270309 Belanja Iklan Meningkat 20 %

JAKARTA—Belanja iklan diperkirakan akan mencapai 27,6 triliun rupiah atau meningkat 10 hingga 20 persen dibandingkan tahun lalu yang mencapai 23 triliun rupiah.

Sekretaris Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I) DKI Jakarta, Ricky Pesik menjelaskan, tetap naiknya belanja iklan meskipun kondisi krisis ekonomi menghantam Indonesia dipicu oleh adanya kegiatan kampanye partai politik dan biaya iklan yang terus naik.

“Kedua hal itu memicu tetap terjadi pertumbuhan belanja iklan. Belajar dari kegiatan kampanye 1999 dan 2004, saat itu belanja iklan naik karena adanya kampanye. Diperkirakan pada akhir tahun nanti, iklan partai politik bisa menduduki posisi tiga besar,” katanya di Jakarta , Rabu ( 26/3).

Selain iklan partai politik, lanjutnya, produk lainnya yang bisa menduduki tiga besar adalah telekomunikasi dan consumers goods. “Apalagi sekarang kawasan Asia Pasifik mulai dilirik sebagai altrenatif pasar setelah kawasan Amerika dan Eropa dilanda krisis,” katanya.

Kondisi tersebut membuat industri periklanan Indonesia mendapat peluang baru tertutama dalam menggarap iklan. Hal ini karena adanya aturan yang mengharuskan iklan dibuat oleh tenaga lokal. “Kita sudah banyak mengeskpor tenaga kreatif seperti copy writer dan art director. Dan baru-baru ini tiga biro iklan Indonesia mendapatkan penghargaan di ajang Asia Pacific Advertising. Itu sudah membuktikan Indonesia mampu berbicara di industri ini,” katanya.[dni]

270309 Dephub Ketatkan Pengawasan Pesawat Tua

logo-dephubJAKARTA —Departemen Perhubungan akan mengetatkan pengawasan terhadap pesawat-pesawat berusia tua untuk meningkatkan kualitas maskapai penerbangan Indonesia .

”Langkah ini diambil menyusul banyaknya insiden yang melibatkan pesawat-pesawat tua,” kata Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal di Jakarta, belum lama ini.

Menhub menambahkan, pengecekan mendalam terhadap pesawat-pesawat yang mengalami masalah menjadi salah satu agenda pokok dalam program peningkatan pengawasan yang disebutkannya itu.

Menhub meminta setiap maskapai untuk meningkatkan prosedur dan intensitas perawatan pesawat, khususnya pesawat-pesawat yang tergolong berusia tua. Karena menurutnya, kelaikan terbang sebuah pesawat udara tidak dipengaruhi oleh usia dan frekwensi terbang, meski dari sisi operasional dinilai kurang efisien bila dibandingkan dengan pesawat berusia lebih muda.

Beberapa kasus yang melibatkan pesawat tua belum lama ini seperti dialami maskapai Sriwijaya Air dan Lion Air.

Menurut Menhub, dirinya telah meminta Komite Nasional Keselamatan Transportasi dan investigator Direktorat Kelaikan Udara dan Pengawasan Pesawat Udara (DKUPPU) Direktorat Perhubungan udara Dephub untuk melakukan penyelidikan terhadap dua maskapai.

Jika dari penyelidikan kedua institusi itu ditemukan ketidakberesan yang menyangkut hal teknis, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan menghentikan sementara operasi pesawat yang bersangkutan.

Pada kesempatan lain, Juru bicara Departemen Perhubungan Bambang S Ervan mengatakan, pihaknya akan melakukan inspeksi terhadap bengkel-bengkel pesawat skala menengah keci yang ditengarai sering melakukan perawatan pesawat tanpa memenuhi standar penerbangan.

“Dalam satu atau duabulan ke depan, akan ada pemeriksaan,” kata Bambang.

Bengkel skala kecil selama ini merupakan tempat perawatan komponen pesawat

yang belum memiliki sertifikat perawatan resmi maupun bengkel resmi skala menengah kecil bersertifikat, nemun kerap melakukan perbaikan di luar spesifikasi yang diizinkan.[dni]

250309 XL Dapatkan Pinjaman US$ 214 juta

xl-35JAKARTA —PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL) mendapatkan pinjaman senilai 214 juta dollar AS dari EKN Buyer Credit Facility untuk pembiayaan pembelian peralatan Ericsson dari Swedia dan Indonesia .

