280409 HDS Tawarkan Utilisasi Storage

hds-gbrJAKARTA—Hitachi Data Systems (HDS) menyediakan peranti lunak virtualisasi gratis untuk meningkatkan utilisasi dari aset-aset storage melalui program Switch It On.

Senior Vice President of Worldwide Marketing and Business Development, Hitachi Data Systems, Brian Householder menjelaskan, melalui peranti lunak virtualisasi storage tersebut pelanggan bisa mengonsolidasikan semua peranti storage termasuk dari pihak ketiga dan storage eksternal ke dalam satu payung pengelolaan.

Teknologi efisiensi dari HDS tersebut memberikan keyakinan bagi pelanggan bahwa mereka bisa memanfaatkan kapasitas storage yang tak terpakai, sekaligus memperbaiki utilisasi storage sehingga infrastruktur storage mampu memenuhi kebutuhan bisnis secara optimal.

“Inisiatif ini menegaskan komitmen kami untuk membantu pelanggan menghemat uang dengan memberdayakan aset yang mereka miliki saat ini dan memanfaatkan kapasitas storage yang selama ini tak terpakai,” ujarnya di Jakarta belum lama ini.


Dikatakanya, melalui teknologi virtualisasi HDS pelanggan bisa melakukan thin provisioning secara dinamis, tak hanya pada storage internal, tetapi juga pada storage eksternal, sekaligus mendapatkan kemampuan memindahkan data tanpa gangguan, menyalin, mereplikasi, memastikan kesinambungan bisnis dan melakukan migrasi pada thin volume dalam storage eksternal yang tervirtualisasi.

Konsep ini telah dijalankan HDFC Bank di India yang memiliki jaringan 1.412 kantor cabang, 3.177 ATM di 527 kota yang mampu menghemat ribuan jam kerja setiap tahunnya antara lain karena teknologi virtualisasi HDS.[dni]

280409 Bermimpi Membangun Kejayaan Kreator Lokal

Tidak hanya ingin masuk ke AppStore, para kreator lokal memiliki mimpi yang lebih dahsyat yakni membangun toko virtual lokal layaknya yang dimiliki Apple tersebut.

“Rasanya mimpi itu bisa diwujudkan karena Indonesia berlimpah talenta kreatif. Berbagai penghargaan internasional disabet oleh kreator lokal. Belum lagi didukung oleh pasar ponsel yang berlimpah,” ujar CEO Elasitas Andy Zain, kepada Koran Jakarta akhir pekan lalu.

Menurut dia, permasalahan yang dihadapi para inovator tersebut selama ini sukar mendaparkan kesempatan untuk tampil dikarenakan value chain industri kreatif yang sangat tertutup.

Senior Advisor Beoscope.com Suryatin Setiawan menegaskan, Indonesia sangat mungkin memiliki toko virtual sejenis AppStore karena aplikasi wireless itu merupakan industri pengembangan software dalam skala yang mampu dilakukan oleh kelas menengah dan kecil dimana jumlahnya banyak di Indonesia.

Diungkapkannya, secara underground sudah mulai dikembangkan animation dan video based e-learning yang merupakan konten asli dengan cita rasa dan realita Indonesia. “Saya yakin video animasi lokal akan marak dalam waktu 3 tahun mendatang ini dengan gaya masuk ke industri secara berbeda. salah satunya menciptakan semacam AppStore lokal itu,” katanya.

Keduanya menyakini, aplikasi lokal akan berkembang dalam beberapa tahun ke depan setelah adanya ponsel lifestyle seperti iPhone dan BlackBerry Storm. Kedua ponsel yang mengusung tema entertainment itu menawarkan resolusi gambar tinggi dan kapasitas penyimpan data lumayan besar. Hal ini membuat banyak aplikasi hiburan bisa dijalankan hanya melalui sapuan tangan melalui layar sentuhnya.

“Adanya ponsel yang makin multimedia seperti iPhone dan Storm, serta jalur distribusi langsung seperti AppStore akan membuat konten kreatif dari pemain lokal semakin berkembang,” kata Andy.

“Pengguna ponsel ini kan tidak hanya untuk bekerja. Mereka membutuhkan hiburan. Di sinilah ditantang kreatifitas dari kreator lokal,” tambah Suryatin.

