300409 Evaluasi Beleid April 08 : Kebijakan yang Mengubah Lanskap Industri

teleponTak terasa perjalanan penurunan tarif telekomunikasi di Indonesia melalui  Beleid 1 April 2008 oleh Departemen Komunikasi dan Informatika telah berjalan satu tahun di industri telekomunikasi.

Beleid tersebut berisikan tiga regulasi. Pertama,  Peraturan Menteri (PM) No. 09/2008 tentang Tata Cara Penetapan Tarif Jasa Telekomunikasi yang Disalurkan Melalui Jairngan Bergerak Seluler . kedua, PM.15/2008 tentang Tatacara Penetapan Tarif Jasa Teleponi Dasar yang Disalurkan Melalui Jaringan Tetap Berdasar biaya interkoneksi yang baru. Terakhir, formula tarif retail yang diatur dalam Permen No. 09/2008 dan Permen No. 15/2008.

Bagi regulator telekomunikasi di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, belied tersebut merupakan salah satu kebijakan yang dianggap monumental karena mampu menstimulus penurunan tarif tanpa harus mengeluarkan hard policy.

Langkah itu terbukti dengan secara sadar, penyelenggara telekomunikasi menurunkan  tarif pungut kepada konsumen secara signifikan. Terbukti, harga ritel terpangkas hingga 70 persen dari 15 sen dollar AS menjadi 2 Sen dollar AS

Lantas setelah satu tahun perjalanan dari beleid tersebut bagaimana wajah industri? Ketua Komite Tetap Bidang Telekomunikasi Johnny Swandi mengungkapkan, kebijakan tersebut memunculkan suasana  kompetisi yang semakin ketat dengan lanskap baru berupa bercampurnya medan persaingan lisensi  Fixed Wireless Access (FWA) dan seluler.

Padahal, sebagai pemegang lisensi yang berbeda,  tentunya memiliki hak atau  kewajiban yang tidak sama. Namun, realita memaksa keduanya harus bersaing memperebutkan segmen pasar yang sama. “Ini tidak menguntungkan kedua belah pihak (FWA atau seluler),” katanya di Jakarta, Rabu (29/4).

Dijelaskannya, tarif seluler yang mengalami penurunan sangat tajam membuat diferensiasi dengan FWA menjadi berbeda tipis. Jika dibiarkan terus menerus ini bisa menekan pemain FWA karena seluler lebih unggul pada sisi infrastruktur

Menurut Pengamat Telematika Miftadi Sudjai kalah bersaingnya FWA bukan karena penambahan kanal yang belum jelas dari regulator tetapi  FWA sebenarnya adalah teknologi seluler yang dikerdili  oleh regulasi, terutama dari sisi mobilitas.

“Hal yang lumrah penurunan tarif akan membuat pelanggan  beralih ke seluler karena sifatnya nasional. Sebenarnya memisahkan teknologi dengan lisensi ini sudah tidak relevan karena industri menuju era Fixed Mobile Convergence (FMC),” jelasnya.

Berikutnya Johnny memaparkan,  secara bisnis rate of return dari operator mulai tertekan akibat biaya akuisisi pelanggan meningkat. Hal ini akan memicu adanya operator yang berguguran akibat tidak mampu memenuhi skala ekonomis.

“Memang ada kenaikan trafik, tetapi tarif kan turun. Jadinya kemampuan meningkatkan kapasitas dan coverage mulai berkurang. Hal ini berbeda dengan sebelum beleid dikeluarkan dimana rate of return masih wajar sehingga operator bisa berkespansi,” jelasnya.

Direktur Utama Telkom Rinaldi Firmansyah menambahkan, beleid April tahun lalu hanyalah salah satu pemicu turunnya tarif. Faktor lain adalah bermunculannya pemain baru yang berani memangkas tarif sehingga memaksa incumbent melayaninya. “Telkom saja karena penerapan interkoneksi baru itu mengalami potential lost mencapai satu triliun rupiah,” ungkapnya.

Fakta lain yang dipaparkan Johnny adalah perang harga di pasar memicu pemborosan blok nomor oleh operator sehingga tingkat pindah layanan semakin tinggi. “Jika  dibiarkan blok nomor bisa habis mengingat ini adalah sumber daya alam terbatas,” katanya.

Melihat fenomena itu, Johnny merasa perlu adanya kajian jumlah pemain yang optimal dengan mempertimbangkan terbatasnya sumber daya (frekuensi dan penomoran) agar dapat dimanfaatkan secara maksimal dan efisien secara nasional. Selain itu dikaji juga   sistem pentarifan yang tepat sesuai dengan sistem perizinan yang berlaku dan penetapan tarif minimum.

