200509 APJII Bentuk Konsorsium Bidik BWA

JAKARTA–Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) membentuk konsorsium yang terdiri dari 30 penyedia jasa internet (PJI) guna membidik lisensi pemanfaatan frekuensi Broadband Wireless Access (BWA).

“Kami memutuskan untuk maju dalam bentuk konsorsium dalam tender BWA yang sedang berlangsung saat ini. Perusahaan yang ditunjuk sebagai leader adalah Rahajasa Media Internet (Radnet),” ungkap juru bicara APJII Heru Nugroho di Jakarta, Selasa (19/5).

Dijelaskannya, Radnet telah terdaftar sebagai salah satu dari 73 perusahaan yang mengambil dokumen tender BWA. Dan jika nanti terpilih sebagai pemenang, akan dibentuk Badan Usaha dengan nama Konsorsium Wimax Indonesia (KWI).

“Radnet dipilih sebagai leader karena merupakan salah satu PJI paling senior di Indonesia,” katanya sambil menambahkan beberapa PJI yang ikut dalam konsorsium adalah Jalawave Cakrawala, Jasnita Telekomindo, dan Linknet.

Diungkapkannya, para anggota konsorsium telah menyediakan dana sebesar 300 juta dollar AS untuk berinvestasi di jaringan BWA selama lima tahun jika menjadi pemenang.

“Di tahun pertama untuk membangun jaringan akan disediakan dana sebesar 100 juta dollar AS. Sedangkan dana untuk menawar harga frekuensi di luar angka tersebut. Sekarang kami menunggu dulu harga dasarnya dari pemerintah,” katanya.

Anggota APJII John Sihar Simanjuntak menambahkan, konsorsium akan maju menawar semua zona dengan mengambil satu blok di setiap zona. “Kami realistis juga dengan kemampuan dana,” tuturnya.

Untuk diketahui, tender BWA sudah memasuki tahap penjelasan dokumen tender kedua. Rencananya frekuensi di spektrum 2,3 Ghz akan dilelang simana di setiap zona ada dua blok frekuensi atau sebesar 30 MHz.

Selanjutnya Heru menjelaskan, bersikerasnya APJII untuk membentuk konsorsium dan maju di tender BWA karena melihat teknologi Wimax akan menjadi jawaban dari peningkatan aksesibilitas bagi para PJI.

“Bagi PJI ini hidup atau mati. Kami tidak bisa lagi mengandalkan penyedia jaringan untuk memberikan aksesibilitas. PJI harus mandiri jika ingin bertahan,” katanya.

Secara terpisah, Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto menyambut gembira akhirnya PJI membentuk konsorsium dalam tender BWA.

“Sewajarnya memang harus dalam bentuk konsorsium. Soalnya membutuhkan dana yang besar untuk mengembangkan teknologi Wimax,” katanya.

Berkaitan dengan harga penawaran dasar dari frekuensi 2,3 GHz untuk 15 zona, Gatot mengungkapkan, nominal rupiah akan keluar pada Jumat (22/5).

“Nantinya nilai rupiah akan diberikan dalam bentuk amplop tertutup. Sekarang Postel sedang berdiskusi dulu dengan Depkeu untuk menentukan harga dasar,” jelasnya.

Sebelumnya, beredar kabar harga dasar penawaran tertinggi yang ditetapkan pemerintah untuk frekeunsi BWA di sepktrum 2,3 Ghz sebesar 32 miliar rupiah dan terendah 160 juta juta rupiah. Harga tertinggi diperkirakan akan dimiliki oleh zona Jabodetabek.[Dni]

200509 KCJ Investasi Rp 1,2 Triliun Kembangkan Jasa Kereta Api

JAKARTA – PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) membutuhkan, dana investasi sebesar 1,2 triliun rupiah  untuk mengembangkan jasa transportasi selama tiga tahun kedepan.

“Kami membutuhkan dana sebesar itu untuk    pengadaan gerbong kereta rel listrik (KRL) dan peningkatan layanan penumpang,” kata Dirut KCJ  Kurniadi Atmosasmito di Jakarta.

Diungkapkannya, pada tahun ini KCJ  akan membeli sebanyak 50 gerbong, berikutnya (200 gerbong), dan 400 gerbong pada 2012.

Namun Kurniadi tidak merinci alokasi dana yang akan disiapkan setiap tahunnya, karena tergantung situasi dan ketersediaan dana yang dibutuhkan.

“Saya tidak bisa ungkap, tetapi dana untuk setiap gerbong KRL mencapai 1,5 miliar rupiah,” katanya.

Dikatakannya,  untuk memenuhi kebutuhan dana tersebut selain dari internal perusahaan juga diupayakan dari pinjaman perbankan.”Sudah ada penjajakan dengan bank-bank pemerintah untuk memperoleh pinjaman,” katanya.

