180409 Blok Ambalat Berpotensi Hasilkan Minyak

JAKARTA—Pemerintah mengungkapkan sumur minyak yang berada di Blok Ambalat, sekitar perairan laut Sulawesi, berpotensi menghasilkan minyak dengan kemampuan produksi sekitar 30 hingga 40 ribu barel per hari.

“Hasil penelitian sementara dari lima sumur untuk lokasi Aster terdapat potensi produksi minyak sebesar itu,” ungkap Dirjen Migas Evita Legowo di Jakarta, Jumat (17/4).

Dikatakannya, tak lama lagi pemerintah dan ENI Ambalat Ltd selaku operator pengelola akan melakukan tes produksi. “Penelitian dilakukan selama tiga hingga empat bulan ke depan,” katanya.

Seperti diketahui, kegiatan eksplorasi migas di perairan laut Sulawesi khususnya di sekitar Ambalat sudah dimulai pada 1999 dengan penanda tangan Production Sharing Contract (PSC) oleh operator ENI Ambalat Ltd pada tanggal 27 September 1999. Pada tanggal 12 Desember 2004 juga ditandatangani kontrak PSC dengan Unocal pada Blok Ambalat Timur ( East Ambalat ). ENI di Blok Bukat sudah mengebor 3 sumur di lokasi Aster, dengan posisi di selatan. ENI menguasai 2 blok yakni di Bukat dan Ambalat yang terletak berdampingan.

Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro mengatakan, adanya temuan baru tersebut akan membantu penurunan produksi minyak Indonesia . “Saat ini per hari dihasilkan 900 ribu barel per hari dari seluruh sumur di Indonesia . Kita menargetkan akn menjadi satu juta barel per hari. Apalagi jika blok Cepu sudah beroperasi,” katanya.[dni]

180409 Pemerintah Sedang Kaji Saham Newmont

esdmJAKARTA—Pemerintah sedang mengaji harga yang layak dari saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) untuk pelepasan tahun 2008 dan 2009 masing-masing sebesar tujuh persen.

“Hak pemerintah ada pada periode itu. Sedangkan untuk periode pelepasan 2006 dan 2007 itu haknya pemerintah daerah,” ungkap Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Jakarta, Jumat (17/4).

Dikatakannya, pemerintah saat ini sedang melakukan due diligence akan harga dari saham yang menjadi haknya. Sedangkan untuk harga saham dari pemerintah daerah juga sedang coba dinegosiasi. “Kita sudah membentuk tim untuk mengaji. Hasilnya akan dilaporkan ke departemen keuangan. Hal ini karena wewenang untuk memutuskan pembelian ada di departemen tersebut, “ katanya.

Seperti diketahui, pada 31 Maret 2009 Arbitrase Internasional memutuskan NNT untuk melepas 17 persen sahamnya ke pemerintah Indonesia dalam waktu 180 hari sejak keputusan Saham yang dijual harus bebas gadai atau penjaminan.

Hal ini mengingat NNT menggadaikan 80 persen sahamnya kepada Bank Ekspor Impor Jepang, Bank Ekspor Impor US dan KFW Jerman, untuk pinjaman senilai satu miliar dollar AS pada 1986. NNT sendiri seperti yang tercantum dalam kontrak karya yang ditandatangani pada 2 Desember 2006 harus menjual 31 persen sahamnya kepada pihak Indonesia (pemerintah atau swasta) dalam kurun waktu lima tahun sejak berproduksi yakni antara 2006 hingga 2011.

Jadwal pelepasan saham tersebut adalah 3 persen pada 2006 dan masing-masing 7 persen setiap tahun hingga 2011. Pada praktiknya m NNT telah menawarkan sahan dengan harga jual 3 persen, 7 persen, dan 7 persen untuk tahun 2006, 2007, dan 2008, masing-masing sebesar 109 juta dollar AS, 282 juta dollar AS, dan 426 juta dollar AS.

Karena berbagai hal, eksekusi penjualan saham batal terlaksana, dan berujung pada keluarnya keputusan dari arbitrase internasional belum lama ini. Tambang batu hijau yang dikuasai oleh NNT sendiri ditaksir memiliki cadangan mineral sebesar 36,36 miliar dollar AS atau setara dengan 407 triliun rupiah. Nilai itu berasal dari 11,2 miliar pound tembaga, 14,7 juta ounce emas, dan 27,6 juta ounce perak.

Dirjen Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Departemen ESDM Bambang Setiawan menambahkan, putusan arbitrase memang sudah menyatakan harga divestasi Newmont tahun 2006 dan 2007 sudah final. “Namun, kalau disepakati kedua belah pihak untuk berubah, kenapa tidak,” katanya.

Menurut dia, pihaknya ingin harga saham divestasi yang lebih rendah agar menguntungkan bagi negara. Ia juga mengatakan, pihaknya akan mengundang Newmont untuk menegosiasikan kembali harga saham divestasi 2006-2009 pada pekan depan.

Mengenai saham bebas gadai, menurut Bambang, Newmont sudah menjamin saham terbebas dari gadai saat pembayaran dilakukan. “Kalau memang ingin membeli tentunya kita tidak mau ada saham gadai,” tegasnya.[dni]

170409 Inti dan BTEL Tertarik BWA

wimax-1JAKARTA–PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Inti) dan PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) tertarik ikut tender Broadband Wireless Access (BWA) yang pengumuman lelangnya akan dimulai pada 19 April nanti.

Kedua perusahaan ini diperkiran akan berkompetisi dengan Telkom, Indosat, dan konsorsium Penyedia Jasa Internet (PJI).

Tender BWA sendiri akan menyediakan 15 zona di spektrum 2,3 GHz, dimana untuk setiap zona tersedia dua blok frekuensi atau 30 MHz.

Direktur General Affairs dan HRD Inti Dayu Rengganis mengatakan, majunya Inti tak bisa dilepaskan dari adanya kebijakan terbaru yang memperbolehkan konsorsium untuk maju dalam tender.

“Kami akan maju dalam bentuk konsorsium. Sekarang sedang dikaji segala kemungkinannya,” katanya di Jakarta, Kamis (16/4).

Dikatakannya, kemungkinan rekanan yang digandeng bisa saja para PJI atau operator telekomunikasi.

Sementara Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi mengatakan, sedang menimbang akan maju sendiri atau dalam bentuk konsorsium.

“BTEL adalah perusahaan terbuka, tidak mudah membentuk konsorsium dalam waktu dua bulan,” jelasnya.

Dikatakannya, sebagai perusahaan terbuka manajemen harus mengikuti aturan untuk membuat konsorsium. “Semua langkah yang dibuat oleh manajemen harus mendapat persetujuan pemegang saham. Tetapi jika harus maju bersama konsorsium, kami siap saja,” katanya.

Sementara Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar menegaskan, perluasan kepersertaan tender BWA yang membolehkan konsorsium ikut lelang bukanlah untuk mengakomodasi kepentingan asing.

“Konsorsium itu harus membentuk entitas baru dan investor asing maksimal 49 persen. Darimana itu isu mengakomodasi kepentingan asing,” tegasnya.[Dni]