270309 KPPU Kembali Selidiki Carrefour

carrefourAKARTA—Peritel dari negeri Perancis, Carrefour, akan kembali berurusan dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) setelah adanya keinginan dari lembaga anti persaingan tidak sehat itu untuk menyelidiki praktik penetapan harga sewa tempat (space) di hipermarket itu.

Carrefour sebelumnya telah merasakan palu godam KPPU akibat melakukan persaingan usaha yang tidak sehat dengan mengenakan berbagai syarat perdagangan yang menyebabkan bankrutnya salah satu pemasok Carrefour.

KPPU menghukum denda Carrefour Rp1 miliar dan melarang diberlakukannya syarat perdagangan berupa minus margin yang sangat merugikan pemasok. Minus margin merupakan syarat perdagangan yang mengharuskan pemasok membayar ganti rugi pada Carrefour sebanyak barang yang tidak terjual, jika pemasok terbukti menjual barang serupa kepada pesaing Carrefour dengan harga yang lebih murah.

“Dalam rapat yang dilakukan belum lama ini, diputuskan untuk melakukan penyelidikan pendahuluan terkait praktik bisnis Carrefour,” ungkap Ketua KPPU Benny Pasaribu di Jakarta, Rabu (25/3).

Dari penyelidikan awal, lanjutnya, KPPU menduga Carrefour menyalahgunakan posisi tawarnya yang kuat sehingga merugikan Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menjadi pemasoknya. “Informasi didapatkan dari laporan masyarakat dan hasil investigasi awal KPPU,” ujarnya.

Dijelaskannya, praktek bisnis Carrefour yang diselidiki KPPU difokuskan pada dua hal yaitu akuisisi Carrefour atas Alfa (supermarket, bukan minimarket) dan penyewaan lahan berjualan kepada UKM termasuk syarat perdagangan (trading term). “Tim pemeriksa akan dibentuk dalam pekan ini untuk melakukan investigasi,” tuturnya.

KPPU menilai pendapatan perusahaan ritel asing itu dari penyewaan ruang berjualan yang ditetapkan dalam kontrak syarat perdagangan dengan pemasok lebih besar dari pendapatan hasil penjualan barang-barang.

Praktik tersebut memunculkan dugaan monopoli power dan monopsoni power yang dilakukan carefour yang telah merugikan pemasok yang notabene pengusaha skala kecil.

Menurut dia, indikasi praktik menyimpang dalam berusaha yang dilakukan Carrefour tak bisa dilepaskan dari merger dan akuisisi yang menjadi fenomena belakangan ini.”Karena itu kami akan membentuk sub direktorat yang khusus menangani kasus merger dan akuisisi sambil mendesak pemerintah untuk mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) terkait merger,” katanya.

Berdasarkan catatan, setelah mengakuisisi Alfa, Carrefour berhasil meningkatkan pangsa pasar perusahaannya hingga lebih dari 30 persen.

Secara terpisah, Pengamat persaingan usaha Bambang P Adiwiyoto mendukung langkah KPPU untuk menyelidiki Carrefour karena indikasi praktik persaingan tidak sehatnya lumayan tinggi.

“Untuk penetapan harga sewa tempat itu bukan hak dari Carrefour. Jika mereka yang menentukan tentunya harga menjadi tak keruan. Seharusnya regulator yang menetapkan harga sewa,” katanya.

Berkaitan dengan kasus Alfa, lanjutnya, Carrefour harus dijaga untuk tidak memaksa Alfa hanya membeli barang dari pemasok yang ditunjuk oleh Carrefour. “Jika itu terjadi berarti memang kuat indikasi praktik persaingan tidak sehat,” katanya.

Bambang menyarankan, masalah kisruh bisnis hipermarket ini harus dikembalikan pada peraturan Gubernur yang menetapkan lokasi pendirian pusat perbelanjaan. “Sekarang kan semuanya sudah tidak jelas. Berdirinya di pusat kota dan dekat pasar tradisional. Kalau begini, kisruhnya udah seperti benang kusut,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s