedua secara penjualan belum menunjukkan kemajuan jika dibandingkan periode sama tahun lalu.

“Penjualan kartu perdana di beberapa area yang selama ini ekonominya maju melambat.misalnya di wilayah yang mengandalkan kelapa sawit seperti Medan atau Lampung, di sana penjualan menurun,” katanya.

Guntur memperkirakan, penghangusan nomor tetap akan terjadi selama kuartal kedua nanti karena operator harus menjaga kapasitasnya dengan tidak terbebani oleh nomor tidur. “Sekarang ada regulasi kualitas layanan. Jika jaringan buruk kinerja, pelanggan bisa berpindah. Selain itu, operator berkepentingan untuk mencari pelanggan produktif agar pendapatan naik,” katanya.

Sedangkan Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menilai jika masih terjadi penghangusan besar-besaran oleh satu operator tak bisa dilepaskan karena selama ini menyimpan pelanggan yang tidak produktif di database.

Titik Balik

Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys menjelaskan, kuartal kedua ini adalah titik balik (rebound) dari masa krisis yang dialami oleh operator telekomunikasi.

“Ini adalah rebound dari dampak penurunan tarif ritel hingga 70 persen pada kuartal pertama  dan krisis keuangan pada kuartal ketiga 2008,” katanya.

Tetapi dikatakannya, meskipun menunjukkan titik balik, kinerja kuartal kedua untuk industri tidak sebaik dari tahun sebelumnya. “Masa kuartal pertama dan kedua setiap tahunnya memang sulit karena tidak ada stimulus yang mendorong pengguna menggunakan pulsa secara berlebihan. Kuartal ketiga itu masanya cari duit karena ada Lebaran dan libur sekolah,” katanya.

Berdasarkan catatan,   pada kuartal kedua 2008    pertumbuhan pelanggan per bulan dari operator telekomunikasi hanya sebesar tiga persen per bulan. Sementara pada 2007 pertumbuhan di periode tersebut bermain di angka empat persen.

Merza yang juga menduduki posisi Dirut Mobile-8 mengungkapkan, pada kuartal kedua ini operator kecil seperti pemilik merek Fren dan Hepi akan mulai tampil atraktif. “Mobile-8 dipastikan lebih agresif. Soalnya kami sedang mencari investor baru untuk menyuntik dana segar. Salah satu gula-gulanya tentu memperlihatkan adanya pertumbuhan pelanggan,” katanya.

Ucapan Merza bisa dilihat dengan langkah Mobile-8  menyatukan layanan seluler dan fixed wireless access (FWA) dalam satu kartu yang disebut Fren Duo. Selain itu Mobile-8 menggandeng Mega Life  untuk meluncurkan program ‘Ayo Menabung”. Program terbaru tersebut diharapkan mendatangkan   2,3 juta pelanggan baru.

Keagresifan operator kecil juga bisa dilihat dari langkah Smart Telecom dan Axis  yang akan menawarkan layanan BlackBerry tak lama lagi secara komersial.

Melihat mulai banyaknya pemain CDMA menggeber jasa data, Erik mengakui, jasa tersebut   memang berpotensi menghasilkan uang. “Tetapi  hanya bisa dijalankan secara baik jika ada kapasitas jaringan  yang cukup. Frekuensi esia sudah habis untuk suara dan sms. Operator CDMA yang main di data, biasanya  memiliki jumlah pelanggan tidak besar untuk jasa suara dan SMS,” katanya.[dni

160609 HDS Targetkan Pertumbuhan Usaha 20 Persen

hds-gbrJAKARTA—Hitachi Data System (HDS) menargetkan pada tahun ini pertumbuhan usahanya di Indonesia sebesar 15 hingga 20 persen.

“Segmen  telekomunikasi pada kuartal keempat tahun lalu menyumbang lumayan besar, sekitar 40 persen. selain itu sektor pemerintahan juga menyumbang sekitar 20 persen. tahun ini diperkirakan kontribusinya lebih besar,” ungkap Indra Wildan Nugraha Solution Consultant Hitachi Indonesia di Jakarta, belum lama ini.

