140509 Meneliti Dampak Program Mulia

Bagi regulator teknis untuk industri telekomunikasi di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, keberhasilan menggelar tender Universal Service Obligation (USO) pada awal tahun lalu   dianggap sebagau  presetasi yang luar biasa.

Bagaimana tidak, setelah sempat tersendat karena adanya kasus hukum sebagai konsekuensi  membatalkan tender serupa  pada dua tahun lalu, akhirnya program mulia untuk membuka akses telekomunikasi di puluhan ribu desa itu berjalan juga meskipun sejauh ini baru lima paket pengerjaan yang ketahuan pemenangnya.

Lima paket pengerjaan tersebut  dilaksanakan oleh Telkomsel sebagai pemenang tender dan dilakukan kick off-nya pada pertengahan Mei nanti.”Tepatnya pada 20 Mei bersamaan dengan hari Kebangkitan Nasional akan dilakukan test call pertama dari program USO,” ujar Menkominfo Mohammad Nuh di Jakarta, belum lama ini.

Untuk diketahui, USO rencananya akan menjamah 31.824 desa dari 32 provinsi. Jumlah ini menyusut 6.647 dari sasaran tender sebelumnya, yaitu 38.471 desa di seluruh
Indonesia. Hal itu karena ada beberapa wilayah perdesaan yang telah terjangkau layanan seluler dan dikategorikan sebagai skema USO.

Adapun pagu anggaran paket untuk penggelaran telepon perdesaan mencapai sebesar 814, 82 miliar rupiah dalam bentuk tujuh paket pekerjaan, yang mencakup 11 blok wilayah pelayanan universal telekomunikasi (WPUT). Pagu tersebut dianggap sebagai
bagian dari pembiayaan kegiatan penyediaan jasa akses telekomunikasi untuk lima tahun.

Program USO sendiri sebenarnya pernah dijalankan pemerintah   pada 2003 dan 2004   di beberapa desa tertinggal dimana pelaksananya diantaranya dilakukan oleh Pasific Satelit Nusantara (PSN) dan  Sampoerna Telecommunication Indonesia. Namun, pelaksanaan ini dianggap gagal karena pemenang  hanya menyediakan perangkat telekomunikasi di daerah tanpa memikirkan pelayanannya.

“Saat itu kita mencoba membuka akses telekomunikasi di sekitar lima ribu desa. Tetapi bisa dibilang program itu gagal karena tidak adanya sustainability,” ujar Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar.

“Rendahnya kontinuitas karena sistim pendanaan menggunakan pola birokrasi anggaran. Ini yang diperbaiki dengan sistim baru. Kita ubah polanya, sekarang pemenang tender yang menyediakan jaringan, pemerintah cukup jadi bohirnya saja,” tambahnya.

Dampak

Guna menyakini bahwa langkah yang diambil sudah tepat, tak tanggung-tanggung, Nuh meminta Telkomsel menggandeng tiga universitas ternama yakni ITB, ITS, dan Unair untuk meneliti dampak dari program mulia ala Indonesia itu.

“Ada pakem yang diyakini oleh peneliti telekomunikasi di dunia.  Jika satu persen penetrasi telekomunikasi akan meningkatkan tiga persen pendapatan kotor satu negara. Nah, jika ingin membuktikan itu benar, di USO ini adalah pembuktiannya,” kata Dirut Telkomsel Sarwoto Atmosutarno.

Nuh menambahkan, untuk membuktikan kebijakan pemerintah sudah di rel yang benar maka sampel penelitian akan dilakukan di daerah-daerah terpencil. Setiap universitas akan  mengambil sampel 15 desa di wilayah USO. Penentuan kabupaten, kecamatan, dan desa didasari tiga faktor, yakni jarak lokasi dari BTS, keterpencilan, dan tipologi wilayah.

