190509 Mengadu Peruntungan Melalui si “Badai”

bb-stormKetika Indosat meluncurkan BlackBerry (BB) lima  tahun lalu, banyak kalangan yang memandang sebelah mata. Hal ini karena pasar lokal kal itu  dianggap  belum membutuhkan jasa hasil besutan Research In Motion (RIM) dari Kanada itu.

“Indonesia masih butuh suara dan SMS.  Lihat saja, tak lama lagi juga akan hilang,” ujar seorang eksekutif operator papan atas kala itu.

Bahkan, untuk memberikan kesan ke masyarakat masih ada layanan push email selain BB,  Telkomsel  meluncurkan HaloVentus. Layanan ini diklaim lebih liberal ketimbang BB  karena tidak mensyaratkan handset khusus keluaran RIM.

Namun, mulai tahun lalu pasar berubah. Pukulan penurunan biaya interkoneksi membuat operator mengalihkan pandangannya ke jasa data. Dan  BlackBerry merupakan salah satu jasa yang dipilih sebagai mainan oleh operator.

Semua itu dapat dilihat dengan munculnya penawaran BB secara prabayar dan harian. Skema ini tak pelak membuat penggunaan BB di Indonesia melesat hingga tiga kali lipat dari sebelumnya. Tercatat, hingga sekarang terdapat sekitar 280 ribu pengguna BB di Indonesia.

Adanya permintaan yang tinggi tentu menjadikan operator semakin bersemangat menjual BB. Lihatlah aksi tiga pemilik hak eksklusif dengan RIM (Telkomsel, Indosat, dan XL) belakangan ini. Para operator terkesan seperti berbalas pantun setiap melepas seri terbaru dari handset BB.

Terbaru adalah aksi dari Indosat dan Telkomsel dalam melepas  BlackBerry Storm. Indosat yang telah cuap-cuap sebelumnya dengan melakukan pre-launch, ternyata disalip oleh Telkomsel dalam menjual handset yang memiliki fitur unggulan layar tekan melalui teknologi  surepress itu.

Padahal, Storm sendiri tidak memiliki nilai penjualan yang luar biasa di luar negeri. Bahkan, ponsel yang digadang-gadang sebagai pesaing iPhone itu tidak mampu berbicara banyak di pasar dunia.

Namun tidak demikian di mata operator lokal. Mereka berkeyakinan si “Badai” akan berubah nasibnya di Indonesia. “Pasar Indonesia ini unik. Dan sebagai mitra dari RIM, kami ingin menyediakan semua jenis perangkat secara lengkap,” ujar GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana, di Jakarta akhir pekan lalu.

Nirwan mengungkapkan,  untuk tahap awal telah  memesan dua ribu unit si Badai ke RIM. Dan ketika dilakukan penjualan komersial pertama pada Jumat (15/5) lalu, sebanyak 100 unit “Badai” terjual.

Menanggapi aksi dari Telkomsel, Indosat seperti kelabakan. Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro menegaskan, anak usaha Qatar Telecom (Qtel) itulah tetap sebagai pembesut pertama si “Badai” di Indonesia. “Kami kan sudah membuka pre order bulan lalu. Dua ribu pelanggan sudah terdaftar. Masalah dijual secara resmi itu kan hanya menunggu momen saja,” katanya.

Indosat tercatat memesan 5 ribu  unit  ke RIM. Sedangkan XL yang sudah melakukan riset di lapangan, mencoba realistis dengan hanya memesan 800 unit dan penjualan tidak seheboh dilakukan Indosat dengan membuka aksi pre order.

Telkomsel menjual si “Badai” dengan banderol   6,99 juta rupiah  dengan bonus satu bulan berlangganan BlackBerry Internet Service (BIS). Sementara Indosat “memaksa” pemilik badai menggunakan jaringannya selama satu tahun dengan mematok harga bundling  8,5 juta rupiah.

Layanan Pelanggan

Secara terpisah, praktisi telematika Ventura Elisawati mengungkapkan, ada pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan oleh operator terkait dengan penjualan BB. PR itu adalah layanan purna jual baik untuk pelanggan yang membeli di operator atau  pasar bebas.

“Pelanggan yang membeli di pasar bebas terlepas itu barang Black Market (BM) atau tidak telah menggunakan jaringan dari operator. Nah, belakangan ini terjadi  suspend Personal Identification Number (PIN) oleh RIM. Jika terjadi hal semacam itu  kemana harus mengadu,” katanya.

Kabar beredar mengatakan suspend PIN dilakukan oleh RIM untuk memberikan pelajaran kepada pengguna barang BM untuk membeli barang dari mitra resmi. Jika BB telah di-suspend, maka BB tidak ubahnya seperti ponsel batangan yang hanya bisa digunakan untuk basic telephony. Sedangkan kemampuan datanya hilang sama sekali.

Berdasarkan catatan, barang BM penjualannya memang dominan di pasar. Hampir 70 persen BB yang beredar di pasar adalah barang BM. Semua ini tak bisa dilepaskan dari adanya layanan BB prabayar dan harian yang membuat pelanggan tidak membutuhkan administrasi rumit seperti pertama kali dijual.

Ventura mendesak, sudah saatnya RIM membuka service center atau kantor perwakilan di Indonesia karena pasar lokal sangat menjanjikan. “Fenomena PIN di-kloning dan barang BM itu banyak terjadi di Indonesia. Permintaan tinggi, operator kewalahan menghadapinya. Tidak bisa Rim ongkang-ongkang kaki alias lepas tangan dengan fenomena ini,” katanya.

Anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi mengatakan, telah membuka komunikasi dengan RIM belum lama ini, khususnya berkaitan fenomena suspend sepihak oleh perusahaan Kanada itu belum lama ini.

“Kita akan minta RIM mengikuti aturan main di sini. Tidak bisa main jual lepas tanpa ada layanan purna jual. Diskusi intensif akan dilakukan tak lama lagi,” katanya.

Ya, mendesak RIM untuk memperhatikan pasar Indonesia dengan membuka pusat layanan purna jual atau jika perlu pabrik adalah PR yang harus diselesaikan oleh tiga operator yang telah menjalin kerjasama dengan perusahaan tersebut. Rasanya aneh sebagai pemilik pasar keempat terbesar di dunia, Indonesia masih saja didikte oleh satu perusahaan dan tidak punya kekuatan apa-apa selain sebatas sebagai “penjual” produk yang baik.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s