150509 Dives Telkom Targetkan Pendapatan Tumbuh 10%

logo_telkomJAKARTA:Divisi Enterprise Service (Dives) milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menargetkan meraih pendapatan  sebesar 8,25 triliun rupiah atau tumbuh 10 persen ketimbang tahun lalu dengan perolehan 7,5 triliun rupiah.

Dives hingga kini sudah memiliki 6 ribu perusahaan yang menjadi mitranya dari sektor industri keuangan dan perbankan, pemerintahan dan keamanan, manufaktur, pertambangan dan konstruksi, perdagangan dan kawasan industri, serta perdagangan.

Asisten Vice President Business Solution Telkom Natal Iman Ginting mengungkapkan, selama ini pelanggan korporasi berkontribusi 25 persen bagi total  pendapatan perseroan.

“Jika jasa wholesale berupa sewa jaringan dimasukkan kontribusi itu bisa meningkat menjadi 51 persen dari pembukuan unconsolidated,” katanya di Jakarta, Kamis (14/5).

Berdasarkan catatan, Telkom meraih pendapatan sebesar  63,74 triliun rupiah pada 2008 atau meningkat 2,5 persen ketimbang tahun sebelumnya.

Menurut dia, pertumbuhan sebesar 10 persen untuk segmen korporasi di masa krisis sekarang sudah hal yang luar biasa karena banyak sektor industri yang terpukul.

“Kami mencari celah di sektor yang tidak terpukul. Misalnya perbankan. Salah satu peluang di segmen BPR, karena itu kita keluarkan Infinet,” katanya.

Infinet adalah layanan solusi ICT end to end yang dirancang untuk perbankan. Solusi ini hasil koloborasi Telkom dengan anak usahanya Sigma dan Finnet.

“Solusi ini membuat BPR tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk jaringan Teknologi Informasi. Cukup berlangganan 3-12,5 juta per bulan, BPR sudah bisa memberikan layanan perbankan layaknya bank-bank besar,” kata Presiden Direktur Sigma Djarot Subiantoro.

Djarot mengatakan, saat ini sudah ada tiga BPR yang menggunakan solusi Infinet. Ditargetkan hingga akhir tahun nanti akan ada 50 dari 2 ribu BPR di Indonesia  yang menggunakan inovasi tersebut.

“Pasar solusi IT di Indonesia itu hanya perlu kreativitas. Karena itu Sigma masih berani menargetkan pertumbuhan pendapatannya sebesar 50 persen tahun ini,” jelas Djarot.

Sigma yang belum lama diakuisisi oleh Telkom itu,  pada tahun lalu berhasil meraih pendapatan sebesar 30 juta dollar AS.[Dni]0 dari 2 ribu BPR di Indonesia yang menggunakan inovasi tersebut. “Pasar solusi IT di Indonesia itu hanya perlu kreativitas. Karena itu Sigma masih berani menargetkan pertumbuhan pendapatannya sebesar 50 persen tahun ini,” jelas Djarot. Sigma yang belum lama diakuisisi oleh Telkom itu, pada tahun lalu berhasil meraih pendapatan sebesar 30 juta dollar AS.[Dni]

140509 KPPU Tingkatkan Tahap Pemeriksaan Carrefour

JAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) meningkatkan tahapan pemeriksaan dugaan praktik monopoli  oleh PT Carrefour Indonesia pada tingkatan pemeriksaan  lanjutan seusai melakukan sidang pleno Rabu (13/5) siang.

“Hasil pleno memutuskan kasus Carrefour ini ditingkatkan ke pemeriksaan lanjutan. Ini membutuhkan 60 hari plus 30 hari kerja dan dilanjutkan dengan sidang majelis,” ujar Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi kepada Koran Jakarta, Rabu (13/5).

Menurut dia, setelah melakukan pemeriksaan awal selama 30 hari dugaan meningkatnya posisi tawar Carrefour pasca akuisisi supermarket Alfa semakin kuat dan mengakibatkan kerugian di pihak lain.

Bahkan, jika sebelumnya Carrefour diganjar dengan pasal 17 dan 25 dari UU No 5/99 tentang persaingan tidak sehat, dari pemeriksaaan awal dua pasal ditambahkan ke raksasa ritel dari Perancis itu.

Kedua pasal tambahan adalah pasal 20 tentang larangan predatory pricing atau menjual rugi dan pasal 28  tentang larangan melakukan penggabungan atau peleburan badan usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

  1. Sedangkan pasal 17 berisi tentang pelarangan menguasai alat produksi dan penguasaan barang yang bisa memicu terjadinya praktik monopoli. Dan pasal 25 ayat 1 berisi    tentang posisi dominan dalam menetapkan syarat-syarat perdagangan dengan tujuan untuk mencegah dan atau menghalangi konsumen memperoleh barang dan atau jasa yang bersaing, baik dari segi harga maupun kualitas.

”Penambahan dua pasal itu karena dari pemeriksaan awal memang ditemukan bukti kuat terpenuhinya kedua unsur pasal tersebut,” katanya.

Sebelumnya, KPPU menduga Carrefour telah melakukan monopoli karena menguasai pangsa pasar lebih dari 50 persen pasca akuisisi supermarket Alfa terutama di pasar hulu.

Pangsa pasar Carrefour diduga naik dari 44 persen menjadi 66 persen di pasar hulu. Pasar hulu yang dimaksud adalah hubungan antara Carrefour dengan pemasok yang diartikan penyewaan lahan berikut syarat perdagangannya (trading term).
Sementara itu, di sisi hilirnya (pasar konsumen) Carrefour juga  mengalami peningkatan pangsa pasar dari 36 persen menjadi 48 persen pasca akuisisi.
Direktur Urusan Komunikasi Perusahaan Carrefour, Irawan Kadarman menolak dugaan praktik monopoli yang ditudingkan oleh KPPU karena selama ini mengacu pada perundangan yang berlaku yakni permendag tentang trading term.[dni]