Pada kesempatan lain, Kepala Pemasaran dan Merek Indosat, Teguh Prasetya menjelaskan, terdapat tiga syarat untuk menjadikan perangkat BlackBerry sukses di pasar. Pertama perangkat harus sesuai dengan permintaan. Kedua, layanan harus mudah, adaptif, dan ekonomis bagi setiap segmen. Terakhir aplikasi dan konten harus dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan menjawab kebutuhan pokok dari setiap pengguna.

“Dua syarat pertama sudah dilalui oleh BlackBerry. Syarat terakhir ini harus dilakukan bersama antaroperator dan kreator. Karena itu kita sedang mengumpulkan konten lokal untuk aplikasi BlackBerry Storm agar terbangun ekosistem layaknya iPhone,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan, Indosat akan resmi meluncurkan Storm di pasar lokal pada Mei nanti. Saat ini telah dibuka pemesanan awal untuk ponsel yang memiliki keunikan mengoperasikan dengan sapuan tangan karena berbasis layar sentuh yang didukung teknologi SurePress.

Ponsel ini memang menjadi pesaing ketat iPhone di dunia walau kenyataan tidak mampu berbicara banyak dari sisi pemasaran. Kabar beredar, Indosat hanya memesan lima ribu unit Storm.

Sementara BlackBerry & Internet Retail Manager XL Handono Warih mengungkapkan, langkah untuk membangun semacam Application Store sudah dimulainya dengan membangun XL Mall pada Februari lalu. “Kami menggandeng kreator lokal. Saat ini isi ‘toko’ belum komplit. Peresmian ‘toko’ akan dilakukan pada Mei nanti,” ungkapnya.

Tantangan

Suryatin mengatakan, tantangan yang akan dihadapi untuk mengembangkan aplikasi sejenis AppStore adalah masalah pembajakan di Indonesia. “Indonesia ini tinggi sekali tingkat pembajakan aplikasi, atau menggunakan sesuatu berbau ilegal” katanya.

Direktur Benang Komunika Infotama Iqbal Farabi menambahkan, kendala lain yang akan dihadapi oleh kreator adalah masalah pembayaran secara online. “Meskipun ada regulasinya, tingkat carding di Indonesia lumayan tinggi. Para kreator sedang berfikir bagaimana membuat application store yang aman dari carding dan bisa diterima oleh pasar,” katanya.

Sementara praktisi telematika Ventura Elisawati, meminta regulator mulai mempelajari model bisnis dari Application Store dan tidak menyamaratakan dengan SMS Premium. Hal ini karena di masa depan mobile content tak lagi “memperdagangkan konten” yang diberi iming-iming hadiah, seperti yang dilakukan penyelenggara SMS Premium. Namum penggunalah yang menjadi produsen konten dan kontennya pun bisa secara gratis dinikmati oleh pengguna lainnya.

Istilah dari konsep baru itu adalah User Generated Content (UGC). Contoh nyata adalah aplikasi tak berbayar di dunia maya seperti mikrobloging (contoh,twitter) merangsang orang untuk memproduksi konten melalui SMS. Begitu pula Facebook yang berhasil menggiring jutaan pengguna ponsel untuk terus menjadi generator konten di jejaring sosial.

“Saya khawatir jika regulator tidak siap, nanti malah membuat aturan yang membatasi kreatifitas dan membunuh semangat kreator lokal membangun industri,” katanya.

Dia meminta, regulator tidak mengeluarkan regulasi seperti di SMS Premium yang memungut Biaya Hak Penyelenggaraan (BHP) dan sumbangan Universal Service Obligation (USO) pada penyedia konten. “Langkah itu jelas sekali bertentangan ingin menggalakkan industri kreatif. Padahal progam pemerintah tahun ini memajukan industri kreatif,” sesalnya.