Penelitian tersebut bakal dibagi dalam tiga tahap, yakni sebelum jasa akses USO digelar, saat USO sudah mulai berlangsung dan dapat digunakan oleh masyarakat pedesaan, serta tahap pasca implementasi jasa akses USO. Perubahan yang akan dilihat meliputi sisi ekonomi, sosial, budaya, dan politik.

Menurut Nuh, adanya penelitian itu akan memberikan manfaat   bagi operator yakni,  untuk mengetahui gambaran pengembangan pasar telekomunikasi berdasarkan karakteristik geografis, ekonomi, dan sosial budaya.

Berikutnya, manfaat bagi masyarakat untuk mengetahui gambaran tentang tingkat kebutuhan telekomunikasi yang dapat mendukung kemajuan wilayahnya.

Terakhir, manfaat bagi pemerintah, untuk mengetahui dampak program USO terhadap perkembangan sosial-budaya, ekonomi, dan perilaku komunikasi masyarakat, sehingga dapat dijadikan sebagai masukan kebijakan pemerataan pembangunan di sektor telekomunikasi.

“Pemerintah sendiri berdasarkan hipotesis awal sudah menetapkan USO akan  mendukung dua tujuan teknologi informasi dan komunikasi di tanah air, yakni e-education dan e-health. Nah, apa hipotesis itu akan terbukti, kita tunggu saja hasil penelitian dari teman-teman kampus,” katanya.[dni]

140509 PTUN Kalahkan Pemda Badung

sinyal btsJAKARTA—Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Denpasar, mengalahkan Pemerintah daerah (Pemda) kabupaten Badung, Bali, dalam kasus perobohan menara telekomunikasi milik Indonesia Tower pada awal tahun ini.

“Keputusan dari pengadilan baru saja keluar kemarin. Ini kemenangan bagi demokrasi dan industri,” ujar Direktur Utama Indonesia Tower Sakti Wahyu Trenggono kepada Koran Jakarta, Rabu (13/5).

Dikatakannya, dalam putusan yang diambil oleh pengadilan dinyatakan surat pembongkaran dan perubuhan tiga menara milik Indonesia Tower dibatalkan. “Semua tuntutan kami terhadap Pemda dikabulkan. Pemda diberikan kesempatan untuk banding 14 hari setelah putusan diambil. Jika tidak ada upaya hukum, berarti putusan itu inkrah,” katanya.

Untuk diketahui, Pemda Badung merubuhkan tiga  menara pemancar telekomunikasi   milik Indonesia Tower yang disewa sebagai menara bersama oleh Telkomsel, XL, Mobile-8 Telecom, dan Natrindo Telepon Seluler (Axis). Indonesian Tower menaksir menanggung kerugian sekitar  dua  miliar rupiah  untuk setiap menara yang dirubuhkan. Hal ini karena dari setiap menara tersebut, perusahaan  itu  mendulang pendapatan sekitar 84 juta rupiah per bulannya.

Secara terpisah, Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengatakan, putusan tersebut harus menjadi pembelajaran bagi pejabat daerah dalam mengambil kebijakan terkait penataan menara telekomunikasi. “Sekarang sudah ada Surat Keputusan Bersama (SKB) yang dikeluarkan. Para pejabat harus mengacu pada regulasi itu dalam membuat kebijakan. Tidak bisa lagi berjalan sendiri yang berujung pada berpolemik di pengadilan,” katanya.

Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Dian Siswarini mengharapkan, keluarnya putusan tersebut akan membuat operator memiliki jaminan dalam melakukan ekspansi jaringan sehingga pelayanan terhadap pelanggan tetap terjaga kualitasnya.[dni]

140509 Jalan Berliku Bagi Mobile Entertainment

ngetik-smsBelum lama ini konsultan bisnis Frost & Sullivan memaparkan tentang hasil penelitiannya terhadap industri telekomunikasi di Asia Pasific untuk kurun waktu 2007-2014.