Sementara itu Direktur Korporasi Bank BNI Krishna Suparto membenarkan, pihaknya sudah melakukan pembicaraan dengan KCJ untuk membiayai investasi.”Dana yang akan kami pinjami akan digunakan untuk penambahan gerbong. Tinggal menunggu hasil studi kelayakan dari manajamen KCJ,” ujarnya.

Khrisna menambahkan, besar pinjaman BNI belum bisa ditentukan, karena komitmen investasi tersebut dalam bentuk konsorsium perbankan.Selain berencana mengucurkan pinjaman, BNI katanya, juga sudah melakukan kerjasama sistem layanan tiket elektronik (e-ticketing) dengan KCJ.

“Kita sudah siapkan infrastruktur e-ticketing sehingga memudahkan layanan bagi penumpang KCJ,” ujarnya.

Wilayah usaha jaringan operasi KCJ membentang sepanjang jalan rel yang menghubungkan Jakarta-Bogor, Jakarta-Bekasi, Jakarta-Tangerang, dan Jakarta-Serpong yang melingkari Jakarta dan sekitarnya sepanjang 150 klometer.

Terdiri atas jalur lingkar (Circuler Line) rute Jatinegara-Manggarai-Tanah Abang-Duri Kp Ambon-Pasar Senen-Jatinegara (29,738 km).Jalur Selatan (South Line) rute Bogor-Depok-Manggarai sepanjang 44,92 km Jalur tengah (central line) rute Manggarai-Gambir-Kota 9,89 km. Jalur Bekasi (Bekasi Line) rute Bekasi-Jatiinegara 14,802 km.Jalur Serpong (Serpong Line) rute Serpong-Tanah Abang 23,278 kmJalur Tangerang (Tangerang-Line) rute Duri-Tangerang 19,297 km.Jalur Tanjung Priok (Tanjung Priok Line) rute Tanjung Priok-Kota 8,115 km.

Pada tahun ini KCJ mengharapkan mengangkut 347 ribu penumpang.

“Selain menambah gerbong, KCJ juga akan memperbaiki stasiun-stasiun commuter di Jabodetabek,” ujar Kurniadi.

Sementara itu, Menneg BUMN Sofyan Djalil mendorong PT Kereta Api Indonesia (PT KA)  melakukan revitalisasi secara nasional demi meningkatkan citra dan layanan moda transportasi masal itu.

“Pemerintah dalam tiga tahun (2008-2010) mengusulkan kebutuhan anggaran 19,3 triliun rupiah untuk merevitalisasi PT KA. Dananya  berasal dari APBN dan kerjasama dengan swasta,” katanya.

Selanjutnya Sofyan menilai, potensi pendapatan dari KCJ sangat besar tercermin dari daya angkut yang cukup tinggi.

“Jika tahun ini  bisa mengangkut 347 ribu  penumpang per hari, adanya  peningkatan layanan ini diharapkan daya angkut bisa naik 10 kali lipat pada 2012,” katanya.[Dni]

190509 Telkomsel Kuasai Pasar Sumatera

logo-telkomselJAKARTA–Telkomsel berhasil menjadi penguasa jasa seluler di Pulau Sumatera pada kuartal pertama tahun ini dengan meraih 22 juta pelanggan.Posisi kedua dan ketiga ditempati oleh Indosat dan XL dengan 3,85 juta pelanggan.

“Kami mendapatkan tambahan 3 juta pelanggan pada kuartal pertama tahun ini. Hal itu membuat target tahun ini telah tercapai,” ujar Vice President Telkomsel Area Sumatera Mirza Budiwan, dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Mirza menjelaskan, pencapaian jumlah pelanggan tersebut didukung dengan upaya peningkatan kualitas jaringan, kualias layanan, serta memperluas cakupan layanan di wilayah itu.

Pelanggan Telkomsel di wilayah Sumatera tersebar di tiga wilayah yaitu regional Sumatera bagian Utara (Medan, Siantar, Sibolga, Tanjung Balai Asahan dan Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) sebanyak 8 juta pelanggan. Sumatera bagian Tengah (Riau Daratan, Riau kepulauan, Padang) 7 juta pelanggan, wilayah Sumatera bagian Selatan (Palembang, Bengkulu, Jambi, Pangkal Pinang, Bandar Lampung) sebanyak 7 juta pelanggan.

Telkomsel di Sumatera dilayani sekitar 7.750 menara radio pemancar (Base Transceiver Station/BTS)) termasuk 590 node b atau BTS 3GSecara terpisah, VP Area Sumatera XL Agus Simorangkir mengungkapkan, tingginya animo masyarakat Sumatera menggunakan jasa XL karena layanan data yang murah ditawarkan. “Jaringan di Sumatera lumayan besar membawa trafik data,” jelasnya.[Dni]