Berdasarkan catatan, Departemen Perdagangan memperhitungkan peran sektor Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di industri kreatif patut diperhitungkan. Menurut departemen tersebut, dari sekitar 87 triliun rupiah nilai bisnis industri kreatif, sekitar 24 triliun rupiah berasal dari sektor TIK.[dni]

280409 Berharap Berkah dari Sapuan Tangan

iphone3gBelum lama ini Appshoper.com melansir data yang mengejutkan tentang sepak terjang Application Store iPhone (AppStore). Tercatat, hanya dalam waktu kurang dari satu tahun toko virtual yang dikelola oleh Apple tersebut mampu menjual aplikasi sekitar satu miliar bagi pengguna iPhone.

AppStore diperkirakan memiliki 33.306 aplikasi dimana 25 ribu diantaranya dibuat oleh para pengembang perangkat lunak independen. Para pengembang aplikasi yang ingin bergabung ke AppStore cukup membayar 99 dollar AS ke Apple Developer Network untuk akses dan mendistribusikan aplikasi iPhone.

Model bisnis antara pengembang dengan Apple ini diyakini memberikan keuntungan bagi penyedia konten karena bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Hal ini karena semua konten dikendalikan dalam satu wadah oleh Apple yakni AppStore.

Selama ini cara Apple berjualan aplikasi di App Store lumayan unik bagi pengguna i-Phone di 88 negara. Konsep yang digunakan adalah komposisi aplikasi gratis dan berbayar dibuat satu berbanding tiga.

Jika kita menggunakan asumsi harga per aplikasi dibuat rerata satu dollar AS dan jumlah aplikasi yang berbayar sebanyak 100 ribu, maka uang beredar di AppStore sudah mencapai 2,5 miliar dollar AS.

CEO Elasitas Andy Zain mengakui, keberadaan jalur penjualan seperti AppStore memberikan akses bagi para inovator dan pelaku industri kreatif untuk dapat langsung berhubungan dengan konsumen tanpa melalui perantara.

Hal ini memungkinkan lebih banyak aplikasi dan konten yang akan tersedia di masyarakat. Elasitas adalah penyedia konten Angklung bagi iPhone yang dijual Telkomsel.

“AppStore ini menghapus jalur berliku untuk memasarkan sesuatu. Misalnya, untuk memasarkan lagu harus berurusan dengan perusahaan rekaman. Sekarang jika dimasukkan ke dalam AppStore, semua jalur birokrasi bisa dipotong,” katanya kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

GM Pemasaran Telkomsel Nirwan Lesmana menegaskan, misi Telkomsel membawa iPhone ke Indonesia bukan hanya semata untuk berjualan ponsel tesebut. “iPhone itu tidak hanya cara pengoperasiannya yang unik yakni menggunakan sapuan tangan karena layar sentuh, ada juga potensi bisnis yang bisa digarap yakni menjadi penyedia konten di AppStore. Karena itu dari awal Telkomsel menegaskan ini bagian dari membangun industri,” ujarnya.

Beberapa konten lokal yang telah ada di iPhone Telkomsel selain Angklung adalah Portal berita Detikcom, Peta Jakarta, dan Jadwal Bis Trans Jakarta. Telkomsel pada tahap awal menyediakan 10 ribu iPhone. Ponsel tersebut telah hadir di di Jakarta, Medan, Surabaya, Makassar, dan Bandung.

Nirwan mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang mendorong para kreator lokal untuk bergabung dalam AppStore agar konten lokal bagi pengguna iPhone Telkomsel semakin banyak.

“Pengguna iPhone Telkomsel adalah orang Indonesia, rasanya aneh jika di dalam ponselnya justru terdapat peta lokasi Kota New York. Karena itu kami butuh nuansa lokal di iPhone Telkomsel,” tegasnya.

Konten Lokal Siap

Ajakan dari Telkomsel tersebut ternyata sudah sampai ke telinga para punggawa konten lokal. Direktur Benang Komunika Infotama, Iqbal Farabi dan Senior Advisor Beoscope.com, Suryatin Setiawan mengaku tertarik untuk bermain di AppStore.

“Kami sangat tertarik untuk bergabung di AppStore hal ini karena sebagai content kreator harus mengikuti tren. Di Indonesia jika mau selamat harus mengikuti jaman. Jika tidak, bisa tenggelam,” kata Iqbal.

Suryatin mengungkapkan, Beoscope.com sedang menyiapkan layanan untuk menjadi salah satu penggerak konten berbasis video. “Kami sedang berbicara dengan operator selular untuk bersama-sama membuat success story dari aplikasi dan konten lokal Indonesia,” katanya.

