080509 Yang Penting Implementasinya

Tanjung Priok adalah salah satu pelabuhan yang memiliki aktifitas bongkar muat barang paling tinggi di Indonesia. Kehidupan di pelabuhan itu pun sangat keras sekali. Mungkin ini juga yang membuat pembahasan untuk merevisi skema tarif Lini II menjadi alot.

Hal itu terbukti, meskipun sudah ada kesepakatan untuk tarif batas atas, masih ada saja suara yang menentang. Ketua Umum Ketua Umum Dewan Pemakai Jasa Angkutan Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantoro menilai besaran tarif batas atas yang ditetapkan terhadap jasa forwarding dan pergudangan di lini II Tanjung Priok terlalu tinggi.

“Tarif itu terlalu memberatkan importir dan eksportir,” katanya di Jakarta belum lama ini.

Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Laut Dephub Leon Muhammad menegaskan batas atas tarif lini II sudah dirumuskan oleh pengguna dan penyedia jasa kepelabuhanan yang diwakili oleh sejumlah asosiasi pada 29 April 2009 dan akan diberlakukan pada 1 Juni 2009.

“Dephub hanya sebagai fasilitator yang menampung keinginan semua pihak. Kalau terus dipermasalahkan, kapan bisa diterapkan?” katanya sambil menambahkan jika sudah keluar surat keputusan Dirjen, tidak ada lagi ruang untuk membantah.

Kepala Pusat Komunikasi Publik Dephub Bambang S. Ervan menjelaskan kemungkinan untuk merevisi tarif lini II Pelabuhan Priok sangat kecil jika surat keputusan kebijakan tarif itu sudah diterbitkan.

“Harus dipahami yang akan ditetapkan adalah tarif batas atas, jadi masih ada ruang agar biaya-biaya masih bisa lebih rendah dibandingkan dengan hasil kesepakatan,” tuturnya.

Dia mengakui penetapan batas atas tarif lini II tidak bisa memuaskan semua pihak, tetapi kesepakatan pada 29 April merupakan hasil yang terbaik karena sudah melalui musyawarah dari sejumlah elemen penyedia dan pengguna jasa kepelabuhanan.

Ketua Ikatan Eeksportir dan Importir Amalia Achyar mengatakan, keluarnya skema batas atas dan bawah akan membuat adanya ruang untuk bernegosiasi bagi para pengusaha. “Sebenarnya tidak ada masalah dengan batas atas. Itu akan menjadi acuan untuk bernegosiasi di tarif batas bawah. Setidaknya sekaranga ada acuan yang jelas,” katanya.

Amalia mengakui, penetapan komponen baru dari tarif Lini II lebih baik dari versi lama karena beberapa parameter yang bisa menjadi lobang adanya pungli mejadi hilang. “Sebenarnya kami juga tidak puas dengan besaran batas atas itu. Namun, mau bagaimana lagi. Jika ditunda terus bisa tidak jalan bisnis,” katanya.

Amalia mengingatkan, saat ini telah terjadi penurunan aktifitas impor hingga 30 persen. Jika masalah teknis terus menganggu bisa menggoyang urusan bisnis. “Bagi saya yang penting pelaksanaanya. Peran pemerintah sebagai pengawas sangat di perlukan. Karena di pelabuhan itu perlu ketegasan,” katanya.

Amalia mengaku khawatir, meskipun ada payung hukum berupa keputusan dirjen, tetapi aksi main sendiri akan tetap terjadi mengingat sebagai pemilik barang posisinya sangat lemah.

“Bisa saja ada aksi boikot dengan tidak mau membongkar barang dan lainnya. Karena itu bagi saya sekali lagi yang penting implementasinya. Masalah tarifnya kan sudah ada penurunanan walau cuma sedikit,” katanya.

Ketua Umum Gafeksi, Iskandar Zulkarnain menjamin tidak akan ada anggotanya yang bandel.”Selama ini anggota Gafeksi tidak pernah menerapkan tarif sangat tinggi,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s