Hasil penelitian menemukan pada tahun lalu terdapat sekitar 1,8 miliar pengguna jasa telekomunikasi atau tumbuh 22,4 persen ketimbang tahun sebelumnya  di 18 negara di kawasan Asia Pasifik.

Data juga menunjukkan Average Revenue Per Users (Arpu) dari pengguna di Asia Pasifik berada di sekitar dua hingga tiga dollar AS dan cenderung menurun secara gradual sebesar 25 persen hingga 2014.

Sedangkan kontribusi terbesar bagi pendapatan operator di 18 negara tersebut masih dari jasa suara yakni sebesar 73,4 persen. Namun, seiring penetrasi 3G yang tumbuh (2008, 9,2%) diyakini pada 2014 kontribusi suara akan menurun menjadi 62,9 persen.  Saat itu diperkirakan ponsel dari pengguna akan memiliki kemampuan koneksi internet sebesar 47 persen.

Membesarnya penggunaan ponsel yang memiliki kemampuan data tersebutlah diyakini menggerus kontribusi jasa suara. Pada 2007 saja, pendapatan dari mobile data mencapai 49,93 miliar dollar AS. Dan empat tahun dari sekarang diperkirakan akan mencapai 24,6 persen dari total pendapatan jasa seluler sebesar 140,9 miliar dollar AS.

Frost & Sullivan memperkirakan di masa datang jasa mobile data yang akan berkibar adalah premium konten dari mobile entertainment seperti mobile graphic, mobile games, mobile music, dan mobile video. Hal ini bergeser dari tren selama ini dimana aplikasi pesan yang menjadi penyumbang utama untuk mobile data yakni mencapai 57,6 persen dari total pendapatan.

Pada 2007 total pendapatan dari mobile entertainment mencapai 29,09 miliar dollar AS dan empat tahun dari sekarang angka itu bisa melesat mencapai 75,65 miliar dollar AS. Sedangkan di Indonesia diperkirakan nilai pasar dari mobile entertainment hingga 2013 nanti mencapai 443 juta dollar AS.

Anomali

Frost & Sullivan boleh saja memberikan data yang renyah dan manis ke hadapan pelaku industri telekomunikasi, tetapi tanggapan yang dingin justru diperlihatkan oleh para praktisi.

“Di Indonesia ini kondisinya banyak anomali dengan yang terjadi di luar negeri. Masih jauhlah masanya Indonesia menjadikan mobile entertainment sebagai penggerak pendapatan,” ujar VP Vas and New Services Development XL I Made Harta Wijaya kepada Koran Jakarta, Rabu (13/5).

Menurut dia, jika mengacu pada data yang dipaparkan oleh lembaga tersebut dimana tren ke depan adalah mobile video, musik, dan TV yang akan menjadi primadona penyumbang pendapatan jasa mobile data, maka di Indonesia situasi itu masih jauh untuk menjadi kenyataan.

Hal ini karena perilaku dari masyarakat Indonesia berbeda dalam menggunakan ponsel. “Masyarakat Indonesia itu tidak suka mantengin ponsel lama-lama. Mana ada pelanggan yang rela melihat TV lama-lama via ponsel,” katanya.

Senada dengan Made, Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro mengatakan jika kondisi makro ekonomi masih seperti sekarang maka kontribusi dari mobile data tidak lebih dari lima persen bagi total pendapatan operator. “Saat ini Value Added Services (VAS) itu dimana mobile entertainment masuk di dalamnya hanya sebesar itu. Tren empat tahun ke depan itu tetaplah basic telephony (Suara dan SMS),” katanya.

Guntur mengatakan, selain kendala pada perilaku masyarakat dari sisi infrastruktur pun operator masih banyak mengalami keterbatasan. “Paparan tersebut mengatakan penetrasi 3G akan mencapai 49 persen. Nah, sekarang dengan harga frekuensi selangit bagaimana angka itu dicapai. Padahal, syarat untuk mobile entertainment itu koneksi harus seamless,” katanya.

