180309 Perusahaan Penyeberangan Kesulitan Sediakan Kapal Baru

Jakarta — Penurunan tarif penyeberangan di Indonesia menyebabkan beberapa pemain di sektor tersebut kesulitan menambah menyediakan kapal baru.

Akibatnya,
kapal-kapal tua masih dioperasikan yang bisa membahayakan keselamatan penumpang.

Selama ini operator mengoperasikan kapal-kapal tua yang umurnya antara
10-25 tahun yang dibeli seken dari luar negeri. Hal ini karena kapal
tersebut harganya lebih murah.

Dari 300 lebih kapal penyeberangan di
Indonesia adalah buatan antara tahun 1970-an hingga 1990-an.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Angkutan Sungai Danau dan
Penyeberangan (Gapasdap) Lutfi Syarief mengatakan, rendahnya tarif
penyeberangan saat ini hanya mampu membuat pengusaha penyeberangan
bertahan, namun tak mampu membeli kapal baru.

“Butuh kenaikan tarif lebih dari 100 persen agar operator bisa mengadakan
kapal baru. Karena kondisi seperti ini, kita hanya bisa mengoperasikan
kapal-kapal tua yang ada,” katanya di Jakarta, Selasa (17/3).

Disebutkan Luthfi,  kapal jenis roll on roll off (ro-ro) dengan panjang 100
meter harganya antara  150 miliar hingga  200 miliar rupiah. Namun dalam penetapan biaya pokok, pemerintah menetapkan harga kapal sebesar  30
miliar rupiah.

Untuk pengadaan kapal baru saat ini hanya sekadar impian. Permasalahan yang
ada adalah tarif yang tidak kunjung dinaikkan. Alih-alih menaikkan tarif,
saat penurunan harga solar lalu, penyeberangan juga ikut menurunkannya
sebesar 7 persen.

Namun demikian, jelasnya, dengan armada tua tersebut operator penyeberangan
tetap eksis karena masih mampu merawat kapalnya dengan baik.[Dni]

180309 UU Migas Hambat Investasi

blok-migasJAKARTA —Pengesahan Undang-undang Migas No 22/2001 dinilai telah menghambat investasi di sektor tersebut selama hampir satu dekade.

Padahal, di Indonesia tersimpan potensi minyak dan gas yang tinggi. Tercatat, minyak di perut bumi diperkirakan sekitar 50 miliar barrel dan gas 350 tcf.

“UU Migas dibuat drafnya pada 1999 dan disahkan 2001. Hadirnya UU ini justru membuat kondisi investasi tidak kondusif,” kata Pengamat Perminyakan Kurtubi di Jakarta, Selasa (17/3).

Menurut Kurtubi, hadirnya regulasi tersebut membuat proses investasi menjadi panjang. Padahal sebelum hadirnya regulasi tersebut dalam waktu tiga bulan izin dapat dikeluarkan. Faktor lain, di pasal 31 regulasi tersebut telah menghapus prinsip lex spesialist di sektor migas dengan mewajibkan investor harus bayar pajak meskipun belum berproduksi.

“Kedua hal tersebut menimbulkan ketidakpastian baru karena bertentangan dengan kontrak production sharing. Dan regulasi ini tidak diperbaiki meskipun terdapat empat pasal yang sudah dicabut oleh mahkamah konstitusi,” katanya.

Padahal, lanjutnya, secara teori investasi di sektor hulu dipacu oleh kondisi geologis, ekonomi, dan regulasi. “Cadangan banyak, harga minyak tinggi. Sudah pasti yang membuat rendahnya investasi karena regulasi,” katanya.

Diungkapkannya, jika pun terjadi pengeboran di Indonesia saat ini bukanlah berasal dari sumur baru melainkan sumur lama. “Sumur lama ini resiko investasi ditanggung negara. Beda jika sumur baru, kalau gagal yang tanggung investor,” tuturnya.

Akibat tidak adanya sumur baru yang ditemui, produksi minyak mentah dalam 10 tahun anjlok dari sekitar 1,5 juta bbls/hari pada 1999 menjadi sekitar 960 ribu bbls/hari. Hal ini memicu negara mengimpor minyak mentah dan BBM dalam jumlah besar yang teah menguras devisa negara. Pada tahun lalu defisit minyak mencapai 8,4 miliar. Defisit terbesar dalam sejarah perminyakan.

Stimulus

Selanjutnya dikatakan, pemerintah harus menurunkan harga BBM subsidi seperti premium dari posisi 4.500 menjadi 4 ribu rupiah pada tahun ini agar menjadi stimulus bagi masyarakat.

“Harga minyak mentah di dunia tidak akan naik pada tahun ini meskipun negara penghasil minyak yang tergabung dalam OPEC memaksa memangkas produksi,” katanya.