Dua bank asing, ABN AMRO Bank N.V.. (subsidiary undertaking of the Royal Bank of Scotland Group plc / RBS) dan Standard Chartered Bank, bertindak sebagai arranger untuk fasilitas tersebut.

Direktur Utama XL, Hasnul Suhaimi mengatakan, fasilitas tersenut merupakan tranche kedua dari total fasilitas pinjaman yang disetujui oleh EKN sebesar 428 juta dollar AS. Tranche pertama dari fasilitas ini telah ditandatangani di bulan Desember 2008.

“Kami berencana menggunakan dana pinjaman tersebut untuk membiayai sebagian kebutuhan belanja modal tahun 2008 dan tahun 2009,” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (24/3).[dni]

250309 Stimulus Perhubungan Terancam Molor

JAKARTA —Departemen Perhubungan (Dephub) memperkirakan stimulus untuk sektor perhubungan bisa mundur dari jadwal karena belum adanya kejelasan surat daftar isian pelaksana anggaran (DIPA) stimulus dari Departemen Keuangan.

Menteri Perhubungan Jusman Safii Djamal mengatakan, kajian program-program yang diusulkan kementrian dan lembaga berada di Departemen Keuangan. “Sampai batas yang disepakati, pada 18 Maret, usulan program proyek stimulus dibahas di situ,” katanya di Jakarta , Selasa (24/3).

Dikatakannya, pembahasan di Departemen Keuangan itu, dilakukan bersama dengan Panitia Anggaran dan komisi teknis. Pada proses ini, akan diputuskan proyek mana saja yang bisa ditetapkan dalam paket stimulus. “Artinya sesuai hak bujet DPR, ada proyek di daerah X dan Y, yang mungkin bisa memperoleh dana atau tidak,” paparnya.

Setelah pembahasan, dikatakannya, seharusnya Departemen Perhubungan menerima DIPA. “Tetapi sampai saat ini, kami belum terima,” ujarnya.

Berdasarkan catatan, Dephub mendapat alokasi dana sebesar 2,2 triliun rupiah dari alokasi stimulus tambahan di APBN sebesar 12,2 triliun rupiah. Jumlah ini lebih kecil dari yang diajukan, yaitu sebesar 3 triliun rupiah.

Angka tersebut mengalami penyusutan karena ada beberapa proyek yang tidak sesuai dengan alokasi. Proyek yang tidak sesuai itu, antara lain pembangunan dermaga senilai 58 miliar rupiah. Akibatnya, dari total stimulus 2,2 triliun rupiah, masih harus dikurang lagi 58 miliar rupiah.[dni]

250309 Jasa Logistik Hanya Tumbuh 5 Persen

JAKARTA—Jasa logistik hingga akhir tahun nanti diperkirakan hanya akan tumbuh sebesar lima persen atau mencapai nilai bisnis sebesar 315 juta dollar AS. Pada tahun lalu nilai bisnis dari sektor tersebut sekitar 300 juta dollar AS.

“Krisis ekonomi membuat pertumbuhan di jasa ini cenderung flat. Perkiraan adanya pertumbuhan tak lebih dari single digit,” ungkap Senior Technical Advisor PT Birotika Semesta/ DHL Express, di Jakarta, Selasa (24/3).

Dikatakannya, bukti dari krisis ekonomi sudah berdampak ke sektor jasa tersebut adalah terpukulnya kinerja ekspor Indonesia selama Januari hingga Februari 2009. Tercatat, selama dua bulan tersebut terjadi penurunan kegiatan ekspor sebesar 40 persen.

Ekspor Indonesia pada Januari hanya berkisar 6,8 miliar dollar AS pada bulan Januari 5,2 miliar dollar AS pada Februari. Padahal pada semester I 2008 yang lalu rata-rata ekspor Indonesia masih diatas 10 miliar dollar AS setiap bulan.

Sebagai fasilitator perdagangan, lanjutnya, DHL berkepentingan agar sektor riil tetap bergulir sehingga jasanya tetap terpakai. “Pemerintah memberikan berbagai stimulus bagi sektor riil, tentunya harapan kami ini memberikan dampak juga ke jasa yang digeluti DHL,” katanya.

Dijelaskannya, terdapat lima sektor usaha yang banyak berkontribusi bagi pendapatan DHL. Kelima sektor tersebut adalah tekstil dan garmen, manfaktur elektronik, peralatan engineering untuk pertambangan, farmasi, dan perbankan. “Hingga saat ini kami masih menguasai 50 persen pengiriman barang ke internasional di Indonesia,” jelasnya.

