280509 Persaingan Usaha : Kala Interkoneksi Dijadikan Senjata

teleponKetika PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) meluncurkan jasa Sambungan Langsung Internasional (SLI) clear channel dengan kode akses 009 pada pertengahan April lalu, banyak kalangan sudah mewanti-wanti pemilik merek dagang Esia tersebut terkait  penetapan tarif yang kelewat berani.

“Harga yang ditawarkan BTEL terlalu berani. Bisa jadi dua pemain  (Telkom dan Indosat) akan enggan membuka interkoneksi,” ujar seorang praktisi kala itu.

BTEL membanting tarif SLI sebesar 77 persen ketimbang yang ditawarkan oleh kompetitornya. Strategi merusak pasar  ini berhasil dilakukan untuk jasa Fixed Wireless Access (FWA) melalui Esia dan diharapkan 009 mendapatkan hasil yang sama.

Namun, nasib berkata lain. Hal itu dapat dilihat dari molornya peluncuran SLI 009 yang seharusnya hadir pada Februari  2009 menjadi molor dua bulan kemudian. Semua itu tak bisa dilepaskan dari  lamanya pembukaan interkoneksi akibat tarif promosi BTEL.

Interkoneksi secara teknis diartikan sebagai  keterhubungan antarjaringan telekomunikasi originasi dan terminasi dari penyelenggara jaringan telekomunikasi yang berbeda. Faktor ini menjadi hal yang krusial bagi SLI 009 jika ingin menikmati kue tiga triliun rupiah dari nilai bisnis SLI setiap tahunnya.

Hal ini karena basis pelanggan dari BTEL baru sekitar 8 juta nomor. Sementara Telkomgrup mencapai 93 juta nomor dan Indosat mencapai sekitar 40 juta nomor. Jika interkoneksi  dibuka, BTEL mengharapkan pelanggan pesaing akan mencoba tarif murah SLI 009 meskipun ada pembagian keuntungan dengan pesaing.

Tetapi, negosiasi pembukaan interkoneksi tidaklah mudah. Indosat menetapkan syarat yang berat. Selain meminta bayaran kelewat mahal untuk set up billing sistem, operator tersebut mendesak BTEL tidak menerapkan tarif promosi selama tiga bulan pertama jika interkoneksi dibuka.

“Kenapa BTEL dilarang menerapkan tarif promosi? Ini kan namanya takut bersaing, karena secara implisit Indosat mengaku takut pendapatannya tergerus oleh 009,”ungkap  VP Intercarrier Bakrie Telecom Herry Nugroho, kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengancam, jika Indosat tidak mengubah persyaratannya akan melaporkan hal tersebut ke regulator. “Kita tunggu perkembangan terbaru. Target kami bulan Juni ini sudah selesai. Jika tidak ada perubahan, kami lapor ke regulator,” katanya.

Sementara itu, Direktur Penjualan Korporat dan Jabotabek Indosat Fadzri Sentosa mengatakan, hingga  saat ini   masih berkoordinasi secara intensif dengan  BTEL  mengenai berbagai hal, termasuk soal interkoneksi dan program promosi. “Kami berharap akan segera selesai dan segera ditindaklanjuti dengan PKS dalam waktu dekat ini,” katanya.

Pada kesempatan lain, Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah menegaskan, tidak ada masalah berkompetisi dengan pesaing lainnya dalam penyelenggaraan SLI. “Kami tidak takut dengan kompetitor karena itu interkoneksi dibuka asal memenuhi ketentuan teknis. Harus diingat, basis pelanggan Telkom paling besar dan tidak mudah menggoda mereka ke operator lain,” tuturnya.

Menciderai Kompetisi

Secara terpisah, Direktur Kebijakan & Perlindungan Konsumen, Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Kamilov Sagala, menilai tindakan yang dilakukan Indosat tersebut menciderai kompetisi sehat yang dibangun selama ini oleh industri.

“Indosat bisa dikatakan menggunakan ‘kekerasan’ karena menyalahgunakan alat produksinya terhadap BTEL. Tidak elok perusahaan sebesar itu menetapkan syarat yang tidak masuk akal dalam pembukaan interkoneksi,” tegasnya.

Kamilov mengingatkan, jika syarat pelarangan pemberlakuan tarif promosi dipaksakan, akan merugikan pelanggan Indosat karena tidak bisa merasakan tarif murah BTEL.

Kamilov meminta, regulator sebagai pemberi lisensi untuk turun tangan secara informal menengahi persengketaan tersebut. “Tidak bisa regulator hanya menunggu laporan. Meskipun secara prosedur menunggu laporan sengketa, masalah ini kan bisa diredam sebelum menjadi preseden. Regulator jangan seperti pemadam kebakaran,” tukasnya.

Menanggapi hal itu, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono mengatakan, pembukaan interkoneksi merupakan satu kewajiban dan dijamin dalam regulasi yakni Permen No 8/2006.

“Pembukaan itu dilakukan secara transaksi bisnis antarperusahaan dengan berpatokan kepada DPI.” Tidak bisa ditahan-tahan atau dijadikan  alat mematikan pesaing,” katanya.

Nonot melihat tindakan yang diambil oleh Indosat sebagai aksi kelabakan menghadapi pesaing dan tidak adanya kelengkapan mendesain model bisnis. “Sebenarnya pembukaan interkoneksi itu akan memberikan pendapatan karena ketika membangun jaringan sudah diatur untuk disewakan. Ini bukti Indosat kelabakan dalam berkompetisi,” katanya.

Menurut Nonot, munculnya aksi menahan pembukaan interkoneksi sebagai bukti tidak mendalamnya penetrasi telekomunikasi di Indonesia. “Itu buktinya penetrasi masih di situ-situ saja. Tidak ada pasar baru yang dibuka sehingga operator menjadi takut membuka interkoneksi, khawatir pelangganya diambil,” katanya.

Sementara itu, Anggota Komite BRTI Heru Sutadi menyayangkan tindakan dari BTEL yang membuka bahan negosiasi pembukaan interkoneksi  ke media massa. “Para petinggi BTEL jika di forum-forum suka bicara janganlah masalah yang masih ‘mentah’ diumbar di media massa. Kenapa pandangan yang bijaksana itu tidak bisa diterapkan ke diri sendiri?” sesal Heru.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s