Konten Lokal

CEO Elasitas Andy Zain mengatakan, melihat kondisi yang terjadi di Indonesia sekarang mobile data yang akan bisa menjadi andalan bagi penyedia konten adalah jasa jejaring sosial dan Users Generated Content (UGC).

UGC adalah konten yang mendorong  pengguna menjadi produsen   dan kontennya pun bisa secara gratis dinikmati oleh pengguna lainnya.  Contoh nyata dari  aplikasi tak berbayar di dunia maya adalah mikrobloging (contoh,twitter) yang merangsang orang untuk memproduksi konten melalui  SMS.

“Indonesia adalah pengguna terbesar untuk situs pertemanan seperti Friendster atau  Facebook. Padahal inisiator dari situs tersebut tidak kenal Indonesia sebelumnya. Ironis, sekali,” katanya.

Dikatakannya, melihat tingginya peluang dari  situs jejaring sosial, penyedia konten lokal harus mulai berani menawarkan ke pengguna untuk membuat jejaring sosial lokal ala Indonesia. “Jika belum mampu hingga tahap seperti itu bisa dengan berkolaborasi dengan jejaring sosial luar negeri itu dengan memasukkan konten lokal seperti peta rumah makan Indonesia dan lainnya,” katanya.

Menurut Andy, kondisi infrastruktur telekomunikasi Indonesia yang masih timpang memang membutuhkan lebih banyak konten lokal agar trafik tidak lari ke bandwitdh internasional. “Kondisi ideal di Indonesia itu adalah mampu menyediakan konten dengan bandwitdh yang kecil tetapi penggunaanya sering. Facebook melalui aplikasi mobile-nya mampu melakukan itu dan terbukti disenangi pengguna,” katanya.

Senior Advisor Beoscope.com Suryatin Setiawan mengakui, perilaku masyarakat Indonesia yang suka bersosialisasi memang menjadi peluang dibuatnya jejaring lokal ala Indonesia. “Kami rencananya akan meluncurkan jejaring sosial lokal ini. sudah saatnya kalau kongkow untuk Indonesia, menggunakan bandwitdh lokal. Kenapa harus muter dulu ke luar negeri melalui Facebook. Itu kan pemborosan,” katanya.

Sementara Direktur Melsa Net Heru Nugroho menambahkan, selain jejaring sosial peluang juga terdapat di mobile games. “Saat ini sudah ada beberapa games hasil buatan anak bangsa. Tingginya penggunaan jasa entertainment itu tak dapat dilepaskan dari kondisi masyarakat yang haus hiburan di tengah situasi krisis sekarang,” jelasnya.

Praktisi Telematika Gunadi Dwi Hantoro mengatakan, kondisi yang dialami oleh operator 3G saat ini dimana banyaknya pelanggan mengakses situs luar negeri tidak memberikan keuntungan bagi perusahaan.

“Jika kondisinya seperti sekarang jangan harap ada keuntungan diraih operator 3G. Soalnya mereka harus membayar bandwitdh internasional. Karena itu, meskipun pengguna BlackBerry meningkat, yang paling untung prinsipalnya. Sedangkan operator hanya dapat gengsi dan  sedikit keuntungan,” jelasnya.

Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI) Indra Utoyo mengatakan, untuk membangun konten lokal di Indonesia yang dibutuhkan adalah menumbuhkan ekosistem industri dengan memberikan stimulus berupa insentif pajak, keringanan biaya penyelenggaraan,   fasilitasi akses ke infrastruktur pengembangan dan  produksi, serta eksposure ke pasar. “ Selain itu para pemain juga membutuhkan regulasi yang sehat,” katanya.[dni]

140509 Lintasarta Tawarkan Contact Center

lintasartaJAKARTA—Dalam rangka meningkatkan kontribusi segmen perbankan bagi pendapatan perseroan, PT. Aplikanusa Lintasarta menawarkan solusi Contact Center bagi industri tersebut.

