130609 Kinerja Telkom: Pemegang Saham Tidak “Happy” dengan Kinerja Manajemen

logo_telkomJAKARTA–Pemerintah sebagai pemegang saham mayoritas di PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) mengaku kurang happy dengan kinerja manajemen perseroan saat ini.

Kekecewaan itu ditunjukkan oleh pemerintah dengan mengalokasikan tantiem lebih rendah sebesar 27 persen ketimbang tahun lalu bagi jajaran manajemen.

Tantiem adalah penghargaan bagi jajaran direksi atas kinerjanya selama satu tahun.

“Memang secara kinerja jajaran manajemen dan komisaris berhasil mempertahankan sebagai salah satu yang terbaik di industri. Tetapi bagi kami itu tidak cukup,” ujar Deputi Pertambangan Industri Strategis, Energi dan Telekomunikasi Kementrian BUMN, Sahala Lumban Gaol di Jakarta, Jumat (12/6).

Dikatakannya, kondisi krisis ekonomi memang memaksa industri telekomunikasi mengalami penurunan secara kinerja. “Kemarin sempat turun. Manajemen menjanjikan akan berjuang lebih keras, karena itu masih diberi kesempatan,” katanya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah membantah kinerja Telkom tidak bagus selama dipegangnya. “Jika ingin membandingkan dengan industri sejenis, Telkom masih yang terbaik. Lihat saja salah satu indikator dimana EBITDA margin masih bisa mencapai 50-56 persen,” katanya.

“Jika dibilang tantiem turun, itu karena laba juga turun. Jadi, linear,” tambahnya.

Rinaldi mengungkapkan, faktor pemicu yang membuat kinerja Telkom turun adalah bisnis masa lalu yakni telepon tetap kabel yang cenderung menunjukkan penurunan. Sementara untuk jasa baru seperti broadband internet, teknologi informasi, dan seluler terus menunjukkan pertumbuhan.

“Itu adalah warisan dari masa lalu. Sekarang itu trennya ke mobile. Nah, bagaimana mengubah beban masa lalu menjadi peluang, itu yang sedang terus dikembangkan inovasinya. Salah satunya dengan triple play atau layanan data, video, dan suara,” jelasnya.

Belanja Modal
Selanjutnya Rinaldi mengungkapkan, perseroan masih menganggarkan belanja modal sebesar 21 triliun rupiah. Sebanyak 65 hingga 70 persen akan dipenuhi oleh dana internal dan sisanya dari perbankan.

Direktur Keuangan Telkom Sudiro Asno menambahkan, secara grup, Telkom membutuhkan pinjaman sebesar 8 hingga 9 triliun rupiah.

“Minggu depan sindikasi Bank yang dipimpin oleh BNI akan mengucurkan dua triliun rupiah,” katanya.

Ditegaskannya, Telkom grup tidak akan menerbitkan obligasi untuk belanja modal tahun ini. “Untuk tahun depan kemungkinan ada tetapi melihat situasi dulu. Rencananya aksi itu untuk memenuhi belanja modal tahun depan,” katanya.[Dni]

130609 Telkom Bagikan Dividen

logo_telkomJAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menetapkan untuk membagikan dividen tahun buku 2008 sebesar 296,94 rupiah  per saham atau 5,84 triliun rupiah.

Demikian antara lain hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan Telkom, yang berlangsung di Gedung Telkom,  Jakarta, Jumat.

Dividen tersebut setara dengan 55 persen dari laba bersih tahun buku 2008 sebesar 10,619 triliun rupiah.
Dividen tahun 2008 tersebut lebih rendah dibanding tahun sebelumnya sebesar 303,2 rupiah  per saham.

Sesuai ketentuan, dividen tersebut akan dibayarkan kepada pemegang saham pada 27 Juli 2009.

Selain dividen tuinai, perseroan juga akan mengalokasikan sebesar 4,87 triliun rupiah  untuk dana cadangan yang akan digunakan untuk pegembangkan perseroan,

“Telkom juga mengalokasikan dana sebesar Rp53,097 miliar untuk dana program Kemitraan atau sebesar 0,5 persen dari laba bersih,” kata Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah di Jakarta, Jumaat (12/6).

Rinaldi menegaskan, RUPST juga memutuskan tidak ada pergantian komisaris  dari Telkom.

Hal itu membuat masa jabatan komisaris Telkom, khususnya, Komisaris Utama, Tanri Abeng kembali diperpanjang hingga penyelenggaraan RUPS berikutnya.[Dni]

130609 Penambahan Armada Diserahkan Pada Merpati

pesawatJAKARTA–Regulator penerbangan menyerahkan sepenuhnya pengadaan armada kepada Merpati Nusantara Airlines, khususnya untuk pesawat jenis Xian dari China.

“Sebagai regulator teknis Dephub tidak bisa ikut campur. Itu bagian dari negosiasi business 2 business kedua perusahaan,” ujar  Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (12/6).

Jusman diminta komentarnya terkait digrounded-nya dua unit  pesawat keluaran Xian oleh Merpati.

Menurut Jusman, dari informasi yang didapat pihak Xian telah membawa komponen pesawat yang mengalami kerusakan ke China.

Komponen yang rusak adalah rudder atau sayap vertikal bagian belakang pesawat yang diduga mengalami keretakan(crack).

“Pihak China sudah melapor ke saya, mereka membawa benda tersebut untuk diteliti apakah benar terjadi kerusakan atau tidak, saat ini sedang diproses,” ujarnya.

Pesawat MA 60 yang telah datang ke Indonesia berjumlah dua unit. Jumlah tersebut  bagian dari 15 unit pesawat sejenis yang dipesan oleh Merpati dari Xian untuk mengisi armadanya.

Masih menurut Jusman,  langkah Merpati untuk men-ggrounded(tidak menerbangkan) dua pesawat tersebut adalah tindakan yang benar.

“Jangan sampai pesawat tersebut mengalami kecelakaan akibatkerusakan itu. Lebih baik digrounded,” tandasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Merpati, Bambang Bhakti mengungkapkan, maskapainya  telah menghentikan meng-groundedpesawat MA 60 buatan Xian Aircraft asal China menyusul kerusakan di rudder  belakang pesawat.

“Grounded dilakukan karena ada crack (retak) di bagian sayap belakang.

Menurut Bambang, penghentian penngoperasian sudah dilakukan sejak awal pekan ini karena kondisi fisik pesawat  sangat tidak memungkinkan untuk diterbangkan.

Bambang mengungkapkan,  akibat penghentian operasional pesawat itu, perusahaan mengalami pengurangan potensi pendapatan.

“Pasti bikin kerugian, yang seharusnya terbang kan sekarang tidak,” katanya.

Dua unit pesawat jenis MA 60 milik Merpati saat ini merupakan bagian dari 15 unit pesawat yang dipesan perusahaan dari Xian Aircraft Industry Company Ltd.Namun belakangan Merpati mengurangi jumlah pesanan karena harga jual Xian yang dinilai terlalu mahal.

Bahkan beredar kabar bahwa Merpati akan membatalkan perjanjian jual beli dengan Xian dengan alasan pesawat dipesan mengalami kerusakan alias cacat produk.

Namun Xian menolak permintaan Merpati karena sudah terikat kontrak.Akibatnya, Xian berencana menggugat perusahaan pelat merah itu sebesar satu triliun rupiah.[Dni]