Menurut dia, segmen telekomunikasi akan tetap memberikan angin segara bagi bisnis penyedia storage karena sektor itu terus menunjukkan pertumbuhan. “Apalagi belanja modal dari beberapa operator tetap stabil,” katanya.

Dijelaskannya, secara umum penyedia jasa  memerlukan solusi virtualisasi end to end yang  mampu memberikan potensial cost saving bagi pelanggan. Dan meminimaliskam downtime terencana maupun tidak.

Dua solusi yang ditawarkan yaitu, Hitachi Storage Cluster untuk Microsoft Hyper-V dan Hitachi Storage Replication Adapter Untuk Vmware vCenter site Recorvery, merupakan bentuk kesinambungan bisnis dan pemulihan bencana.[dni]

140609 Pemerintah Siap Tender Proyek PSO Pengiriman Dokumen

posindo1JAKARTA—Pemerintah siap melakukan tender proyek (Public Service Obligation/PSO) pengiriman dokumen yang selama ini dikelola oleh  PT Pos Indonesia (Posindo).

“Pemerintah memang berinisiatif melakukan tender untuk PSO jika RUU Pos disahkan oleh parlemen. Itu tidak menjadi masalah. Justru akan meningkatkan pelayanan ke masyarakat akibat adanya kompetisi,” ungkap Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar kepada Koran Jakarta, akhir pekan lalu.

Untuk diketahui, selama ini Posindo menjalankan PSO secara monopoli karena mengacu pada UU Pos lama. Dana PSO yang dikelola oleh Posindo sebesar 150 miliar rupiah. Saat ini pemerintah bersama parlemen sedang menggodok RUU Pos baru dan diharapkan pada Agustus nanti sudah selesai untuk bisa disahkan.
Dalam regulasi lama memang terbuka peluang bagi Posindo melakukan monopoli pengiriman dokumen, tetapi di regulasi previlege itu dicabut dan dibuka peluang yang sama bagi pelaku usaha lainnya.

Basuki mengatakan, jika PSO ditender maka setiap pelaku usaha dibidang pengirman harus menyumbang dana untuk program tersebut ke pemerintah. “Selama ini dana tersebut berasal dari pemerintah. Jika dilakukan tender, akan ada pungutan untuk PSO.

Jadi, semuanya berkontribusi. Tidak bisa hanya mengandalkan dana pemerintah,” katanya.

Selanjutnya Basuki menegaskan, pemerintah telah mengusulkan dalam RUU Pos adanya ketentuan kepemilikan mayoritas lokal dan berbadan hukum Indonesia bagi pelaku usaha yang ingin bermain di jasa pengiriman.

“Tujuannya untuk mendorong pelaku usaha lokal. Hal ini karena sektor ini bisa dikerjakan oleh Usaha Kecil Menengah (UKM),”katanya.

Sebelumnya, Ketua Asosiasi Perusahaan jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) M. Kadrial meminta,  proyek PSO ditenderkan meskipun bisa saja peluang Posindo untuk memenangkan lelag lebih besar karena memilii infrastruktur yang kuat.

“Bisa saja Posindo menang. Tetapi jika ada tender hasilnya akan berbeda karena harga yang ditawarkan lebih kompetitif ketimbang ditunjuk langsung,” katanya.

Kadrial mengatakan, masyarakat tidak usah khawatir bila tender dimenangkan swasta, sebab jumlah anggota Asperindo mulai dari pusat sampai ke daerah  mencapai 954 perusahaan.

“Swasta juga mampu. Nanti kita lihat saja hasil kompetisinya,” katanya.

Dijelaskan, keuntungan lain yang diperoleh penghapusan monopoli adalah kemungkinan penurunan tarif pengiriman dokumen, misal surat biasa 1.500 bisa turun menjadi  1.100.

Asperindo juga berupaya agar ada pemisahan katagori pengiriman surat dengan dokumen penting, sebab kepentingannya berbeda. Pengiriman dokumen seperti BPKB jelas punya nilai ekonomi bila barangnya hilang di perjalanan, sedangkan surat tidak punya nilai ekonomi dan hanya tanggung jawab moril saja.[dni]