120509 XL Kaji Keikutsertaan : Palapa Ring, Nasibmu Kini

satelitSebuah pesan singkat tiba-tiba masuk ke ponsel Koran Jakarta pada Jumat, pekan lalu. Isinya lumayan mengagetkan. “XL mundur dari Palapa Ring. Boleh dicek keabsahannya,” ujar si pengirim pesan yang enggan disebutkan namanya.

Penasaran dengan isi dari pesan tersebut, Koran Jakarta langsung mengonfirmasikan isi pesan tersebut pada juru bicara Konsorsium Palapa Ring yang juga  Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi.

Pria yang akrab dipanggil RJ itu tidak berani mengonfirmasikan kebenaran dari isu tersebut. “Satu hal yang pasti, selama ini tim XL selalu mengikuti rapat yang dilakukan oleh konsorsium. Tetapi saya memang mendengar adanya isu tersebut. Sebaiknya dicek langsung ke manajemen XL,” ujar RJ.

Titik terang dari kebenaran isu tersebut baru didapat pada Minggu (11/5),  melalui sambungan telepon dengan Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi. Urang awak itu secara diplomatis mengakui saat ini manajemen sedang mengaji keikutsertaan di konsorsium yang mengerjakan proyek senilai 150 juta dollar AS itu.

“Manajemen memang sedang mengaji masalah keikutsertaan di konsorsium tersebut. Tidak benar jika diputuskan XL mundur dari konsorsium. Yang ada kita sedang mengaji pola keikutsertaan,” ujar Hasnul.

Dikatakan Hasnul, kebijakan itu diambil oleh manajemen karena diperkirakan pada kuartal pertama tahun ini anak usaha dari Telekom Malaysia (TM) itu akan kembali mengalami kerugian   setelah pada tahun lalu merasakan  rugi sebesar 15 miliar rupiah.

“Krisis ekonomi membuat manajemen harus berhitung dalam mengeluarkan uang. Ada beberapa pola yang sedang dipersiapkan untuk tetap berpartisipasi dalam Palapa Ring diantaranya ikut setelah pembangunan dimulai atau mengambil sebagian kontribusi milik salah satu peserta nantinya,” jelasnya.

Sebelumnya, pada pertengahan Maret lalu Direktur Keuangan XL Willem Lucas Timmermans menegaskan, perseroan sudah mengalokasikan sebagian dana untuk berkontibusi di Palapa Ring. “Pembayaran di Palapa Ring itu tidak harus dibayar semuanya di depan. Ada term of payment. Kalau polanya seperti itu, XL masih mampu,” katanya.

Namun, kala itu Willem sudah memberikan sinyal tahun ini arus kas dari perseroan akan tetap negatif mengingat kerugian dari selisih kurs masih terjadi. “Prediksinya tahun depan baru arus kas XL positif. Saat itu EBITDA akan lebih besar dari Capex,” tuturnya..

Untuk diketahui, Palapa Ring merupakan megaproyek  membangun tulang punggung (backbone)   serat optik internasional yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di KTI.

Setiap cincin nantinya akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten.  Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik pita  lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1.000 Gbps di daerah tersebut.

Proyek ini sebelumnya  membutuhkan biaya sekitar 225 juta dollar  AS untuk membangun  35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable). Setelah adanya krisis ekonomi, nilai investasi mengerut menjadi 150 juta dollar AS dan panjang dari serta optik yang dibangun pun tinggal setengahnya.

Awalnya proyek tersebut akan dibangun enam perusahaan yang tergabung dalam suatu konsorsium Palapa Ring. Keenam   perusahaan itu berikut persentasi keikutsertaannya adalah  PT Bakrie Telecom Tbk (13,3 persen), PT Excelcomindo Pratama Tbk (13,3 persen), PT Indosat Tbk (13,3 persen), PT Infokom Elektrindo (termasuk PT Mobile-8 Telecom Tbk sebesar 6,3 persen), PT Powertek Utama Internusa (representasi Linbrooke Worldwide Ltd sebesar 10 persen), dan   porsi sisanya diambil PT Telkom.

Namun, dalam perkembangan terakhir, dua perusahaan (Infokom Elektrindo dan Powertek Utama Internusa) mengundurkan diri sehingga menyisakan empat operator telekomunikasi mengerjakan proyek tersebut. Dan jika manajemen XL mengambil langkah mundur dari  konsorsium, maka Palapa Ring hanya menyisakan tiga operator telekomunikasi.

Hal yang ditakuti adalah jika langkah yang diambil oleh XL diikuti oleh dua operator yakni  Indosat dan Bakrie Telecom. Semua ini bisa terjadi karena  kondisi keuangan keduanya  sedang tertekan akibat kerugian kurs. Jika hal itu benar terjadi, bisa dipastikan Palapa Ring akan menjadi  rencana indah dari pemerintah yang tak kunjung terwujud.

Padahal, konsorsium saat ini sedang bernegosiasi  dengan harga yang ditawarkan oleh tiga vendor kabel optik peserta tender proyek. Ketiga vendor itu adalah   NEC Corporation, NSW Fujitsu, dan Alcatel-Lucent.

Lantas bagaimana sikap dari pemerintah? Menkominfo Mohammad Nuh menegaskan, Palapa Ring tetap berjalan meskipun ada anggota yang berguguran.

“Kita bisa membuka kesempatan bagi peserta baru yang berminat untuk masuk konsorsium. Saya masih yakin proyek ini akan berjalan pada tahun ini, beberapa direktur operator sudah memiliki komitmen. Tidak sejengkal pun ada keinginan untuk mundur dari proyek ini,” tegasnya.

Secara terpisah, Praktisi Telematika dari lembaga Thinking Out Of The Box Eddy Setiawan mengatakan, banyaknya perusahaan yang mundur dari konsorsium Palapa Ring karena  feasiblility bisnisnya banyak dipertanyakan dan   model implementasi yang tidak lazim.

Jika merujuk pada pernyataan tersebut tentunya yang dimaksud adalah ketika membangun  Palapa Ring yang dijadikan backbone dilakukan secara konsorsium, tetapi untuk last mile, diserahkan pada masing-masing anggota. Padahal, membangun  last mile lebih mahal dan susah ketimbang  membangun backbone.

Sebelumnya, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto PS mengatakan, melihat perkembangan terakhir dari Palapa Ring, pemerintah  sebaiknya turun tangan langsung sehingga   efektivitasnya lebih terjamin.

Jika diserahkan kepada pelaku usaha tentunya business plan yang dimiliki masing-masing manajemen   akan sangat menentukan. Seandainya   merugikan, bukan hal yang aneh ada yang mengundurkan diri.

“Fungsi pemerintah antara lain  mengambil alih tugas-tugas yang tidak bisa atau tidak sanggup dilaksanakan oleh swasta, seharusnya dana Universal Service Obligaton (USO) dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan jasa telekomunikasi terutama di non profit area seperti KTI,” katanya.

Menurut Setyanto, proyek tersebut tidak akan molor jika pemerintah memiliki komitmen menyelesaikannya. “Dulu saat peluncuran satelit Palapa tida ada nilai ekonomisnya. Tetapi pemerintah kala itu melihat keuntungan kesejahteraanya. Harusnya pemerintah sekarang berpola pikir seperti itu,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s