680 Operator Tawarkan TV Berbayar Ilegal

televisiJAKARTA—Asosiasi Penyelenggara Multimedia Indonesia (APMI) memperkirakan terdapat  680 operator televisi berbayar yang menawarkan langganan secara ilegal ke 1,4 juta   rumah tangga di seluruh Indonesia . Padahal,  pelanggan yang berlangganan secara legal hanya sebesar 800.000 rumah tangga.

Fenomena berlangganan konten premium secara ilegal telah terjadi sejak tujuh tahun lalu dengan  rata-rata biaya yang dikenakan operator ilegal kepada pelanggannya sebesar 30.000 rupiah  per bulan. Siaran-siaran premium asing yang diminati masyarakat adalah  HBO, CNN, dan ESPN.

“Jika nilai tersebut dikalikan 1,4 juta pelanggan berarti pendapatan yang diraup dalam sebulan mencapai 49 miliar rupiah,” kata Sekjen APMI Arya Mahendra  di Jakarta, Kamis (7/5).

Dia memaparkan pertama kali operator ilegal mulai berdiri di sebagian wilayah Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan dan terus berkembang ke daerah Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Kalimantan tengah, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jambi dan Batam.

“Operator ilegal ini tidak perlu mengeluarkan biaya besar pada investasi awal mereka cukup menyediakan dekoder untuk satu saluran dan ongkos untuk menarik kabel ke rumah-rumah yang akan menjadi pelanggannya,” ujarnya kemarin.

Dia mencontohkan di Balikpapan ada operator ilegal yang memiliki pelanggan sampai 45.000 rumah tangga. Namun, operator tersebut tidak secara langsung melayani ke 45.000 pelanggan tadi tapi mereka menyalurkannya lagi ke operator-operator kecil di bawahnya untuk kemudian didistribusikan ke rumah-rumah.

Dia menuturkan,  dari 680 operator ilegal sekitar 30-nya merupakan operator besar. Investasi yang dikeluarkan oleh operator besar ini bisa mencapai 500 juta rupiah. Orang-orang yang membuka usaha ini bisa dibilang sebagai pengusaha besar yang memiliki kemampuan dana.“Di beberapa daerah pun ada peraturan daerah [Perda] yang mengatur usaha tersebut.” katanya.

Direktur Utama Telkomvision Rahardi Arsyad membantah angka fenomenal tersebut .”Memang ada yang berlangganan secara ilegal tetapi tidak sefenomenal itu. Paling banter  300 hingga 400 ribu pelanggan,” katanya.

Rahardi mengakui, sebagai penyelenggara TV berbayar legal tidak bisa melawan harga yang ditawarkan oleh operator ilegal.”Paling banter kita hanya memperkuat sistem jaringan,” katanya.

Cara lain adalah melegalkan lima konten yang paling diminati oleh pelanggan agar tidak ilegal dengan menarik bayaran lebih tinggi sedikit dari yang ditawarkan oleh operator ilegal.”Kita ajak mereka (operator ilegal) berbicara baik-baik. Kita terpaksa mengalah dengan para operator itu. Yang penting masih membayar dengan harga yang wajar,” katanya.

Dirjen Sistem Komunikasi dan Diseminasi Informasi Depkominfo Freddy Tulung mengatakan, negara dirugikan dalam pemasukan pajak dari praktik ini. ”Tetapi yang paling berat, citra Indonesia sebagai negara pembajak makin bersinar saja,” katanya.

Luncurkan Satelit

Selanjutnya, Arya yang juga menjabat sebagi Sekretaris perusahaan  Media Citra Indostar (MCI) mengatakan, tetap meluncurkan satelit Indostar II dengan biaya investasi sebesar 100 juta dollar AS walau operator ilegal bersiliweran dan krisis ekonomi masih menghantui.

” Penambahan satelit ini akan meningkatkan jumlah pilihan tayangan televisi menjadi 150 kanal dari sebelumnya hanya 54 kanal,” ujarnya.

Satelit Indostar II akan menambah jumlah transpoder menjadi 10 unit. Satelit ini diklaim berkapasitas dua kali lipat dibandingkan dengan generasi sebelumnya, dengan kemampuan melayani hingga 120 channel teknologi MPEG-2 serta 140 channel teknologi MPEG-2 dan MPEG-4.

Kehadiran satelit yang diluncurkan pekan depan ini akan diikuti dengan perubahan teknologi dari MPEG-2 ke MPEG-4. MCI juga memperkenalkan siaran high definition (HD) untuk memuaskan pelanggan yang memiliki perangkat televisi dengan teknologi tersebut.

MCI optimistis pelanggan Indovision bisa meningkat menjadi 1 juta pelanggan pada akhir tahun ini dari total saat ini sekitar 580.000 pelanggan.[dni]

080509 Telkomsel Tingkatkan Kapasitas Jaringan

JAKARTA–Telkomsel meningkatkan kapasitas jaringannya untuk wilayah Jawa-Makassar-Ambon-Papua hingga 930 Mbps dalam upaya menggelar High Performance Broadband Network di ketiga wilayah itu.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno mengatakan, manajemen menggunakan transmisi Satelit Intermediate Data Rate (IDR) dari Metra untuk meningkatkan kapasitas mengingat tidak adanya link transmisi Fiber Optic dan Terrestrial yang mendukung di wilayah itu.

“Langkah ini dilakukan untuk menjadikan Telkomsel sebagai Network Broadband di Indonesia,” katanya di Jakarta, Kamis (8/5).

Diungkapkannya, sebelumnya kondisi koneksi dari Jawa ke wilayah Indonesia Timur menggunakan transmisi satelit IDR dengan tipe koneksi berbasis E1. Karena kebutuhan kapasitas yang sangat besar maka Telkomsel menggelar tipe koneksi bundling STM-1 (Synchronuse Transfer Mode 1).

Untuk diketahui, satu STM-1 setara dengan 63 E1 atau 155 Mbps. ” Program peningkatan kapasitas ini telah dimulai sejak Juli 2008 dan selesai April 2009,” katanya.

Secara terpisah, VP Telkomsel Area Jabodetabek-Jabar Irwin Sakti mengungkapkan selama kuartal pertama tahun ini berhasil menambah dua juta pelanggan baru.

“Ini menjadikan pelanggan di Area ini menjadi 17 juta pelanggan. Penambahan pelanggan terjadi karena Telkomsel mulai fokus pada segmen komunitas,” katanya.

Dikatakannya, komunitas terbaru yang digarap adalah para fans klub sepakbola Persija yang tergabung dalam “JakMania”.

“Kami menyediakan lima ribu unit
ponsel merek D-one yang dibranding dengan produk simPati bagi Jakmania,” katanya.

Irwin mengatakan, bagi JakMania yang membeli produk tersebut akan mendapatkan banyak konten seputar Persija. “Ini taktik dagang baru. Kami dapat trafik dan sharing dari konten yang digunakan. Jadi, kita tidak jualan nomor saja,” jelasnya.[Dni]