240903 Hasnul Suhaimi: Saya Bukan Kutu Loncat

hasnul_suhaimiNama pria yang lahir di Bukittinggi pada 23 April 1957 silam ini tidaklah asing di industri telekomunikasi Indonesia.

Sepak terjang pria yang dulunya mengabdi selama 23 tahun di Indosat ini sebelum menjadi orang nomor satu di anak perusahaan Telekom Malaysia (TM), XL, lumayan membuat bergetar dunia telekomunikasi lokal.

Tak percaya? Lihatlah keberhasilannya menyulap XL yang dianggap anak bawang menjadi pemain kompetitif di jasa seluler selama hampir tiga tahun belakangan. XL yang awalnya hanya memiliki ribuan BTS dengan sekitar 2,6 juta pelanggan, dalam waktu singkat berubah menjadi raksasa baru.

Pada 2008, XL meraih pendapatan usaha sebesar 12,156 miliar rupiah atau naik 45 persen ketimbang tahun sebelumnya dengan 26 juta pelanggan. Tak hanya itu, pada tahun lalu XL berhasil membangun sekitar lima ribuan BTS sehingga pada tahun lalu jumlah infrastruktur yang dimiliki melebihi pemain nomor dua, Indosat.

Tercatat, XL memiliki sekitar 16.729 BTS yang menghasilkan jumlah outgoing minutes sebesar 54,9 milliar menit.

Ibarat pohon yang semakin tinggi, tentu angin makin kencang menerpanya. Hasnul pun tak luput dari hal itu. Urang awak ini diisukan akan meninggalkan XL pada Juni depan. Isu yang beredar adalah TM tidak lagi memperpanjang kontraknya atau Hasnul pindah ke operator lain.

Namun, pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) XL pekan lalu, Presiden Komisaris XL Tan Sri Dato’ Ir Muhammad Radzi bin Haji Mansor menegaskan, pihaknya masih happy dengan kinerja seorang Hasnul.

Menurut sang Dato’ kinerja seorang tentu dilihat dari laporan keuangan yang dihasilkan. “Anda lihat saja apa yang telah dihasilkan Saudara Hasnul selama ini. Dan di susunan direksi juga tidak ada perubahan. Itu tandanya kami masih percaya dengan beliau,” tegasnya.

Sinyal yang dilontarkan wakil pemegang saham tentunya mengakhiri isu yang tak sedap selama beberapa bulan belakangan ini. Ya, Hasnul untuk tiga tahun ke depan akan tetap memimpin XL. Untuk mengetahui kebijakan selama tiga tahun ke depan, wartawan Koran Jakarta, Doni Ismanto, berkesempatan mewawancarai penggemar golf itu belum lama ini. berikut petikannya.

T: Selamat, Anda terpilih kembali memimpin XL.

J: Terima kasih, saya memang banyak mendengar isu tidak sedap belakangan ini. Saya dicitrakan seperti kutu loncat yang suka gonta-ganti perusahaan. Padahal sejak dulu baru dua kali pindah perusahaan yakni ke Indosat dan XL.

T: XL berhasil menunjukkan sejumlah prestasi di bawah kepemimpinan Anda, apa rahasianya

J: Kekompakan. Itu rahasianya. Tim manajemen di XL solid. Dan semua itu di sokong oleh pemegang saham yang solid juga. Pemegang saham percaya penuh dengan manajemen. Mereka (pemegang saham) datang sebulan sekali untuk mengetahui sejauh mana strategi dijalankan, selanjutnya semua diserahkan ke manajemen.

T: Ukuran sukses menurut Anda dari sisi raihan pelanggan atau pendapatan

J: Kami selalu konsen ke raihan pendapatan dua tahun ini. Sejak 2006 selalu terjadi pertumbuhan yang signifikan. Dari dulu XL selalu melihat keberhasilan dengan peningkatan pelanggan yang, riil guna meningkatkan pendapatan.

T: Kompetisi makin ketat tahun ini. Strategi apa yang akan digunakan.

J: Kami akan tetap merangsang pelanggan untuk berkomunikasi. Selain akuisisi pelanggan, kami akan merangsang pelanggan lama untuk lebih banyak berkomunikasi. Salah satunya dengan cross selling. Contohnya, jika ada pelanggan yang tidak suka pakai SMS, kita rangsang agar mau menggunakan jasa tersebut. Hal ini karena suara dan SMS adalah sumber pendapatan utama bagi XL. Sedangkan layanan data bisa dikatakan sebagai retention.

T: Banyak kalangan menganggap tahun ini adalah cobaan sebenarnya bagi industri telekomunikasi.

J: Tiga tahun ke depan memang sisa-sisa pertumbuhan dari industri ini. XL sendiri meskipun menargetkan ada 4 juta pelanggan baru, tetap berharap lebih banyak. Setelah tiga tahun ke depan, barulah bicara bersaing retensi. Persaingan nantinya akan lebih banyak ke Value Added Services (VAS) nantinya secara cross selling

T: Apa harapan XL kepada regulator untuk membangun industri ke depan

J: Dibutuhkan kebijakan yang lebih mendukung untuk peningkatan akses internet. Meskipun kami fokus kepada suara dan SMS untuk meningkatkan pendapatan, namun transfer knowledge itu tetap pada internet.

Regulator harusnya melihat segala sesuatu dengan holistik. Contohnya dalam pemberian frekuensi 3G. tidak tepatlah dibanderol dengan harga ratusan miliar rupiah. Jika kebijakan itu yang diambil, operator yang punya frekuensi tidak bisa membangun, sedangkan yang ingin membangun tidak diberikan frekuensi.

T: Apa dampak harga frekuensi yang mahal

J: Impian satu komputer satu sekolah yang didengugkan pemerintah tak akan tercapai. Apa bedanya antara wiimax dan 3G. fungsinya sama. Kenapa harga frekuensi 3G dibedakan. Padahal jika diberikan harga frekuensi yang murah masyarakat akan diuntungkan dengan biaya internet yang murah. Kondisi ini akan memicu adanya tambahan PPn dan larisnya penjualan modem serta komputer. Semua ini ada turunannya sehingga menggerakkan ekonomi rakyat. Inilah yang dinamakan membangun ekosistem.

2 Komentar

  1. selamat pak hasnul

  2. Selamat pak.. sukses selalu…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan ke rheka sulistio Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s