110609 Jaminan yang Mematikan

internet2Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) telah mengumumkan  harga dasar penawaran (Reserved Price) untuk tender frekuensi Broadband Wireless Access (BWA). Sejauh ini sekitar 10 dari 73 perusahaan yang menyatakan tertarik untuk mengikuti tender telah mengambil dokumen harga.

Keluarnya reserved price dari pemerintah yang mematok harga total  52.35 miliar rupiah untuk 15 zona bagi seluruh blok dipastikan akan membuat sebagian dari  peserta  surut langkahnya.

Faktor pemicunya selain harus menghitung  nilai bisnis  BWA yang harus berkompetisi dengan jasa sejenis, tentu masalah harus memasukkan  uang jaminan (bid bond) sebesar 10 persen dari nilai reserved price zona yang ditawar akan membuat peserta berfikir dua kali dalam mematok harga penawaran.

Hal ini karena jika salah-salah memberikan harga dalam dokumen penawaran, bisa-bisa bid bond melayang bersama lisensi yang tak bisa dikantongi. Bid bond  merupakan uang nyata yang harus ditaruh di perbankan nasional, tidak bisa digantikan dengan insurance bond maupun surety bond dari penyedia layanan asuransi.

Pernyataan ini merujuk pada hasil    anwijzing dimana  panitia lelang tidak mengizinkan  sama sekali  peserta  untuk mundur di tengah jalan ketika menjalani tender. Lelang sendiri diperkirakan akan selesai dalam tiga ronde.

Sebagai contoh, jika ada peminat yang ingin membidik  Zona 7 (Jawa bagian Timur) yang memiliki  reserved price sebesar 3.38 miliar rupiah  per 15 MHz. Penawar  harus menyediakan bidbond senilai 10 persen dari 3.38 miliar rupiah atau sebesar 338 juta rupiah untuk satu blok atau 676 juta rupiah untuk dua blok (30 MHz).

Dimisalkan, berdasarkan perhitungan model bisnis sang calon peminat,  maka perusahaan tersebut   akan mampu mentolerir pembayaran Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) berkisar antara 3.38 hingga  5 miliar rupiah. Maka pada   tahun pertama si penawar  harus mengalokasikan BHP frekuensi, upfront fee  hampir 10 miliar rupiah   dan tahun-tahun berikutnya sebesar 4.9 miliar per tahun.

Nah, seandainya si penawar ini hanya memiliki modal sebatas lima miliar rupiah, dan di ronde kedua ada kompetitor  menawarkan harga lebih tinggi, maka perusahaan itu harus meladeninya. Jika tidak, maka bid bond hilang. Konsep kuat-kuatan modal ini juga terjadi jika si penawar melewati ronde kedua hingga menjadi pemenang.

Konsep lelang inilah yang dinilai oleh para pegiat broadband sebagai pemicu   mahalnya jasa yang dijual nantinya karena setelah memenangkan alokasi frekuensi pun dalam tahun pertama masih ada  upfront fee, sumbangan USO,dan BHP  yang harus dikeluarkan. Padahal jasa belum dijual sama sekali.

“Mekanisme tersebut bisa diibaratkan monster bagi perusahaan yang memiliki modal cekak. Meskipun dari sisi negara terlihat mendapatkan keuntungan karena setoran Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP)  bisa tercapai. Tetap rakyat tidak bisa mendapatkan layanan murah karena pemenang harus mengembalikan modalnya,” jelas  SekJen Indonesia Wireless Broadband (Id-WiBB) Bambang Sumaryo Hadi, kepada Koran Jakarta, Rabu (10/6).

Pengamat telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono menyarankan, pemerintah menghilangkan konsep upfront fee untuk pemilik lisensi BWA dan diganti dengan escrow account. “Ini untuk menekan ‘uang hilang’ guna mendapatkan lisensi. Jika tidak dilakukan biaya ekonominya terlalu tinggi bagi calon pemenang yang benar-benar ingin mengembangkan broadband, kecuali kalau perusahaan itu ingin mengangkangi frekuensi,” katanya.

Sementara itu, Praktisi Telematika Suryatin Setiawan meminta pemerintah harus berfikir lebih inovatif dalam menggelar lelang. Misalnya dengan menerapkan konsep beli 2 zona, gratis satu zona.

“Zona gemuk seperti Jakarta akan menjadi rebutan. Tetapi bagaimana dengan zona kering seperti Maluku. Nah, ada baiknya jika dilelang dalam bentuk paket yang mensubsidi silang antar zona. ini  agar tujuan pemerataan aksesibilitas broadband tercapai,” katanya.

Menanggapi hal itu, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Iwan Krisnandi menegaskan, bid bond adalah upaya untuk menjaga keseriusan perusahaan yang mengikuti tender.

“Tender ini hanya diikuti oleh perusahaan yang serius menggelar BWA. Jika hanya ingin coba-coba, lebih baik tidak usah ikut. Aturan bid bond dibuat untuk memagari keseriusan itu,”katanya.

Berkaitan dengan dampak dari mekanisme tersebut yang bisa membuat harga frekuensi melonjak, Iwan mengatakan, hal itu resiko yang harus diterima dalam konsep lelang dimana penawar dengan harga terbaik yang menjadi pemenang.

Iwan mengatakan, dipilihnya mekanisme tersebut karena   pemerintah tidak ingin membuat kesalahan dengan memberikan lisensi gratis layaknya masa lalu. “Saat itu ada operator yang seperti memperdagangkan lisensi dan  pemerintah diprotes keras. Sekarang dibuat aturan seperti ini, salah lagi. Memang, tidak semuanya bisa happy jika satu regulasi dibuat, tetapi yang penting masyarakat dan negara tidak dirugikan,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, juru bicara Konsorsium Wimax Indonesia (KWI) Heru Nugroho menyatakan tidak keberatan dengan adanya bid bond. “Kami hanya kuatir ada pemain besar berani menawar dengan harga gila-gilaan. Jika sudah seperti ini frekuensi akan dikuasai oleh investor asing karena dibalik operator itu adalah investor luar negeri semua,” katanya.

KWI adalah konsorsium bentukan Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) yang terdiri atas 30 perusahaan dimana Rahajasa Media Internet (Radnet) ditunjuk sebagai pemimpinnya. Bagi APJII mendapatkan lisensi BWA masalah hidup dan mati mengingat selama ini kesulitan bersaing dengan operator yang memiliki jaringan dan ikut menjual jasa akses internet.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s