200409 Masih Menjadi Incaran

Para praktisi di industri telekomunikasi boleh saja memprediksi jasa Sambungan Langsung Internasional (SLI ) sedang memasuki masa jenuh, namun tidak demikian dengan para operator.

“Masih banyak yang mengincar bisnis SLI. Buktinya masih ada yang mengajukan permohonan untuk meminta lisensi,” ungkap Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar di Jakarta, belum lama ini.

Basuki mengungkapkan, operator yang telah resmi mengajukan untuk meminta lisensi SLI adalah PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). XL adalah kompetitor ketat Bakrie Telecom (BTEL) kala tender SLI dua tahun lalu.

Secara infrastruktur, XL kala itu lebih kuat ketimbang BTEL. XL melalui jaringan milik induk usahanya, Telekom Malaysia, telah memiliki ketersambungan ke negara yang tergolong Tier-1 seperti Amerika, Hong Kong, Australia, Eropa, dan Jepang.

Kekalahan XL karena munculnya isu masih adanya kepemilikan saham Temasek sebesar 0,5 persen di operator tersebut. Padahal, syarat yang diberikan pemerintah adalah tidak boleh ada terafiliasi dengan pemain SLI lama. Berbicara Temasek kala itu tentunya tak dapat dilepaskan dengan nama Indosat.

Akhirnya, secara ironis XL “menggugurkan” diri karena tidak lengkapnya syarat administrasi untuk ikut tender. Selain XL, Natrindo Telepon Seluler (NTS) yang juga menjadi pesaing kala tender juga disebut-sebut tertarik untuk mengambil lisensi SLI.

Basuki mengatakan, sedang menunggu adanya peminat selain XL yang secara resmi mengajukan permintaan. Jika ada lebih dari satu akan dilakukan beauty contest, namun seandainya hanya XL akan dibebani pembangunan jaringan layaknya BTEL.

“Yang penting backbone kita semakin banyak. Masalah pembatasan kepemilikan asing tidak dikenal di SLI,” ujarnya.

Sebelumnya, Direktur Utama NTS Erick Aas mengatakan, jika tidak ada pembatasan kepemilikan asing maka perseroan akan maju untuk meminta lisensi SLI.

Sementara Presdir XL Hasnul Suhaimi menegaskan, pihaknya berminat dan siap mengikuti tender jika pemerintah membukanya. “Kami sudah siap dengan jaringan kabel optik laut sejak tahun lalu,” ujarnya belum lama ini.

Direktur Commerce XL, Joy Wahyudi menambahkan, XL telah memiliki dua gateway, di Singapura dan Malaysia.”Dana untuk mengembangkan SLI akan diambil diluar belanja modal,” katanya.

Joy mengatakan, jika berdiri sendiri bisnis SLI sudah mendekati titik jenuh, namun seandainya didukung dengan layanan lain, jasa tersebut akan menjadi layanan tambahan yang cukup menjanjikan. “Trafik sambungan internasional XL ke luar negeri saja mencapai 600 juta panggilan per hari. Ini sudah menjadi basis pelanggan,” katanya.

Namun Praktisi Teleamtika Suryatin Setiawan membantah paradigam Joy dengan mengatakan secara harafiah SLI adalah jasa suara. “Tiga operator sudah ideal. Jangan ditambah lagi. Jika kebanyakan akan seperti di seluler yang berujung perang tarif dan kualitas anjlok,” katanya.

Senada dengan Suryatin, Pengamat Telematika dari Universitas Indonesia Gunawan Wibisono mengatakan, tidak pada tempatnya ditambah pemain baru di jasa SLI mengingat kinerja BTEL saja belum deivaluasi.

“Seharusnya pemerintah mengevaluasi dulu pemenuhan lisensi modern milik pemain baru. Selai itu, kebanyakan pemain juga tidak bagus,” katanya.

Gunawan mengingatkan, nafsu pemerintah untuk membuka banyak akses sambungan ke luar negeri justru berbahaya mengingat di masa depan perang yang terjadi adalah pertempuran informasi.

“Jika pintu banyak dibuka penjagaan tentunya lemah. Indonesia akan mudah diserang. Apalagi yang membuka perusahaanya dikuasai oleh asing,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s