Menurut dia, penurunan harga BBM bersubsidi akan membuat masyarakat bisa melakukan penghematan dan mengalihkan ke alat konsumsi lainnya. “Harga minyak mentah baru akan naik menjadi 60 dollar AS itu pada 2010. Mumpung bisa membantu rakyat, harusnya itu dilakukan pemerintah sekarang,” katanya.[dni]

180309 Toyota Belum Mampu Bicara di “Hatchback”

PT Toyota Astra Motor (TAM) mengakui belum mampu berbicara banyak di segmen sedan hatchback meskipun telah menawarkan Yaris sejak dua tahun lalu.

Penguasa di segmen tersebut adalah Honda Prospect Motor (HPM) dengan Honda Jazz, setelah itu disusul Yaris. Posisi Yaris tidak aman belakangan ini karena Indomobil grup melalui Suzuki dan Nissan agresif mengincar posisi TAM. Indomobil grup memiliki dua produk di segmen tersebut yaitu Suzuki Swift dan Nissan Livina.

“Kita akui terjadi penurunan pangsa pasar Yaris di kelas hatchback. Ini akibat TAM lengah mengantisipasi permintaan pasar yang tinggi dari segmen tersebut pada tahun lalu,” ungkap Presiden Direktur TAM Johnny Darmawan di Jakarta, belum lama ini.

Diungkapkannya, pada tahun lalu industri otomotif berhasil menjual sekitar 670 ribu unit kendaraan roda empat. Fenomena yang tak disangka oleh TAM adalah ternyata pertumbuhan dari sedan hatchback meningkat khususnya untuk produk yang mampu menawarkan hemat BBM dengan harga terjangkau.

Pasar hatchback pada tahun lalu terjual mencapai 57.000 unit. Sedangkan TAM membuat perkiraan segmen tersebut hanya akan terjual di industri sekitar 40.000 unit saja.

“Pada 2007 pangsa pasar Yaris sekitar 29 persen. Tahun lalu turun menjadi 23,5 persen. Kita mengharapkan pada tahun ini terjadi peningkatan menjadi 25 persen walau total penjualan industri pada tahun ini mengalami penurunan,” katanya.

Berdasarkan catatan, pada tahun ini industri otomotif khususnya roda empat hanya menargetkan terjadi penjualan sebesar 400 ribu unit. TAM sendiri untuk seluruh produknya menargetkan mampu menjual sekitar 150 ribu unit.

Johnny mengatakan, untuk mencapai target pangsa pasar dari Yaris, TAM meluncurkan New Yaris belum lama ini.. Produk ini ditargetkan terjual 9.600 unit hingga akhir tahun nanti.

“Kami menargetkan produk ini terjual 500 sampai 800 unit per bulan. Sedangkan di industri diperkirakan segmen hatchback bisa terjual hingga 50 ribu unit,” katanya.

Berkaitan dengan harga jual New Yaris yang dianggap menjadi lebih mahal antara 174,35 juta hingga 207,5 juta rupiah, Johnny mengaku tidak khawatir pecinta Yaris akan meninggalkan produknya karena yang dibidik adalah segmen muda.

“Anda harus tahu kami sudah menyesuaikan banderol dengan nilai tukar rupiah sekitar 10 ribu rupiah. Jika kita produk ini diluncurkan lebih lama lagi, bisa saja harganya makin melambung,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Utama Indomobil Gunadhi Sindhunata mengatakan, pihaknya memiliki varian yang lebih banyak di segmen hatchback sehingga optimis bisa menjadi pemain kuat di kelas tersebut.

“Produk kami lebih banyak variasinya. Kita lihat saja nanti hasil kompetisi di akhir tahun nanti,” katanya.[dni]

180309 Produsen Naikkan Harga Jual

Produsen otomotif mulai melakukan penyesuaian harga jualnya guna mengantisipasi melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.

“Biasanya produsen itu malu-malu untuk mengatakan harga jualnya naik. Tetapi kondisi seperti ini memaksa harga harus dinaikkan,” kata Presiden Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata di Jakarta, Selasa (17/3).

Diungkapkannya, untuk menyesuaikan dengan melemahnya nilai rupiah, pelaku usaha menaikkan harga jualnya sekitar tiga hingga lima persen dari yang berlaku sebelum krisis. “Paling maksimum penyesuaian itu sebesar 10 persen,” katanya.

Secara terpisah, Presiden Direktur Toyota Astra Motor (TAM) mengatakan, dampak krisis belum mempengaruhi penjualan kendaraan roda empat di perusahaannya. “Dua bulan pertama di 2009 kami mampu menjual 27.300 unit di pasar retail,” katanya.

Gunadhi mengatakan, guna mengatasi krisis ekonomi industri meminta pemerintah secepatnya memberikan stimulus kepada sektor tersebut. Stimulus bisa berupa keringanan Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB) dan penurunan suku bunga pinjaman.

“NJKB turun akan membuat masyarakat meningkat daya belinya. Sedangkan penurunan suku bunga bisa memacu perilaku konsumtif untuk membelli motor,” katanya.[dni]