Contact Center merupakan layanan customer service yang terdiri dari multichannel, baik melalui telepon, sms, web chat, VoIP, dan email.

”Kami menyediakan dua buah layanan untuk contact center antara lain InBound Call dan Outgoing Call” ujar   Manager Pengembangan Produk Lintasarta Indra Yana, di Jakarta, Rabu (13/5).

Inbound Call merupakan layanan kontak masuk ke perusahaan berupa product support dan penanganan komplain pelanggan. Sedangkan, Outgoing Call merupakan layanan kontak ke customer berupa telemarketing, promo produk, debt collection dan tele survey.

Dijelaskannya,  untuk memberi kemudahan kepada pelanggan, implementasi layanan Contact Center juga dapat juga dilakukan secara full outsource kepada Lintasarta. Dengan demikian Lintasarta akan bertanggung jawab dalam menyiapkan fasilitas dan infrastruktur call center, agent, pengelolaan operasional harian hingga laporan rutin. ”Jadi perusahaan cukup menyediakan database customernya, CRM dan penjelasan produknya. Pengelolaan penuh menjadi tanggung jawab kami,” katanya.

Selain dilakukan dengan metode full outsource, implementasi layanan Contact Center juga dapat dilakukan langsung oleh perusahaan. Jika metode ini yang dipilih,  Lintasarta hanya menyediakan infrastruktur call center dan opsional nomor telpon, toll free, premium call dan sms. Sedangkan pelanggan menyiapkan agent customer service dan sistem databasenya.

Indra menambahkan Contact Center Lintasarta memiliki diferensiasi dibanding layanan sejenis yaitu contact center Lintasarta menggunakan software base solutions. Dimana  seluruh fungsi utama dari contact center  (ACD, IVR, CTI, administration & Reporting, Recording) berada dalam satu sistem yang sama. Sehingga proses delivery dan integrasi dengan aplikasi atau database bisa dilakukan dengan lebih cepat.[dni]

140509 Indonesia Idealnya Miliki Empat POI

Ridwan_Pasfoto 001JAKARTA—Industri telekomunikasi disarankan hanya memiliki empat Point Of  Interconnection (POI) guna menghemat biaya berkomunikasi dan meningkatkan pelayanan bagi masyarakat.

“Saat ini semua operator memiliki POI dan berbasis pulau. Ini membuat tarif berkomunikasi masih mahal, khususnya jika antarzona,” ujar Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) M. Ridwan Effendi kepada Koran Jakarta, Rabu (13/5).

Dikatakannya, jika melihat kondisi geografis dari Indonesia, empat POI secara terintegrasi cukup dipasang di Sumatera, Jawa (mencakup Bali), Kalimantan (mencakup Sulawesi), dan Papua. Hal ini berbeda dengan kondisi saat ini di mana setiap operator memiliki POI yang membuat mahal di sisi investasi.

“Ini akan menjadikan hierarki panggilan  lebih cepat dan tentunya menghemat biaya berkomunikasi,” jelasnya.

Dijelaskannya, hierarki panggilan adalah regional, provinsi, kabupaten, dan kecamatan. Jika dengan POI yang berlaku seperti sekarang misal diletakkan di Jakarta. Ketika pelanggan operator A menelpon operator B meskipun sama-sama di Jakarta, rute yang dilalui adalah Sambungan langsung Jarak Jauh (SLJJ).

“Nah, yang harus dicari itu solusinya bagi operator. Jika semua POI dintegrasi akan ada korban yakni incumbent karena semua STO harus di-update. Tetapi, jika dipertahankan seperti sekarang pelanggan juga dirugikan. Harus dicari solusi terbaiknya,” jelasnya.[dni]

130509 Pemerintah Tetap Geber Infrastruktur KA

kereta-apiJAKARTA —Pemerintah akan tetap menggeber pembangunan infrastruktur Kereta Api (KA) di berbagai daerah meskipun krisis ekonomi masih terjadi.