Pada kesempatan sama, Ketua Pelaksana Teknis National Single Windows (NSW) Indonesia Susiwijono mengatakan, pemerintah sedang mengembangkan konsep NSW agar lalu lintas barang antar negara (ekspor-impor) lebih terkoordinasi di seluruh instansi negara.

.

Dijelaskannya, penerapan sistem NSW di Indonesia, menjadi bagian dari kesepakatan di tingkat regional ASEAN, dimana 10 pemimpin negara anggota ASEAN telah menyepakati, bahwa untuk tahap awal ini, enam negara anggota (ASEAN-Six) yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Philipina dan Brunei, akan menerapkan sistem NSW di masing-masing negara paling lambat pada tahun 2009 ini dan keempat negara ASEAN lainnya (CLMV) diharapkan dapat menyusul dan mulai bergabung pada tahun 2012.

Dikatakannya, penerapan sistem NSW di Indonesia, dilakukan secara bertahap, melalui suatu kebijakan strategi pentahapan yang sejak awal telah dituangkan di dalam “Blueprint Pembangunan dan Penerapan Sistem NSW”.

“Sampai dengan saat ini, penerapan sistem NSW telah memasuki tahapan “Implementasi Tahap Ketiga”, sebagimana telah di-launching oleh Pemerintah pada tanggal 23 Desember 2008 yang lalu,” katanya.

Pada tahapan tersebut telah dilakukan penerapan Sistem NSW-Impor, di 5 ( lima ) pelabuhan utama di Indonesia, yaitu di Tanjung Priok, Tanjung Perak, Bandara Soekarno Hatta, Tanjung Emas dan Pelabuhan Belawan.

Pada tahapan ini pula, ditargetkan untuk dapat mulai dilakukan ujicoba sistem NSW-Ekspor, yang akan mulai di-implementasikan di Pelabuhan Tanjung Perak pada tanggal 1 April 2009 ini.

“Mengingat begitu beratnya tantangan dan permasalahan yang dihadapi para eksportir di Indonesia , maka penerapan sistem pelayanan yang baru, harus dilakukan secara hati-hati, dan senantiasa mengikut sertakan partisipasi aktif dari seluruh eksportir,” katanya.

Selain beberapa program kegiatan tersebut, saat ini Bea dan Cukai juga sedang merumuskan kebijakan yang baru yang terkait dengan Tatalaksana Impor Untuk Dipakai ( PerDirjen BC Nomor P-42/BC/2008 tgl 31 Desember 2008), serta kebijakan mengenai Tatalaksana Kepabeanan di Bidang Ekspor ( PerDirjen BC Nomor P-40/BC/2008). Demikian juga perubahan format dokumen PEB/ Pemberitahuan Ekspor Barang (P-41/BC/2008) dan Tatacara Pembayaran dan Penyetoran Penerimaan Negara (P-39/BC/2008).

Keempat kebijakan yang baru tersebut, sedianya akan mulai diberlakukan di beberapa pelabuhan besar (Tanjung Priok & Bandara SH) mulai tanggal 1 April 2009 mendatang.

“Melihat perubahan yang terjadi di lapangan dan semakin membesarnya dampak krisis perekonomian global, maka aturan dan regulasi yang telah diatur di dalam keempat PerDirjen BC tersebut, saat ini sedang dilakukan review dan perumusan kembali, agar dapat diterapkan dan applicable di lapangan, tanpa menambah beban dan menimbulkan hambatan bagi para pelaku usaha,” katanya.

Dijelaskannya, substansi ketentuan yang diatur di dalam beberapa PerDirjen tersebut, pada dasarnya merupakan perubahan dan penyempurnaan, atas beberapa mekanisme dan sistem layanan impor dan ekspor, yang selama ini berpotensi menimbulkan kendala dan hambatan di tataran operasional di lapangan. Semua perubahan tersebut, akan dituangkan kedalam penyempurnaan business-process yang menjadi dasar dalam development SKP (Sistem Komputer Pelayanan) Impor maupun SKP Ekspor.

