120509 Evaluasi Kinerja Kuartal I : Saatnya Penghapusan Dosa

grafik-lontBelum lama ini dua operator besar telah mengumumkan kinerja keuangannya selama kuartal pertama tahun ini. Kedua operator itu adalah PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Indosat Tbk (Indosat).

Tercatat, BTEL pada kuartal pertama 2009 membukukan laba bersih sebesar 5,7 miliar rupiah atau anjlok sekitar 79 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu dengan raihan  27,4 miliar rupiah.

Segendang sepenarian dengan BTEL, Indosat pun mengalami pukulan pada laba bersihnya. Pada kuartal pertama tahun ini operator yang sahamnya dikuasai oleh Qatar Telecom itu  hanya mencatat laba bersih  107,9 miliar rupiah atau anjlok sekitar  82,4 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu sebesar 613,9 miliar rupiah.

Jika ditarik benang merah dari kinerja kedua operator itu pemicu tergerusnya laba bersih perseroan akibat kerugian kurs yang mereka derita sebagai konsekuensi memiliki belanja modal atau hutang dalam bentuk dollar AS.

Sedangkan PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) memperkirakan akan mengalami hal serupa dengan kedua operator di atas bahkan diperkirakan akan meneruskan kerugian yang dialaminya layaknya tahun lalu.

Pada 2008,  XL mengalami kerugian sebesar 15 miliar rupiah  akibat  kombinasi antara incidental charges dan provisi-provisi, serta juga perkembangan nilai tukar yang kurang menguntungkan  menjelang tutup tahun.

 

Hal yang mengagetkan adalah terungkapnya penghapusan nomor yang dilakukan oleh dua operator besar yakni Indosat dan XL. Indosat menghapus 3,2 juta nomor miliknya sehingga pada kuartal pertama hanya tersisa 33,3 juta pelanggan dari 36,5 juta pelanggan pada akhir 2008.

 

Sementara XL menghapus satu juta pelanggannya yang menjadikan anak usaha Telekom Malaysia itu hanya memiliki  25,1 juta nomor dari sebelumnya 26,1 juta pelanggan. Kebijakan penghapusan nomor juga diambil oleh Mobile-8 Telecom Tbk (Mobile-8) yang sedang kesulitan keuangan.

 

Mobile-8 menghapus 300 ribu nomor miliknya sehingga jumlah pelanggan dari operator pemilik merek dagang Fren dan Hepi itu menyusut menjadi 3,2 juta nomor pada kuartal pertama tahun ini.

 

Penambahan pelanggan hanya menjadi milik Telkomsel yang berhasil menambah enam juta pelanggan baru pada kuartal pertama tahun ini. Hal ini membuat jumlah pelanggan Telkomsel melesat menembus 71,3 juta pelanggan pada periode tersebut.

 

Jika Telkomsel berhasil menambah pelanggan secara fenomenal, maka TelkomFlexi dan BTEL  hanya menambah pelanggan secara gradual. Tercatat, pada kuartal pertama tahun ini BTEL dan Flexi hanya berhasil menambah 700 ribu pelanggan baru.

 

Penambahan itu membuat jumlah pelanggan BTEL menjadi  8 juta pelanggan, sedangkan  TelkomFlexi meningkat menjadi 13,4 juta pelanggan.

 

Seleksi Pelanggan

Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi menjelaskan, sebenarnya penghapusan nomor tersebut sebagai bagian dari strategi manajemen untuk menyeleksi pelanggan yang dimilikinya.

 

“Sebenarnya tidak banyak pelanggan lama yang dihanguskan. Nomor yang dihanguskan itu adalah pelanggan tipe calling card yang mendominasi hampir 35 persen dari penjualan kartu perdana XL,” katanya kepada Koran Jakarta, Senin (11/5).

 

Dijelaskannya, pelanggan tipe calling card adalah yang menjadikan kartu perdana layaknya kartu panggil dimana hanya ingin menikmati bonus tanpa ingin melakukan isi ulang pulsa. “Untuk mengurangi tipe pelanggan seperti ini terpaksa XL menurunkan suplai kartu perdana di pasar. Jika suplai berkurang, diharapkan pelanggan calling card berubah menjadi pelanggan setia,” katanya.

 

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S. Siboro mengatakan, tak dapat dipungkiri  jumlah sim card di pasar jauh lebih besar ketimbang jumlah pelanggan. Ketika situasi makro kurang baik maka jumlah sim card cenderung menurun.

