310309 Penambahan Frekuensi 3G: Potret Arogansi Penguasa

3g-nokiaPemerintah pada pertengahan Maret lalu telah mengumumkan Telkomsel sebagai operator yang berhak mendapatkan tambahan frekuensi 3G sebesar 5 MHz di spektrum 2,1 GHz.

Guna mendapatkan tambahan frekuensi tersebut, Telkomsel dipaksa untuk merogoh kocek lumayan dalam yakni sebesar 160 miliar rupiah.

Operator tersebut dalam kurun waktu 10 tahun akan mengeluarkan uang sebesar 1,6 triliun rupiah untuk menyewa frekuensi sebesar 5 MHz. Angka tersebut tergolong fantastis karena di luar negeri tidaklah sebesar itu dana yang dikeluarkan satu operator.

Di Malaysia harga spektrum 3G untuk masa lisensi 15 tahun hanya sekitar 27 juta dollar AS, Singapura senilai 177 juta dollar AS untuk masa 20 tahun, Hong Kong senilai 260 juta dollar AS selama 15 tahun, Australia sebesar 1,3 miliar dollar AS untuk 15 tahun, dan Taiwan sekitar 1,2 miliar dollar AS selama 15 tahun.

Karena itu wajarlah para punggawa operator yang tidak mendapatkan tambahan frekuensi berteriak bahwa nilai rupiah yang ditawarkan oleh pemerintah tidaklah wajar. “Angka itu terlalu tinggi jika menginginkan Indonesia memiliki akses internet murah,” kata salah seorang punggawa, Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, belum lama ini.

Di Indonesia penyelenggara jasa 3G selain Telkomsel adalah Indosat, XL Hutchison CP Telecom Indonesia (HCPT), dan Natrindo Telepon Seluler (NTS).

Para punggawa yang tidak kebagian jatah boleh saja menjerit. Namun, tidak demikian dengan Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno, “Semua ini sudah masuk dalam kajian perencanaan bisnis. Kami sudah memperhitungkan resiko bisnisnya. Sekarang kami berani untuk membidik semua pelanggan 3G berpindah ke jaringan Telkomsel, jika April sudah diberikan tambahan frekuensi”.

Sarwoto juga mengaku tidak takut dengan kemungkinan pemerintah menurunkan nilai sewa frekuensi pada tahun depan jika kesempatan penambahan dibuka kembali. “Itu sudah resiko. Tetapi sebenarnya angka tersebut tergolong kecil bagi Telkomsel. Sehari saja dari jasa prabayar Telkomsel bisa meraup pendapatan sebesar 80 miliar rupiah kok,” katanya enteng.

Sikap arogan yang dipertunjukkan oleh Telkomsel tersebut makin melengkapi kekesalan banyak praktisi terhadap kebijakan pemerintah terkait penambahan frekuensi tersebut.

Pegiat internet dari Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Heru Nugroho mengatakan, Telkomsel tetap melaju menambah frekuensi karena operator tersebut memang membutuhkannya dan disokong oleh modal yang kuat. “Telkomsel kan baru menang tender telepon desa. Tentu saja dana tidak masalah baginya,” katanya.

Pengamat telematika Gunawan Wibisono menilai, langkah Telkomsel yang berani menawar dengan harga tinggi tersebut tidak sehat bagi industri. “Telkomsel sebagai leader di pasar memang harus mengamankan posisinya. Sayangnya, operator ini tidak sadar langkah yang diambil berdampak negatif kepada industri secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Gunawan, harga tinggi yang disanggupi oleh Telkomsel menjadikan pemerintah lebih berani menetapkan harga yang sama tingginya untuk tender Broadband Wirelees Access (BWA) nantinya.

“Jika sudah seperti ini yang rugi masyarakat juga karena operatonya pada bertumbangan dan yang tersisa hanya satu atau dua operator. Kalau sudah begini lupakan saja keinginan untuk meningkatkan akses internet,” sesalnya.

Tanpa Kajian
Sumber Koran Jakarta mengatakan, sebenarnya dalam proses penambahan frekuensi beberapa waktu lalu tidak ada yang namanya lelang atau beauty contest. “Yang terjadi adalah para operator dipanggil untuk diminta pendapatnya tentang harga frekuensi 3G. Hal ini karena pemerintah sendiri tidak melakukan kajian berapa harga yang wajar saat ini,” katanya.

Karena itu wajarlah Indosat menawar harga pemerintah dari 160 miliar rupiah menjadi 30 miliar rupiah, XL, 40 miliar rupiah, NTS 20 miliar rupiah, dan HCPT 12 miliar rupiah. Manajemen Telkomsel sendiri yang mengaku sudah melakukan kajian bisnis ternyata tidak memberikan laporan ke pemegang saham tentang harga yang akan digunakan.

“Saya diberitahu akan kebutuhan penambahan frekuensi. Tetapi masalah nilainya tidak tahu. Akhir tahun nanti akan diminta pertanggungjawabannya,” kata Komisaris Utama Telkomsel Rinaldi Firmansyah.

Ketika masalah tidak ada kajian komprehensif terkait harga itu dikonfirmasi ke Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar, hal itu diakuinya secara implisit.”Pemerintah memang menggunakan angka penawaran terendah tiga tahun lalu yakni 160 miliar rupiah,” katanya.

Basuki menjelaskan, penetapan harga dilakukan pemerintah dengan merujuk pada kondisi tidak merugikan negara dan tidak memberatkan operator.

Sayangnya, Basuki tidak mempedulikan faktor kemajuan teknologi, inflasi, dan krisis ekonomi yang terjadi. Akhirnya pembelaan yang keluar adalah arogansi dari seorang penguasa yang merasa sudah berjalan di jalur yang benar.

Padahal, sebagai ketua Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI), Basuki juga mengemban tugas melindungi dan menjaga kelangsungan industri. Jika begini kondisinya, tentunya suara-suara yang meminta ketua BRTI terpisah dari jabatan Dirjen Postel pantas diapungkan kembali.

Menyadari masalah frekuensi masih menjadi perdebatan yang hangat, Menkominfo Mohammad Nuh pekan lalu di Surabaya, mencoba menenangkan industri dengan mengisyaratkan akan melakukan beauty contest tak lama lagi.

“Kami menyadari tambahan frekuensi hal yang mendesak untuk meningkatkan kualitas layanan akses data. Tetapi pemerintah tetap menggunakan beauty contest dengan melihat penawaran harga tertinggi,” katanya.

Pemerintah boleh saja tetap memberlakukan harga tertinggi. Namun melihat peserta yang tersisa tentunya yang muncul adalah harga yang ‘wajar’. Hal ini karena tidak ada lagi peserta yang ingin menunjukkan arogansinya melalui kekuatan modal yang dimiliki.[doni ismanto]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s