Diharapkannya, penerapan SKP Impor dan SKP Ekspor yang baru ini, diproyeksikan akan mulai segera dilaksanakan per 1 Mei 2009 di Tanjung Perak, dan secara bertahap akan diterapkan di 117 Kantor Pabean lainnya di seluruh Indonesia, sehingga diharapkan pada akhir Desember 2009 sudah dilakukan penerapan secara mandatory di tingkat nasional.[dni]

240903 Hasnul Suhaimi: Saya Bukan Kutu Loncat

hasnul_suhaimiNama pria yang lahir di Bukittinggi pada 23 April 1957 silam ini tidaklah asing di industri telekomunikasi Indonesia.

Sepak terjang pria yang dulunya mengabdi selama 23 tahun di Indosat ini sebelum menjadi orang nomor satu di anak perusahaan Telekom Malaysia (TM), XL, lumayan membuat bergetar dunia telekomunikasi lokal.

Tak percaya? Lihatlah keberhasilannya menyulap XL yang dianggap anak bawang menjadi pemain kompetitif di jasa seluler selama hampir tiga tahun belakangan. XL yang awalnya hanya memiliki ribuan BTS dengan sekitar 2,6 juta pelanggan, dalam waktu singkat berubah menjadi raksasa baru.

Pada 2008, XL meraih pendapatan usaha sebesar 12,156 miliar rupiah atau naik 45 persen ketimbang tahun sebelumnya dengan 26 juta pelanggan. Tak hanya itu, pada tahun lalu XL berhasil membangun sekitar lima ribuan BTS sehingga pada tahun lalu jumlah infrastruktur yang dimiliki melebihi pemain nomor dua, Indosat.

Tercatat, XL memiliki sekitar 16.729 BTS yang menghasilkan jumlah outgoing minutes sebesar 54,9 milliar menit.

Ibarat pohon yang semakin tinggi, tentu angin makin kencang menerpanya. Hasnul pun tak luput dari hal itu. Urang awak ini diisukan akan meninggalkan XL pada Juni depan. Isu yang beredar adalah TM tidak lagi memperpanjang kontraknya atau Hasnul pindah ke operator lain.

Namun, pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) XL pekan lalu, Presiden Komisaris XL Tan Sri Dato’ Ir Muhammad Radzi bin Haji Mansor menegaskan, pihaknya masih happy dengan kinerja seorang Hasnul.

Menurut sang Dato’ kinerja seorang tentu dilihat dari laporan keuangan yang dihasilkan. “Anda lihat saja apa yang telah dihasilkan Saudara Hasnul selama ini. Dan di susunan direksi juga tidak ada perubahan. Itu tandanya kami masih percaya dengan beliau,” tegasnya.

Sinyal yang dilontarkan wakil pemegang saham tentunya mengakhiri isu yang tak sedap selama beberapa bulan belakangan ini. Ya, Hasnul untuk tiga tahun ke depan akan tetap memimpin XL. Untuk mengetahui kebijakan selama tiga tahun ke depan, wartawan Koran Jakarta, Doni Ismanto, berkesempatan mewawancarai penggemar golf itu belum lama ini. berikut petikannya.

T: Selamat, Anda terpilih kembali memimpin XL.

J: Terima kasih, saya memang banyak mendengar isu tidak sedap belakangan ini. Saya dicitrakan seperti kutu loncat yang suka gonta-ganti perusahaan. Padahal sejak dulu baru dua kali pindah perusahaan yakni ke Indosat dan XL.

T: XL berhasil menunjukkan sejumlah prestasi di bawah kepemimpinan Anda, apa rahasianya

J: Kekompakan. Itu rahasianya. Tim manajemen di XL solid. Dan semua itu di sokong oleh pemegang saham yang solid juga. Pemegang saham percaya penuh dengan manajemen. Mereka (pemegang saham) datang sebulan sekali untuk mengetahui sejauh mana strategi dijalankan, selanjutnya semua diserahkan ke manajemen.

T: Ukuran sukses menurut Anda dari sisi raihan pelanggan atau pendapatan

J: Kami selalu konsen ke raihan pendapatan dua tahun ini. Sejak 2006 selalu terjadi pertumbuhan yang signifikan. Dari dulu XL selalu melihat keberhasilan dengan peningkatan pelanggan yang, riil guna meningkatkan pendapatan.

T: Kompetisi makin ketat tahun ini. Strategi apa yang akan digunakan.

J: Kami akan tetap merangsang pelanggan untuk berkomunikasi. Selain akuisisi pelanggan, kami akan merangsang pelanggan lama untuk lebih banyak berkomunikasi. Salah satunya dengan cross selling. Contohnya, jika ada pelanggan yang tidak suka pakai SMS, kita rangsang agar mau menggunakan jasa tersebut. Hal ini karena suara dan SMS adalah sumber pendapatan utama bagi XL. Sedangkan layanan data bisa dikatakan sebagai retention.

