200409 Tender BWA: Kandungan Lokal Tetap Dipertahankan

JAKARTA—Pemerintah tidak akan mengubah persyaratan kandungan lokal bagi penyedia perangkat teknologi Worldwide interoperability for Microwave Access (Wimax) meskipun belum lama ini merevisi persyaratan kepersertaan tender Broadband Wireless Access (BWA).

Tender frekuensi 2,3 GHz itu rencananya dibagi menjadi 15 zona wilayah tender, yakni Sumatera Bagian Utara, Tengah, dan Selatan, Jabodetabek, Jawa Bagian Barat, Tengah, dan Timur.

Kemudian, Bali Nusa Tenggara, Papua, Maluku dan Maluku Utara, Sulawesi Bagian Selatan dan Utara, Kalimantan Bagian Barat dan Timur, serta Kepulauan Riau. Pemerintah juga sudah memastikan tidak ada masalah untuk guardband atau pita pembatas untuk zona-zona wilayah tersebut. Peserta tender maksimal boleh menawar dua blok frekuensi (30 MHz) di masing-masing zona.

“Untuk persyaratan pemenuhan lokal tidak akan ada perubahan. Kami tetap pada regulasi semula,” tegas juru bicara Depkominfo Gatot S Dewo Broto kepada Koran Jakarta , Minggu ( 19/4).

Dikatakannya, dalam regulasi yang telah dikeluarkan penyedia perangkat untuk teknologi Wimax haruslah memenuhi unsur lokal sebesar 30 persen untuk Subscriber Station (SS) dan 40 persen bagi Base Station (BS).

Selanjutnya Gatot mengungkapkan, pengumuman undangan tender BWA akan dilakukan pada Jumat (24/4) nanti. Proses tender sendiri akan selesai pada Juni nanti. “Harga dasar untuk frekuensi akan diketahui ketika peserta mendaftarkan dokumen tender,” katanya.

Sebelumnya, pemerintah demi memberikan kesempatan yang luas bagi pelaku industri telekomunikasi mengubah syarat peserta tender BWA dengan memperbolehkan konsorsium yang merupakan gabungan penyedia jasa dan jaringan untukmengikuti tender. Syarat yang dilansir awalnya adalah peserta tender hanya diperbolehkan bagi penyedia jaringan dan jasa telekomunikasi.

Melihat perubahan sikap dari pemerintah, pegiat telematika dari Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FBWI) Wahyu Haryadi meminta, jika syarat peserta bisa diubah, hal yang sama juga bisa berlaku untuk kandungan lokal perangkat BWA.

“Masalah perangkat ini juga krusial. Saat ini belum ada industri lokal yang mampu memenuhi kapasitas produksi untuk membuat teknologi BWA menjadi massal. Jika dipaksakan, ini akan berakhir pada mahalnya harga layanan yang harus ditanggung oleh masyarakat. Karena itu sudah sewajarnya asing diperbolehkan untuk bermain di perangkat,” katanya.

Di Indonesia beberapa perusahaan yang telah memenuhi syarat kandungan lokal untuk memproduksi perangkat Wimax adalah TRG dan Hariff. Namun, kapasitas produksi dari kedua perusahaan sangat terbatas. Maksimal hanya mampu menyediakan puluhan ribu perangkat. Sedangkan untuk tahap awal wimax diluncurkan diperkirakan butuh perangkat sekitar satu juta unit.

Secara terpisah pengamat telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono menyetujui sikap pemerintah yang tegas dengan pemenuhan kandungan lokal dari perangkat Wimax. “Saya sangat setuju bahwa industri manufaktur lokal harus menjadi tuan di rumah sendiri. Sudah saatnya Indonesia bangun dari tidur nyenyak dibuai produk asing. Pemerintah harus hati-hati dan menyadari akan usaha pihak-pihak yang selalu menanyakan tentang kandungan lokal, bisa saja ada kepentingan dibalik permintaan itu,”katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s