“Pembangunan harus tetap berjalan karena dana sudah dialokasikan dan sebagian proyek sudah ada yang diminati investor,” ujar Dirjen Perkeretapian Departemen Perhubungan Tunjung Indrawan di Jakarta, Selasa (12/5).

Beberapa proyek yang akan dimulai pelaksanaan pembangunan pada tahun ini adalah perkeretapian Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang menelan dana APBN sebesar 32,3 miliar rupiah dan perekeratapian Sumut yang memerlukan investasi APBN senilai 125 miliar rupiah.

Kedua jalur ini dalam rangka mewujudkan jalur trans Sumatera. Disamping itu jalan rel lintas utama Sumatera akan ditingkatkan kualitasnya yang menelan biaya 92 miliar rupiah. Peningkatan kualitas juga akan terjadi di jalur Jawa.

Selain itu pembangunan KA Bandara Soekarno-Hatta dan Kualanamu juga akan digeber untuk diselesaikan pada tahun ini. disamping pengembangan KA Batubara Sumatera bagian Selatan dan Kalimantan Tengah.

“Untuk di Sumatera itu akan mulai pelaksanaanya pada tahun ini,” katanya.

Dikatakannya kendala yang dihadapi dalam pengembangan sarana KA adalah pada pimpinan daerah masing-masing yang telah memiliki rencana masing-masing sehingga untuk mengintegrasikannya menghadapi kendala.

“Seharusnya untuk pembangunan sarana itu harus duduk bersama. Jadi pembiayaan itu bisa dihemat,” katanya.

Berkaitan dengan pembangunan dari KA Bandara Soetta dimana hanya ada dua pemiant yakni Railink dan Mitsui. Sedangkan untuk memenuhi ketentuan peraturan tender yakni Perpres 67/2005 dimana harus ada tiga peserta, Tunjung mengatakan, pemerintah akan melakukan tender kembali. “Jika tidaka dajuga peminat, maka pemerintah akan membangun prasarana, sedangkan sarana akan ditenderkan,” katanya.

Menurut Tunjung, menurunnya animo investor pada KA bandara karena ada jalur tol baru ke bandara Soetta sehingga membuat potensi penumpang seandainya KA dioperasikan menjadi turun.[dni]

130509 Pemilik Saham XL akan Suntik Dana US$ 600 Juta

xl-35JAKARTA—Pemilik saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akan menyuntikkan dana sebesar 300 hingga 600 juta dollar AS ke operator ketiga terbesar di Indonesia itu pada semester kedua nanti untuk menutupi biaya hutang dan investasi perseroan.

“Kami sudah mendapatkan kepastian dari pemilik saham akan ada aksi korporasi tersebut. Sekarang mereka (pemilik saham) sedang membahas pola injeksinya,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Selasa (12/5).

Saat ini saham XL dikuasai oleh Axiata Group Berhad melalui Indocel Holding Sdn Bhd (83,8%), Etisalat melalui Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) International Indonesia Ltd (16%), dan publik (0,2%).

Diungkapkan Hasnul, pada kuartal pertama tahun ini perseroan mengalami kerugian bersih sebesar 306 miliar rupiah akibat depresiasi rupiah terhadap dollar AS dan bertambahnya hutang berbunga yang menimbulkan kerugian selisih kurs (realized and unrealized) sekitar 643 miliar rupiah serta beban bunga pinjaman sebesar 383 miliar rupiah.

“Kami sudah melakukan hedging, tetapi kerugian masih ada. Jika tanpa pengaruh selisih kurs yang belum terealisasi, normalized net income bsa mencapai 14 miliar rupiah,” katanya tanpa menyebut hedging di rupiah dalam kisaran berapa.

