280409 Bermimpi Membangun Kejayaan Kreator Lokal

Tidak hanya ingin masuk ke AppStore, para kreator lokal memiliki mimpi yang lebih dahsyat yakni membangun toko virtual lokal layaknya yang dimiliki Apple tersebut.

“Rasanya mimpi itu bisa diwujudkan karena Indonesia berlimpah talenta kreatif. Berbagai penghargaan internasional disabet oleh kreator lokal. Belum lagi didukung oleh pasar ponsel yang berlimpah,” ujar CEO Elasitas Andy Zain, kepada Koran Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut dia, permasalahan yang dihadapi para inovator tersebut selama ini sukar mendaparkan kesempatan untuk tampil dikarenakan value chain industri kreatif yang sangat tertutup.

Senior Advisor Beoscope.com Suryatin Setiawan menegaskan, Indonesia sangat mungkin memiliki toko virtual sejenis AppStore karena aplikasi wireless itu merupakan industri pengembangan software dalam skala yang mampu dilakukan oleh kelas menengah dan kecil dimana jumlahnya banyak di Indonesia.

Diungkapkannya, secara underground sudah mulai dikembangkan animation dan video based e-learning yang merupakan konten asli dengan cita rasa dan realita Indonesia. “Saya yakin video animasi lokal akan marak dalam waktu 3 tahun mendatang ini dengan gaya masuk ke industri secara berbeda. salah satunya menciptakan semacam AppStore lokal itu,” katanya.

Keduanya menyakini, aplikasi lokal akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan setelah adanya ponsel lifestyle seperti iPhone dan BlackBerry Storm. Kedua ponsel yang mengusung tema entertainment itu menawarkan resolusi gambar tinggi dan kapasitas penyimpan data lumayan besar. Hal ini membuat banyak aplikasi hiburan bisa dijalankan hanya melalui sapuan tangan melalui layar sentuhnya.

“Adanya ponsel yang makin multimedia seperti iPhone dan Storm, serta jalur distribusi langsung seperti AppStore akan membuat konten kreatif dari pemain lokal semakin berkembang,” kata Andy.

“Pengguna ponsel ini kan tidak hanya untuk bekerja. Mereka membutuhkan hiburan. Di sinilah ditantang kreatifitas dari kreator lokal,” tambah Suryatin.

Pada kesempatan lain, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat, Teguh Prasetya menjelaskan, terdapat tiga syarat untuk menjadikan perangkat BlackBerry sukses di pasar. Pertama perangkat harus sesuai dengan permintaan. Kedua, layanan harus mudah, adaptif, dan ekonomis bagi setiap segmen. Terakhir aplikasi dan konten harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan menjawab kebutuhan pokok dari setiap pengguna.

“Dua syarat pertama sudah dilalui oleh BlackBerry. Syarat terakhir ini harus dilakukan bersama antaroperator dan kreator. Karena itu kita sedang mengumpulkan konten lokal untuk aplikasi BlackBerry Storm agar terbangun ekosistem layaknya iPhone,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan, Indosat akan resmi meluncurkan Storm di pasar lokal pada Mei nanti. Saat ini telah dibuka pemesanan awal untuk ponsel yang memiliki keunikan mengoperasikan dengan sapuan tangan karena berbasis layar sentuh yang didukung teknologi SurePress.

Ponsel ini memang menjadi pesaing ketat iPhone di dunia walau kenyataan tidak mampu berbicara banyak dari sisi pemasaran. Kabar beredar, Indosat hanya memesan lima ribu unit Storm.

Sementara BlackBerry & Internet Retail Manager XL Handono Warih mengungkapkan, langkah untuk membangun semacam Application Store sudah dimulainya dengan membangun XL Mall pada Februari lalu. “Kami menggandeng kreator lokal. Saat ini isi ‘toko’ belum komplit. Peresmian ‘toko’ akan dilakukan pada Mei nanti,” ungkapnya.

Tantangan

Suryatin mengatakan, tantangan yang akan dihadapi untuk mengembangkan aplikasi sejenis AppStore adalah masalah pembajakan di Indonesia. “Indonesia ini tinggi sekali tingkat pembajakan aplikasi, atau menggunakan sesuatu berbau ilegal” katanya.

Direktur Benang Komunika Infotama Iqbal Farabi menambahkan, kendala lain yang akan dihadapi oleh kreator adalah masalah pembayaran secara online. “Meskipun ada regulasinya, tingkat carding di Indonesia lumayan tinggi. Para kreator sedang berfikir bagaimana membuat application store yang aman dari carding dan bisa diterima oleh pasar,” katanya.

Sementara praktisi telematika Ventura Elisawati, meminta regulator mulai mempelajari model bisnis dari Application Store dan tidak menyamaratakan dengan SMS Premium. Hal ini karena di masa depan mobile content tak lagi “memperdagangkan konten” yang diberi iming-iming hadiah, seperti yang dilakukan penyelenggara SMS Premium. Namum penggunalah yang menjadi produsen konten dan kontennya pun bisa secara gratis dinikmati oleh pengguna lainnya.

Istilah dari konsep baru itu adalah User Generated Content (UGC). Contoh nyata adalah aplikasi tak berbayar di dunia maya seperti mikrobloging (contoh,twitter) merangsang orang untuk memproduksi konten melalui SMS. Begitu pula Facebook yang berhasil menggiring jutaan pengguna ponsel untuk terus menjadi generator konten di jejaring sosial.

“Saya khawatir jika regulator tidak siap, nanti malah membuat aturan yang membatasi kreatifitas dan membunuh semangat kreator lokal membangun industri,” katanya.

Dia meminta, regulator tidak mengeluarkan regulasi seperti di SMS Premium yang memungut Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) dan sumbangan Universal Service Obligation (USO) pada penyedia konten. “Langkah itu jelas sekali bertentangan ingin menggalakkan industri kreatif. Padahal progam pemerintah tahun ini memajukan industri kreatif,” sesalnya.

Berdasarkan catatan, Departemen Perdagangan memperhitungkan peran sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di industri kreatif patut diperhitungkan. Menurut departemen tersebut, dari sekitar 87 triliun rupiah nilai bisnis industri kreatif, sekitar 24 triliun rupiah berasal dari sektor TIK.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s