080409 KPPU Pantau Dua Komoditi

semen-angga-dalamJAKARTA—Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sedang memantau para pelaku usaha dari dua komoditi yang ditengarai melanggar UU No 5/99 tentang anti persaingan tidak sehat.

Dua komoditi yang sedang dipantau itu adalah semen dan minyak goreng. Minyak goreng telah dipantau sejak Maret lalu dan akan selesai proses pemeriksaannya pada Mei nanti. Sementara untuk semen dipantau mulai awal bulan ini dan akan selesai verifikasinya pada Juli nanti.

“Saat ini baru pemantauan awal. Belum ditentukan, perlukah dilanjutkan pada pemeriksaan awal atau pembentukan majelis komisi. Langkah berikut itu tergantung pada hasil pantauan,” ujar Komisiner KPPU Ahmad Ramadhan Siregar, di Jakarta, Selasa (7/4).

Dijelaskannya, berdasarkan pantauan sementara terdapat indikasi praktik kartel di kedua komoditi tersebut. Di semen, harga komoditi tersebut lebih mahal sebesar 30 hingga 40 persen ketimbang di negara Asean lainnya.

Tercatat, pada 2007 harga semen di Indonesia 83,8 dollar AS per ton, sedangkan di Malaysia berkisar 62,6 dollar AS per ton, Philipina (84,5 dollar AS), Vietnam (57,75 dollar AS), dan Thailand (67,87 dollar AS). Dan saat ini harga semen berkisar 100 dollar AS per ton di Indonesia .

“Terdapat indikasi harga semen hanya digerakkan oleh beberapa pemain atau grup besar. Saya tidak mau menyebut nama pelakunya, tetapi yang jelas nantinya semua akan kami panggil,” katanya tanpa menyebutkan nama pelaku usaha.

Direktur Komunikasi KPPU A. Junaidi menambahkan, selama ini para pelaku usaha di komoditi semen selalu mengelak tuduhan monopoli dengan mengatakan yang terjadi selama ini adalah adanya keunggulan kompetitif dari porduk. “Keunggulan itu bisa karena lokasi pendirian pabrik atau jalur distribusi. Dan memang, banyak pemain yang memiliki pabrik menjadi penguasa di satu kota ,” katanya.

Berdasarkan catatan, pelaku usaha besar di bisnis semen adalah Semen Gresik, Indocement, dan Holcim.

Sedangkan di komoditi minyak goreng juga berlaku anomali dimana penurunan harga crude palm oil (CPO) tidak membuat adanya perubahan harga minyak goreng (curah dan kemasan). Untuk diketaui, pembentukan harga minyak goreng didominasi harga CPO, sekitar 50-80 persen dari biaya produksi.

Sejak pertengahan tahun lalu, harga CPO internasional sudah turun drastis hingga 30 persen. Namun yang mengherankan harga minyak goreng tidak juga turun 30 persen.

“Padahal, di luar negeri harga minyak goreng mengikuti CPO. Biasanya ada elastisitas. Nah, kita ingin mengetahui adakah permainan dalam penetapan harga di pasar,” jelasnya.

Apalagi, lanjutnya, sebagian besar pemain di komoditi minyak goreng tidak hanya memiliki pengolahan CPO tetapi juga kelapa sawitnya. Berdasarkan catatan dua pemain besar di minyak goreng adalah Sinar Mas grup Indofood. “Pemainya 7 hingga 8 perusahaan besar. Namun mereka ini menguasai 80 persen pangsa pasar,”katanya.


Diungkapkannya, untuk kasus semen akan dipanggil regulator, pelaku usaha, asosiasi, dan pengamat. “Hari ini harusnya mendengarkan keterangan dari Menperin. Namun, dibatalkan dan rencananya digantikan oleh Dirjen Agro dan Kimia, tetapi terakhir dibatalkan juga,” katanya.


Sedangkan untuk minyak goreng, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) dan Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI) telah dipangil belum lama ini.[dni]


Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s