 

Menurut Guntur, situasi banjir sim card itu hanya menguntungkan produsennya, sedangkan di sisi operator yang terjadi adalah gali lubang tutup lubang. Kerugian paling parah dialami negara karena nomor diboroskan.

 

“Indosat tidak mau menjalankan strategi itu. Kami sekarang sedang menjalankan strategi   mencari pelanggan aktif bukan penjualan  sim card,” katanya.

 

Berkaitan dengan kinerja industri secara keseluruhan pada kuartal pertama, Guntur mengatakan, kuartal pertama adalah masa penjualan terendah dalam siklus tiga bulanan. Penjualan tertinggi adalah pada Ramadan, diikuti liburan sekolah, dan akhir tahun.

 

“Pada kuartal kedua ini mungkin ada kenaikan karena ada Pemilihan Presiden dan masuk libur sekolah. Sedangkan Pemilu Legislatif kemarin tidak memberikan dampak signifikan,” tegasnya.

 

Sementara Direktur Korporasi Mobile-8 Telecom Merza Fachys menjelaskan, penghapusan nomor dari sistem database operator  dalam rangka efisiensi. Setiap operator mempunyai kebijakan tenggang waktu yang berbeda kapan sebuah nomor yang  tidak aktif boleh dihapus untuk di- recycle,” katanya.

 

Menurut Merza,   recycle sangat riskan terhadap kepuasan pelanggan, maka periode penghapusan dibuat  senyaman mungkin yakni bisa lebih lama dari waktu operator lainnya. “Kita harus yakin nomor itu sudah dilupakan oleh kerabat pemilik lama agar tidak ada panggilan salah sambung ke pemilik baru.  Masalah  recycle  ini lebih penting  di operator FWA karena block number yang tersedia  sudah sangat sempit dan terbatas,” katanya.

 

Kosmetik Angka

  1. Pada kesempatan lain, Praktisi Telematika Ventura Elisawati mengatakan, bukan rahasia lagi adanya praktik ingin tampil ‘cantik’ pada akhir tahun terjadi di setiap operator. Sejumlah upaya dilakukan untuk mencapai tujuan itu seperti   di akhir tahun melakukan  program promosi agar pelanggan tetap tercatat tetap “aktif”   pada 31 Desember.

 

“Makna dari program itu  memperpanjang masa aktif dan masa tenggang. Setelah memasuki awal tahun, terjadilah seleksi alam.  Yang riil pelanggan bertahan, sedangkan yang semu  berguguran. Ibaratnya pada kuartal pertama ini masanya penghapusan dosa dari program promosi akhir tahun itu,” jelasnya.

 

  1. PHK di sejumlah industri berpengaruh terhadap daya beli layanan telephony.

 

Hal ini membuat tawaran murah tak lagi bisa jadi magnet pemikat. “Masyarakat mulai sadar, murah sana- sini, kualitas yang diberikan sama saja alias tidak memuaskan.  Akhirnya sebagian pelanggan memilih tetap di operator pilihannya atau  tak lagi berpindah layanan hanya untuk mengejar tawaran promosi,” katanya.

 

Menanggapi  tudingan kosmetik angka itu, Wakil Direktur Bidang Pemasaran Bakrie Telecom Erik Meijer menegaskan,  selama ini tidak pernah menggelembungkan jumlah pelanggan.

 

“Kami tidak pernah menggelembungkan jumlah pelanggan dengan memaksa dealer mengaktifkan nomor. Karena itu raihan pelanggan BTEL tumbuh stabil. Semua sesuai fakta,’ tegasnya.

 

Guntur mengatakan, tudingan itu tidak pantas dialamatkan ke Indosat karena selama ini perusahaan harus mencari pelanggan aktif untuk menumbuhkan pendapatan. “Saya kan sudah bilang Indosat secara reguler menghanguskan nomor yang tidak aktif. Saya justru melihat fenomena itu terjadi di operator kecil dimana nomor tidak dimatikan sehingga jumlah pelanggannya terakumulasi terus,” elaknya.

 

Sementara Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, hal yang wajar Telkomsel mendapatkan tambahan pelanggan yang besar karena masyarakat sekarang lebih mencari layanan yang berkualitas. “Masa perang tarif sudah usai. Sekarang kita bicara kualitas layanan. Dan Telkomsel mampu memberikan layanan yang berkualitas di samping strategi pemasaran fokus pada segmen komunitas,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s