Kualitas Layanan

Direktur  Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) Mazwita Idrus mengungkapkan, berdasarkan survei pada 200 responden melalui  media web 2.0 (internet)  responden yang dilakukan organisasinya belum lama ini ditemukenali   pelanggan puas akan adanya belied April 2008 karena membuat tarif menjadi turun.

“Sayangnya dampak dari penurunan tarif adalah menurunnya kualitas layanan dari penyelenggara telekomunikasi,” katanya.

Hal itu dibuktikan, jika tadinya pelanggan merasa layanan cukup berkualitas (78%) sebelum adanya beleid, angka itu melorot menjadi 59 % setelah beleid dikeluarkan.

Bahkan, pelanggan  yang  merasa layanan operator menjadi buruk meningkat setelah  beleid dikeluarkan. Tercatat, pelanggan merasa kualitas layanan menjadi  buruk setelah beleid diberikan meningkat dari 13 persen  menjadi 34 persen (setelah beleid). Padahal untuk mengakses telekomunikasi responden mengeluarkan biaya sebesar 100 hingga 200 ribu setiap bulannya.

Sedangkan untuk gangguan yang paling tinggi dirasakan pelanggana adalah sulit melakukan panggilan (45%), drop call (27%), dan SMS tak terkirim (15%).

Hasil survei yang dilakukan LPPMI ternyata memperkuat pernyataan Johnny di atas yang mengatakan  pelanggan tidak mempedulikan jenis lisensi yang digunakan oleh operatornya. “Bahkan mayoritas pengguna tidak tahu perbedaan antara lisensi seluler dan FWA,” katanya.

Menanggapi hal itu Sekjen Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Dian Siswarini menjelaskan, menurunnya kualitas layanan yang diberikan oleh operator karena terjadi anomali di lapangan.

“Laju penurunan tarif mengukuti deret hitung, tetapi laju kenaikan trafik mengikuti deret ukur. Apalagi ada faktor-faktor pembatas  dalam penambahan kapasitas seperti akses untuk menempatkan antena dan lebar pita frekuensi yang dimiliki,” jelasnya sambil menambahkan seandainya trafik suara menggunakan kapasitas sampai utilisasi maksimum, trafik data tidak dapat terlayani.

Stimulus

Untuk mengatasi masalah teknis tersebut  Dian meminta pemerintah memberikan stimulus berupa  kemudahan dalam hal pembangunan site, pengaturan kembali Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP), dan roadmap alokasi frekuensi baru,

Pengaturan kembali BHP berupa memberikan batas atas untuk BHP berdasarkan jumlah pemancar.  Setelah melewati ambang diberikan BHP Flat (Berdasarkan Pita) dengan harga yang akan men-stimulus peningkatan teledensiti.

Sedangkan roadmap alokasi frekuensi baru diperlukan untuk penambahan frekuensi akibat timbulnya kebutuhan penambahan kapasitas dan untuk perubahan teknologi dalam rangka natural evolution dari teknologi yang digunakan oleh operator dan dalam rangka menjamin sustainability dari bisnis masing-masing operator. “Misalnya untuk 3G diperlukan alokasi baru untuk Long Term Evolution (LTE),” jelasnya.

Miftadi menjelaskan, ada dua cara yang dapat dilakukan operator untuk meningkatkan kualitas layanan yakni  menambah kanal frekuensi atau peningkatan jumlah BTS sektoral.

Jika menambah kanal yang diambil akan menghemat investasi sehingga meskpiun tarif sedang mengalami penurunan, tingkat margin masih terjaga.  Sementara jika yang diambil adalah menambah jumlah BTS sektoral maka investasi operator akan meningkat. “Ini bisa ditekan dengan menara bersama. Tetapi kenyataan di lapangan implementasi menara bersama banyak mengalami masalah,” katanya.

Menanggapi hal itu, Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menjelaskan, setiap kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah selalu bersifat kontekstual. “Pemerintah mengeluarkan beleid April 2008 itu untuk mendorong kompetisi dan meningkatkan utilitas jaringan dari operator. Saya rasa tujuannya sudah tercapai saat ini,” katanya.

Masalah adanya pekerjaan rumah yang ditinggalkan berupa menurunnya kualitas layanan pemerintah sudah berusaha menjaga hal itu melalui koridor aturan kualitas layanan. “Kita paham industri mengalami kesulitan pada jaringan saat ini. Stimulus yang diminta sedang dipertimbangkan. Salah satunya mengubah tarikan BHP dari berbasis radio ke lebar pita,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s