Hasnul mengatakan, patokan dollar yang digunakan untuk menghitung kerugian  dalam kisaran 11.575 rupiah. Namun, adanya penurunan nilai rupiah yang mencapai 10.575 rupiah seharusnya bisa membuat perseroan untung 400 miliar rupiah. “Bagi kami jika rupiah menguat seribu rupiah setiap bulannya, itu bisa membuat perseroan untung 700 miliar rupiah per tahun,” katanya.

Hasnul menegaskan, secara operasional kinerja dari perseroan masih dalam jalur yang tepat. Hal itu terlihat pada pencapaian pendapatan usaha sebesar 2,926 triliun rupiah atau tumbuh 10 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Tumbuhnya pendapatan usaha   karena outgoing minutes naik 263 persen atau 19.9 miliar menit.

XL pada kuartal pertama tahun ini meraih 24,9 juta pelanggan atau meningkat 39 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Meskipun secara perkuartal terjadi penurunan pelanggan mengingat pada kuartal keempat 2008 XL berhasil mendapatakan 26 juta pelanggan, Hasnul menjelaskan, strategi penghangusan nomor yang tidak aktif merupakan bagian dari menekan fenomena calling card.

“Calling card mulai membebani penjualan. Hampir 35 persen dari penjualan itu didominasi pelanggan yang hanya mengincar bonus kartu perdana. Ini tidak sehat bagi operasional,” jelasnya.

Berkaitan dengan penurunan  EBITDA pada periode kuartal pertama sebesar 1,113 miliar rupiah atau turun sebesar dua persen ketimbang periode yang sama tahun lalu, Hasnul menjelaskan, hal itu akibat perubahan kebijakan perseroan terhadap penyedian menara telekomunikasi.

“Jika sebelumnya XL membangun menara sendiri, sekarang kami menyewa. Ini membuat pencatatan berubah dari depresiasi menjadi biaya,” katanya.

Hasnul mengatakan, dari pendapatan penyewaan menara mengalami peningkatan sebesar 682 persen dari 18 miliar rupiah pada kuartal pertama 2008  menjadi 142 miliar rupiah pada periode kuartal pertama tahun ini. “Kami menyewakan 3.478 lokasi menara. Sedangkan terkait penjualan menara masih menunggu situasi ekonomi membaik,” katanya.

Direktur Keuangan Willem Lucas Timmermans menjelaskan, pada bulan lalu XL menandatangani perjanjian pinjaman tahap kedua dengan Export Credit Agency (EKN) dari Swedia senilai 214 juta dollar AS untuk pembelian peralatan Ericsson dari Swedia dan Indonesia , dimana 124 juta dollar AS telah telah dicairkan pada akhir bulan Maret.

Pada pertengahan bulan April, XL juga membeli kembali obligasi dollar AS sebesar 3,6 juta dollar AS dengan kupon 7,125 persen guarateed notes yang akan jatuh tempo pada 2013, dikeluarkan oleh Excelcomindo Finance Company B.V, menjadikan total nominal obligasi sekitar 124 juta dollar AS.

Sedangkan hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan oleh XL pada Juli dan Oktober nanti sebesar 30 juta dollar AS ke EKN dan pada Desember ke Bank Mandiri sekitar 400 miliar rupiah.[dni]

