040409 Kasus Carrefour: Pemasok Akui Ada Upaya Persamaan Termin

carrefourJAKARTA— Para pemasok lokal yang menyuplai barang ke raksasa ritel dari Perancis, Carrefour, mengakui adanya upaya menyamakan persyaratan (termin) sejak Alfa Retailindo Tbk (ALFA) diakuisisi oleh peritel tersebut.

“Memang ada indikasi sejak Alfa diakuisisi terjadi upaya menyamakan termin oleh Carrefour untuk memasukkan barang ke Alfa atau Carrefour,” ungkap Juru bicara aliansi sembilan asosiasi Putri K Wardani, kepada Koran Jakarta, Jumat (3/4).

Kesembilan organisasi yang diwakili oleh eksekutif Mustika Ratu itu adalah Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi), Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI), Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Aprogakob), Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Se-Indonesia (Gapmmi), Asosiasi Pemasok Garmen & Aksesoris Indonesia (APGAI), Gabungan Elektronika Indonesia (Gabel), Asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim), dan National Meat Processor Association (Nampa).

Putri mengatakan, saat ini pihaknya sedang mengumpulkan bukti untuk membuktikan indikasi tersebut. “Sekarang ini sedang ada negosiasi trading term. Jadi, kita belum firm sampai negosiasi ini semuanya beres,” katanya.

Seperti diketahui, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) mengungkapkan, terdapat indikasi praktik persaingan tidak sehat yang dilakukan oleh Carrefour terhadap para pemasok, khususnya dari pemain lokal.

Lembaga tersebut mencontohkan perbuatan Carrefour terhadap pemasok kosmetik sehingga terjadinya kenaikan biaya yang ditanggung dari dulunya cuma 13 persen meningkat mejadi 33 persen di luar listing fee.

Kenaikan tersebut dipicu oleh dibebankannya biaya promosi kepada pemasok dari 8,5 persen menjadi 11 persen dan diskon promosi naik dari 3,5 persen menjadi enam persen.

Dukung KPPU

Berkaitan dengan aksi KPPU yang melakukan pemeriksaan terhadap perilaku berusaha Carrefour setelah mengakuisisi Alfa, Putri mendukung kebijakan lembaga tersebut.

“KPPU tentu bergerak karena adanya bukti yang kuat. Kami harap ini menjadi pelajaran bagi peritel lain untuk berusaha dan memperlakukan pemasok,” katanya.

Ketika ditanya adakah peritel lain yang berperilaku layaknya Carrefour, Putri mengaku sedang memantau terus di lapangan. “Tetapi saya yakin jika KPPU agresif seperti ini, peritel akan berfikir ulang memperlakukan pemasok secara semena-mena,” katanya.

Secara terpisah, Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Tradisional se-Indonesia (APPSI) Ngadiran,

mengharapkan, KPPU benar-benar menuntaskan dugaan monopoli oleh Carrefour secara tuntas. “Kasus ini bisa menjadi jalan keluar bagi KPPU untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa independen dan bebas dari pengaruh pemilik modal,” katanya.

Dikatakannya, sudah bukan rahasia pemasok lokal dan pasar tradisional posisinya semakin terjepit akibat semakin kuatnya posisi daya tawar peritel. “Jika terus dibiarkan seperti itu, kematian tinggal menunggu waktu,” katanya.

Secara terpisah, Pengamat persaingan usaha Bambang P Adiwiyoto menyarakan, regulator perdagangan untuk bertindak terkait penetapan harga sewa.

“Penetapan harga sewa tempat itu bukan hak dari Carrefour. Jika mereka yang menentukan tentunya harga menjadi tak keruan. Seharusnya regulator yang menetapkan harga sewa,” katanya.

Menurut Bambang, seandainya Carrefour tidak memaksa Alfa hanya membeli barang dari pemasok yang ditunjuk oleh Carrefour, tentu indikasi adanya monopoli bisa dieliminr. “Sayangnya Carrefour bertindak sebaliknya,” katanya.

Bambang menyarankan, masalah kisruh bisnis hipermarket ini harus dikembalikan pada peraturan Gubernur yang menetapkan lokasi pendirian pusat perbelanjaan. “Sekarang kan semuanya sudah tidak jelas.. Berdirinya di pusat kota dan dekat pasar tradisional. Kalau begini, kisruhnya udah seperti benang kusut,” katanya.[dni]