T: Banyak kalangan menganggap tahun ini adalah cobaan sebenarnya bagi industri telekomunikasi.

J: Tiga tahun ke depan memang sisa-sisa pertumbuhan dari industri ini. XL sendiri meskipun menargetkan ada 4 juta pelanggan baru, tetap berharap lebih banyak. Setelah tiga tahun ke depan, barulah bicara bersaing retensi. Persaingan nantinya akan lebih banyak ke Value Added Services (VAS) nantinya secara cross selling

T: Apa harapan XL kepada regulator untuk membangun industri ke depan

J: Dibutuhkan kebijakan yang lebih mendukung untuk peningkatan akses internet. Meskipun kami fokus kepada suara dan SMS untuk meningkatkan pendapatan, namun transfer knowledge itu tetap pada internet.

Regulator harusnya melihat segala sesuatu dengan holistik. Contohnya dalam pemberian frekuensi 3G. tidak tepatlah dibanderol dengan harga ratusan miliar rupiah. Jika kebijakan itu yang diambil, operator yang punya frekuensi tidak bisa membangun, sedangkan yang ingin membangun tidak diberikan frekuensi.

T: Apa dampak harga frekuensi yang mahal

J: Impian satu komputer satu sekolah yang didengugkan pemerintah tak akan tercapai. Apa bedanya antara wiimax dan 3G. fungsinya sama. Kenapa harga frekuensi 3G dibedakan. Padahal jika diberikan harga frekuensi yang murah masyarakat akan diuntungkan dengan biaya internet yang murah. Kondisi ini akan memicu adanya tambahan PPn dan larisnya penjualan modem serta komputer. Semua ini ada turunannya sehingga menggerakkan ekonomi rakyat. Inilah yang dinamakan membangun ekosistem.

210309 Sriwijaya Alihkan Pendaratan

202062_sriwijayaJAKARTA – Pesawat milik maskapai penerbangan Sriwijaya Air melakukan pengalihan pendaratan (divert) salah satu penerbangannya ke Bandara Hang Nadim, Batam, Senin (23/3). Rencananya, pesawat Boeing 737-300 yang terbang dari Bandara Raja Haji Fisabilillah Tanjungpinang tersebut mendarat di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Juru Bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang menyatakan, pengalihan pendaratan dilakukan karena beberapa menit setelah pesawat lepas landas diketahui ada mesin yang tidak berfungsi.

”Setelah terbang, engine nomor satu (sebelah kiri) diketahui tidak berfungsi. Sedangkan engine satunya (sebelah kanan) masih normal. Karena itu diputuskan untuk divert ke Bandara Hang Nadim Batam,” kata Hanna di Jakarta, Senin (23/3).

Pesawat dengan kode registrasi PK-CJN itu, jelas Hanna, langsung diperbaiki di Hang Nadim. Sementara penerbangan sebanyak 108 penumpangnya dialihkan ke penerbangan lain dari Batam ke Jakarta . “Sebagian telah diterbangkan dan sebagian lagi menyusul, menunggu penerbangan selanjutnya,” ujar Hanna.

Pesawat yang divert tersebut lepas landas dari Tanjungpinang sekitar pukul 07.10 WIB dan direncanakan tiba di Cengkareng sekitar pukul 08.40 WIB. Pesawat tersebut berhasil melakukan pendaratan dengan aman di Batam.

“Sesuai dengan prosedur, kami melakukan pendaratan saat ada masalah ke bandara terdekat. Semua penumpang selamat karena pendaratan tidak masalah. Pesawat saat ini juga tengah diperiksa oleh teknisi internal kami,” ujarnya.

Secara terpisahm Juru Bicara Komite Keselamatan Transportasi JA Barata mengatakan, peristiwa yang dialami pesawat Sriwijaya tersebut masuk dalam kategori insiden bukan kecelakaan. ”Sehingga kami tidak mengirimkan investigator untuk menyelidikinya,” jelasnya.

Dia menambahkan, pendaratan itu juga tidak masuk dalam kategori emergency landing atau pendaratan darurat. ”Meski hanya dengan satu mesin dan bukan di tempat yang dia tuju, itu tidak tergolong dalam pendaratan darurat. Karena pesawat itu masih dapat mendarat dengan safety atau aman untuk mendarat,” kata Barata.[dni]