080409 Membangkitkan “Batang Tarandam”

logo-kppuKiprah Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai lembaga yang disegani oleh pelaku usaha mendapatkan cela pada tahun lalu. Corengan hitam itu apalagi kalau bukan tertangkapnya salah seorang Komisioner, Muhammad Iqbal bersama seorang eksekutif Lippo Grup, Billy Sindoro, di salah satu hotel berbintang di Jakarta, Ramadhan tahun lalu.

Iqbal tertangkap tangan menerima sejumlah uang dari Billy terkait kasus Direct Vision dalam monopoli siaran Liga Inggris. Entah kenapa, Iqbal yang selama ini terkenal vokal di kalangan pewarta bisa terjerat oleh aksi Billy The Kid dari Karawaci itu.

Sejak kasus itu mencuat, kredibilitas KPPU yang sebelumnya ditakuti oleh pelaku usaha masuk ke titik nadir. Istilah masyarakat Minangkabau, Batang Alah Tarandam. Jika diartikan secara lepas, istilah itu bermakna citra KPPU telah masuk ke dalam pusaran air yang dalam sehingga susah diangkat kembali.

Namun , tidak demikian di mata seorang Benny Pasaribu. Politisi yang dekat dengan Partai Moncong Putih pimpinan Megawati Soekarno Putri dan sempat menjadi calon gubernur Sumatera Utara itu, merasa yakin ‘Batang” masih bisa dibangkitkan.

Akhirnya berbagai upaya membangkitkan “batang tarandam” dilakukan oleh Benny begitu menjabat posisi Ketua di lembaga tersebut. Mulai dari janji akan tampil sebagai lembaga yang bersih, tidak tebang pilih kasus, hingga agresif mencari terobosan untuk mencegah monopoli yang merugikan masyarakat.

Sebagai politisi, Benny sangat pintar memilih kasus atau potensi kasus yang bisa menjadi isu menarik bagi pewarta yang mulai enggan untuk datang ke Jl Juanda (kantor KPPU).

Dimulai dari niat KPPU untuk menyelidiki adanya praktik monopoli oleh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menguasai pupuk dan LPG, menyelidiki indikasi monopoli menara bersama di Badung, Bali, kartel semen dan gula, serta menerbitkan peraturan tentang merger.

Terakhir menjadikan kasus akuisisi Alfa oleh Carrefour berlanjut ke pemeriksaan yang bisa berujung pada putusan komisi dimana Carrefour kemungkinan kembali terkena palu godam kedua oleh lembaga tersebut.

Direktur Komunikasi KPPU A Junaidi membantah jika agresifnya lembaga belakangan ini dalam mengulas indikasi praktik monopoli sebagai upaya memperbaiki citra organisasi alias lip service ke masyarakat. “Setiap kasus yang diselidiki itu memiliki payung hukum yakni undang-undang anti monopoli. Kami bergerak karena indikasinya memang kuat,” katanya.

Benny menjelaskan, banyak terjadi salah persepsi di masyarakat tentang KPPU. Lembaga ini banyak dianggap sebagai pengawas tender. “Hampir 80 persen kasus yang dilaporkan tentang tender. Mengawasi tender itu sama seperti pemadam kebakaran. Lembaga ini harus mencegah sebelum terjadinya praktik monopoli,” tegasnya.

Benny boleh yakin dengan langkahnya. Namun, banyak pelaku usaha masih mencibir langkah yang diambil KPPU sejak dipimpin seorang Benny, khususnya terkait regulasi merger dan akusisi.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofian Wanandi menilai langkah KPPU mengeluarkan regulasi tersebut sebagai bentuk intervensi yang berlebihan sehingga membuat dunia usaha kehilangan ritme dinamisnya.

“Tidak semuanya harus diatur dalm berusaha. Hal-hal detail jika datur, bagaimana cara pengusaha berbisnis,” katanya.

Sementara itu, seorang mantan komisioner KPPU yang enggan disebutkan namanya mengakui, akan berat menaikkan kembali citra KPPU, terutama sejak sosok Syamsul Maarif menjadi salah satu hakim di Mahkamah Agung.

“Sekarang di lembaga tersebut isinya kebanyakan politisi. Kalau begini, sudah susah meraih kembali kepercayaan masyarakat. Apalagi Benny adalah salah seorang yang ikut memutuskan kasus Direct Vision,” katanya.[doni ismanto]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s