Beoscope.com selama ini terkenal fokus kepada video based service dan layanan yang menggunakan 3G video call di jasa selular. Beberapa layanan tersebut adalah membuka layanan video call ke studio studio radio broadcast untuk bisa dilihat para pendengar setianya manakala ada acara favorit sedang mengudara dan video product updates dari beberapa perusahaan dangan merek berkelas kepada konsumen setianya.

Iqbal mengingatkan, meskipun jalan yang mulus disediakan oleh Telkomsel menjadi rekanan di AppStore tetapi masalah akan tetap muncul berkaitan dengan fee. Hal ini karena biasanya principal (Apple) menetapkan fee untuk aplikasi yang di ciptakan oleh content creator. Apalagi jika principal mengetahui adanya keuntungan yg di-generate di dalamnya.

Hal ini berbeda jika sudah banyak aplikasi yang dibuat menjadi booming sehingga principal merasakan kreator lokal layak di perhitungkan. Jika ini kejadiannya, mungkin Apple akan meminta kreator lokal menciptakan sesuatu berdasarkan kebutuhan yang berujung pembayaran bisa menggunakan pola bagi hasil.

Secara terpisah, praktisi telematika Ventura Elisawati menilai memang sudah sewajarnya konten lokal bermain di AppStore atau membuat aplikasi sejenis.”Saya malah inginnya kreator lokal memiliki AppStore khas Indonesia. Hal ini karena mobile content yang bersifat User Generated Content (UGC) masih didominasi oleh asing seperti facebook dan lainnya. Akibatnya konsumsi bandwidth internasional menjadi cukup besar,” katanya.

Ventura menyarankan, operator mulai melirik situs lokal yang telah melengkapi fiturnya tak hanya berbasis GPRS, tapi juga SMS untuk lebih memarakkan pertumbuhan konten lokal, sekaligus melakukan penghematan bandwidth.

“jika delivery channel berbasis GPRS, tetapi notifikasi comment-nya memiliki dua pilihan yakni email atau SMS layaknya dikembangkan Facebook, itu akan mendorong pengguna makin aktif. Yang untung kan operator juga karena trafik meningkat,” katanya.

Berdasarkan catatan, beberapa situs lokal yang memiliki fasilitas seperti dipaparkan ventura adalah kronologer (asia blogging) yang menjalankan UGC berbasis SMS.

Selanjutnya ada Dagdigdug.com yang merupakan free blog hosting dengan fitur mobile bloging (GPRS), yang juga akan diarahkan ke SMS blogging dan BlackBerry blogging. Serupa dengan dagdidug.com adalah situs politikana.com yang berisi edukasi demokrasi dengan mengandalkan jurnalisme warga.[dni]

280409 Telkom Didesak Minta Kompensasi

logo_telkomJAKARTA—PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) didesak untuk meminta kompensasi ke pemerintah terkait rencana mereklamasi penomoran jasa Fixed Wireless Access (FWA) Flexi sesuai dengan Fundamental Technical Plan (FTP) 2000.

Sesuai FTP 2000, Telkom diharuskan untuk mengubah penomoran di 351 kode area milik Flexi secara nasional. Setelah direklamasi, maka penomoran untuk pelanggan Flexi yang sebelumnya berjumlah di bawah 10 angka (setelah kode area) akan berubah menjadi 10 angka setelah kode area.

Perubahan ini akan berlaku bagi pelanggan yang menggunakan Flexi mulai 2008 atau sejak reklamasi dimulai. Saat ini jumlah pelanggan Flexi mencapai 13 juta nomor, diharapkan hingga akhir tahun ada penambahan sekitar tiga hingga 3,5 juta
pelanggan baru.

Telkom sendiri telah melakukan reklamasi sebelumnya pada April 2008 sesuai FTP 2000 untuk kode area 0251 (Bogor) dengan proses Ganti Nomor (GNO). Saat itu diperkirakan Telkom mengeluarkan investasi sebesar lima miliar rupiah.

