170409 Operator Tidak Butuh Insentif

orang-teleponJAKARTA–Operator telekomunikasi menegaskan tidak membutuhkan insentif berupa stimulus dana segar dari pemerintah untuk selamat dari kondisi krisis ekonomi.

“Kami tidak membutuhkan stimulus uang segar layaknya di industri lainnya. Yang dibutuhkan itu adalah adanya regulasi yang mendukung operator untuk selamat dari kondisi krisis,” ujar Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi, di Jakarta, Kamis (16/4).

Dikatakannya, selama ini masih ada regulasi yang ketinggalan dari perkembangan teknologi. Sedangkan di industri telekomunikasi, operator mengandalkan teknologi sebagai inovasi dan alat memenangkan persaingan.

“Banyak regulasi yang tidak mengikuti perkembangan zaman. Karena itu saran saya Fundamental Technical Plan (FTP) 2000 perlu diubah terutama kajian tentang penomoran, struktur jaringan, dan routing,” jelasnya.

Rakhmat pun meminta regulator harus bisa memisahkan hal yang diatur secara rigid oleh regulasi atau sesuatu yang diatur secara mandiri oleh industri.

“Tidak bisa semuanya diatur. Ada yang namanya negosiasi bisnis antarperusahaan. Kalau regulator masuk ke hal teknis tidak ada yang namanya kompetisi,” katanya.

Menanggapi hal itu, Ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Basuki Yusuf Iskandar mengakui, ketika liberalisasi sektor telekomunikasi dibuka beberapa tahun lalu regulasi yang dibuat sangat ketat.

“Kita membutuhkan regulasi yang ketat kala itu. Hal ini karena hanya ada beberapa pemain. Jika tidak diatur secara ketat yang terjadi adalah menguntungkan sebagian pihak dan negara tidak mendapatkan apa-apa,” katanya.

Namun, Basuki melanjutkan, dua tahun belakangan regulasi yang dikeluarkan sudah mengakomodasi kebutuhan industri. “Sekarang sudah tidak begitu ketat. Kita mengakomodasi kebutuhan industri. Buktinya untuk proyek Palapa Ring pemerintah sedang menimbang untuk memasok dana melalui ICT Fund,” jelasnya.

Aturan QoS
Selanjutnya Basuki mengatakan, pada tahun ini program kerja dari badan yang dipimpinnya adalah menjaga kualitas layanan (Quality of Service/QoS) dari para operator.

“Rencananya akan keluar KepDirjen yang merupakan petunjuk teknis dari peraturan menteri tentang QoS tak lama lagi,” katanya.

Dalam regulasi terbaru itu akan berisi tentang penilaian kinerja dari para operator seperti pengukuran call drop dan lainnya. “Jika ada yang tidak memenuhi aturan akan dikenakan denda sesuai Peraturan Pemerintah tentang denda. Denda berlaku untuk kinerja selama setahun,” jelasnya.

Direktur Consumer Telkom I Nyoman G Wiryanata mengaku tidak khawatir dengan adanya regulasi terbaru tentang Qos karena kompetisi memang mengarah ke pelayanan di masa depan.

“Tidak ada masalah dengan regulasi itu. Yang penting operator diajak bicara. Jangan memutuskan secara sepihak,” katanya.

Rakhmat mengatakan, kualitas layanan sudah dimasukkan sebagai bagian dari biaya oleh operator sehingga tidak akan menjadi beban berinvestasi.

“Kami hanya membutuhkan adanya kesamaan cara mengukur. Jangan pakai logika regulator,” katanya.

Dicontohkannya, untuk menghitung call drop, tidak bisa regulator hanya mengambil sampel di beberapa daerah sedangkan operator beroperasi secara nasional.

Untuk diketahui, sektor telekomunikasi pada tahun lalu mampu menahan laju inflasi akibat adanya penurunan tarif ritel sebesar 40 persen. Akibat dari penurunan tarif ritel tersebut QoS dari operator mengalami penurunan karena trafik meningkat.

Tahun ini diperkirakan sektor telekomunikasi memiliki belanja modal sebesar 70 triliun rupiah dengan omzet mencapai 160 triliun rupiah.[Dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s