110609 Jasa Logistik Tidak Perlu Khawatir dengan RUU Pos

JAKARTA—Asosiasi Perusahaan jasa Pengiriman Ekspres Indonesia (Asperindo) meminta  pengusaha jasa logistik tidak khawatir dengan pembahasan Rancangan Undang-undang Pos (RUU) Pos yang sedang berlangsung di DPR saat ini.

“Tidak ada yang harus ditakutkan oleh pelaku jasa usaha logistik dengan adanya RUU Pos tersebut. Pencantuman kata logistik dalam RUU tersebut karena sesuai dengan Universal Postal Organization (UPO) pos masuk dalam sub logitik,” ujar Ketua Asperindo M.Kadrial di Jakarta, Rabu (10/6).

Kadrial menegaskan, RUU tersebut diperlukan oleh Asperindo untuk memberikan ketegasan hukum bagi usahanya selama ini mengingat UU Pos yang berlaku selama ini merugikan pengusaha kecil dan menyuburkan monopoli oleh PT Pos Indonesia.

Dijelaskan, jika monopoli yang selama ini dinikmati oleh PT Pos dilestarikan, maka harga pengiriman dokumen yang murah tidak dinikmati oleh masyarakat. “Seandainya monopoli dihapuskan  kemungkinan penurunan tarif pengiriman dokumen, misal surat biasa 1.500 rupiah akan menjadi 1.100 rupiah,” katanya.

Disarankannya, penghapusan monopoli tidak harus berlaku saat RUU Pos diundangkan, tetapi diberikan tenggang waktu paling sedikit lima tahun ke depannya. Tenggang waktu tersebut bertujuan untuk memberi kesempatan PT Pos Indonesia  membenahi diri, sekaligus menyesuaikan diri dengan undang undang pos yang baru.

“Kami mengharapkan RUU itu bisa disahkan pada Agustus nanti. Jika dibiarkan berlarut-larut, kasihan dengan pelaku usaha di sektor ini yang umumnya usaha kecil dan menengah (UKM),” katanya.

Selanjutnya Kadrial mengatakan, hal lain yang harus dimasukkan dalam RUU Pos adalah masuknya pembatasan kepemilikan asing di sektor tersebut. “Sektor ini hanya membutuhkan modal sebesar 10 hingga 15 juta. Apakah ini membutuhkan investor asing.

Seharusnya ini menjadi domain Usaha Kecil dan Menengah (UKM),” katanya.

Dia meminta, pemerintah dan parlemen untuk tegas menyebutkan masalah kepemilikan asing dan tidak mencampuradukkan dengan referensi dari Kantor Menko Perekonomian yang menyebut perusahaan terdaftar di bursa lokal sebagai perusahaan Indonesia.

“Jangan sampai tafsir ambigu itu terjadi di sektor ini. Harus dicantumkan secara tegas masalah pembatasan kepemilikan saham itu,” katanya.

Sebelumnya, Gabungan Fowarder Penyedia Jasa Logistik & Ekspedisi Seluruh Indonesia (Gafeksi) secara tegas menolak RUU  tentang Pos yang digagas oleh Departemen  Komunikasi dan Informasi (Depkominfo).

Ketua umum Gafeksi Iskandar Zulkarnain menegaskan,  penolakan dan keberatan disampaikan khususnya terhadap frasa “layanan logistik” sebagaimana tercantum dalam pasal 1.1. : pasal 5 (1) c: pasal 5 (4).

Frasa tersebut dinilai  tak berpihak kepada rakyat yang bergerak dalam industri layanan logistik lainnya antara lain, bongkar muat dan pergudangan serta moda angkutan karena tidaka da pembatasan  bagi pelaku usaha layanan logistik yang tidak berada di bawah koordinasi Depkominfo.

Hal itu terjadi karena dalam RUU Pos itu, frasa “layanan logistik”-nya tak dibatasi ruang lingkup pada benda-benda atau barang pos. Padahal, saat ini Gafeksi   bersama sembilan asosiasi terkait layanan logistik di bawah koordinasi Menko Perekonomian sedang menyelesaikan konsep cetak biru logistik nasional.

Untuk diketahui,  saat ini di lapangan  ketentuan logistik dan perposan sudah terjadi tumpang tindih, khususnya implementasi Permenhub No. KM 10/1988 dan KM 5/2005.

Bab I pasal 1 butir 5 dalam KM 5/2005 tentang paket adalah kemasan yang berisi barang dengan maksimum berat 30 ribu kg. Jadi,  pengusaha jasa titipan dapat mengangkut paket seberat 30.000 kg atau setara dengan 30 ton, sebagaimana yang dilakukan pengusaha Jasa Pengurusan Transportasi (logistik).[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s