“Sudah sewajarnya Telkom meminta kompensasi ke pemerintah. Hal ini karena perubahan tersebut membuat banyak kerugian bagi operator tersebut,” ujar Pengamat telematika Miftadi Sudjai kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Dikatakannya trdapat dua dampaka yang akan dialami oleh Telkom yakni teknis dan komersial. Secara teknis di jaringan akan dilakukan pengubahan database dan sinkronisasinya. Sedangkan di sisi komersial perlu mengubah RUIM/SIM card. Pergantian SIM Card itu dikhawatirkan akan membuat pelanggan lari ke operator lain.

“Pelanggan sendiri tidak diuntungkan karena itu wajar Telkom meminta kompensasi apalagi kondisi yang terjadi ini tidak muri kesalahan Telkom,” katanya.

Menanggapi hal itu, Juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto mengatakan, pemeintah tidak akan memberikan kompensasi ke Telkom mengingat kasus reklamasi mirip dengan pembersihan frekuensi 3G tiga tahun lalu. “Kala itu operator disuruh migrasi dan tidaka da kompensasi rupiah sama sekali,” tegasnya.[dni]

280409 Kualitas SLI 009 Dipertanyakan

JAKARTA—Kualitas Sambungan Langsung Internasional (SLI) milik PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) mulai dipertanyakan oleh banyak kalangan. Kualitas bening yang dijanjikan BTEL dengan teknologi clear channel ternyata tidak dinikmati sejumlah pelanggan.

“Saya mencoba untuk menggunakan kode akses 009 ke Singapura dan Hong Kong . Ternyata kualitas yang didapat tidak sebening janji iklan BTEL,” ungkap Praktisi Telematika Ventura Elisawati kepada Koran Jakarta, Senin (27/4).

Ventura mengungkapkan, ketika menggunakan kode akses tersebut terasa ada delay untuk pengiriman suara dan parahnya lagi suara krsek-kresek mendominasi selama percakapan. “Jika ada delay itu sama saja seperti menggunakan Voice Internet Protocol (VoIP). Bagi saya ini mengecewakan karena harga yang ditawarkan BTEL adalah untuk teknologi clear channel bukanlah VoIP. Seharusnya BTEL cukup menawarkan harga murah bukan disertai kualitas, kalau begini pelanggan bisa memaklumi,” tuturnya.

Secara terpisah, Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Nonot Harsono berjanji akan melakukan klarifikasi ke BTEL terkait keluhan masyarakat tersebut. “Secara teknis itu bisa diketahui karena ini masalah teknologi. Kami akan klarifikasi hal ini ke BTEL,” katanya.

Nonot menegaskan, memang tidak pantas penyelenggara memberikan teknologi VoIP untuk tarif clear channel. “Meski pelanggan tidak mengetahui, audit jaringan tidak akan bisa dibohongi,” katanya.

Sebelumnya, Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo, meminta penyelenggara SLI untuk jujur ke pengguna dalam menggunakan teknologi ke pelanggan. “Jika menggunakan VoIP jangan diklaim pakai clear channel. Soalnya tarif keduanya berbeda jauh. Kalau ini dilakukan pelanggan yang dirugikan,” katanya.

Dikatakannya, seiring semakin canggihnya teknologi dari VoIP, perbedaan kualitas dengan clear channel tidak bisa dirasakan oleh pelanggan saat ini. Hal ini berujung pada adanya permainan oleh operator dengan menawarkan tarif clear channel padahal yang digunakan adalah VoIP.

Permainan lain yang digunakan oleh operator adalah dengan menggunakan teknolgi clear channel untuk panggilan originasi (trafik menjelang Sentra Gerbang Internasional/SGI), tetapi ketika di terminasi alias untuk menuju negara tujuan menggunakan VoIP. Akibat dari permaianan tersebut operator untung besar mengingat perbedaan tarif clear channel dengan VoIP bisa mencapai 75 persen.

Untuk diketahui, selama ini untuk menggelar jasa SLI ada dua teknologi yang ditawarkan oleh operator yakni VoIP dan clear channel. Kualitas dari VoIP biasanya di bawah clear channel mengingat menggunakan internet protocol sehingga tidak real time. Penyelenggara clear channel di Indonesia berikut kode aksesnya adalah Telkom (007), Indosat (001), dan Bakrie Telecom (009).[dni]