AKARTA—Pemilik saham PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) akan menyuntikkan dana sebesar 300 hingga 600 juta dollar AS ke operator ketiga terbesar di Indonesia itu pada semester kedua nanti untuk menutupi biaya hutang dan investasi perseroan. “Kami sudah mendapatkan kepastian dari pemilik saham akan ada aksi korporasi tersebut. Sekarang mereka (pemilik saham) sedang membahas pola injeksinya,” ungkap Presiden Direktur XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, Selasa (12/5). Saat ini saham XL dikuasai oleh Axiata Group Berhad melalui Indocel Holding Sdn Bhd (83,8%), Etisalat melalui Emirates Telecommunications Corporation (Etisalat) International Indonesia Ltd (16%), dan publik (0,2%). Diungkapkan Hasnul, pada kuartal pertama tahun ini perseroan mengalami kerugian bersih sebesar 306 miliar rupiah akibat depresiasi rupiah terhadap dollar AS dan bertambahnya hutang berbunga yang menimbulkan kerugian selisih kurs (realized and unrealized) sekitar 643 miliar rupiah serta beban bunga pinjaman sebesar 383 miliar rupiah. “Kami sudah melakukan hedging, tetapi kerugian masih ada. Jika tanpa pengaruh selisih kurs yang belum terealisasi, normalized net income bsa mencapai 14 miliar rupiah,” katanya tanpa menyebut hedging di rupiah dalam kisaran berapa. Hasnul mengatakan, patokan dollar yang digunakan untuk menghitung kerugian dalam kisaran 11.575 rupiah. Namun, adanya penurunan nilai rupiah yang mencapai 10.575 rupiah seharusnya bisa membuat perseroan untung 400 miliar rupiah. “Bagi kami jika rupiah menguat seribu rupiah setiap bulannya, itu bisa membuat perseroan untung 700 miliar rupiah per tahun,” katanya. Hasnul menegaskan, secara operasional kinerja dari perseroan masih dalam jalur yang tepat. Hal itu terlihat pada pencapaian pendapatan usaha sebesar 2,926 miliar rupiah atau tumbuh 10 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Tumbuhnya pendapatan usaha karena outgoing minutes naik 263 persen atau 19.9 miliar menit. XL pada kuartal pertama tahun ini meraih 24,9 juta pelanggan atau meningkat 39 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu. Meskipun secara perkuartal terjadi penurunan pelanggan mengingat pada kuartal keempat 2008 XL berhasil mendapatakan 26 juta pelanggan, Hasnul menjelaskan, strategi penghangusan nomor yang tidak aktif merupakan bagian dari menekan fenomena calling card. “Calling card mulai membebani penjualan. Hampir 35 persen dari penjualan itu didominasi pelanggan yang hanya mengincar bonus kartu perdana. Ini tidak sehat bagi operasional,” jelasnya. Berkaitan dengan penurunan EBITDA pada periode kuartal pertama sebesar 1,113 miliar rupiah atau turun sebesar dua persen ketimbang periode yang sama tahun lalu, Hasnul menjelaskan, hal itu akibat perubahan kebijakan perseroan terhadap penyedian menara telekomunikasi. “Jika sebelumnya XL membangun menara sendiri, sekarang kami menyewa. Ini membuat pencatatan berubah dari depresiasi menjadi biaya,” katanya. Hasnul mengatakan, dari pendapatan penyewaan menara mengalami peningkatan sebesar 682 persen dari 18 miliar rupiah pada kuartal pertama 2008 menjadi 142 miliar rupiah pada periode kuartal pertama tahun ini. “Kami menyewakan 3.478 lokasi menara. Sedangkan terkait penjualan menara masih menunggu situasi ekonomi membaik,” katanya. Direktur Keuangan Willem Lucas Timmermans menjelaskan, pada bulan lalu XL menandatangani perjanjian pinjaman tahap kedua dengan Export Credit Agency (EKN) dari Swedia senilai 214 juta dollar AS untuk pembelian peralatan Ericsson dari Swedia dan Indonesia , dimana 124 juta dollar AS telah telah dicairkan pada akhir bulan Maret. Pada pertengahan bulan April, XL juga membeli kembali obligasi dollar AS sebesar 3,6 juta dollar AS dengan kupon 7,125 persen guarateed notes yang akan jatuh tempo pada 2013, dikeluarkan oleh Excelcomindo Finance Company B.V, menjadikan total nominal obligasi sekitar 124 juta dollar AS. Sedangkan hutang jatuh tempo yang harus dibayarkan oleh XL pada Juli dan Oktober nanti sebesar 30 juta dollar AS ke EKN dan pada Desember ke Bank Mandiri sekitar 400 miliar rupiah.[dni]