170309 Palapa Ring: Mercu Suar yang Tak Kunjung Terealisasi

satelitProyek Palapa Ring bisa diibaratkan sebagai mercu suar bagi pemerintah yang berkuasa. Tak percaya? Simak saja pernyataan dari Menkominfo Muhammad Nuh setiap kali bicara kesenjangan digital antara kawasan Barat dan Timur Indonesia .

Mantan Rektor ITS tersebut selalu menjanjikan hadirnya Palapa Ring akan melepaskan masyarakat di di Kawasan Timur Indonesia (KTI) terlepas dari isolasi digital.

Palapa Ring merupakan megaproyek membangun tulang punggung (backbone) serat optik internasional yang terdiri dari 7 cincin (ring) melingkupi 33 provinsi dan 460 kabupaten di KTI.

Proyek yang membutuhkan biaya sekitar 225 juta dollar AS itu terdiri dari 35.280 kilometer serat optik bawah laut (submarine cable) dan 21.708 kilometer serat optik bawah tanah (inland cable).

  
Setiap cincin nantinya akan meneruskan akses frekuensi pita lebar dari satu titik ke titik lainnya di setiap kabupaten.  Akses tersebut akan mendukung jaringan serat optik pita  lebar berkecepatan tinggi dengan kapasitas 300 Gbps hingga 1.000 Gbps di daerah tersebut.

Melihat kemampuan dari infrastruktur tersebut, bukan hal yang aneh jika Menteri Nuh setiap berbicara penurunan tarif internet akan selalu mengaitkan dengan kehadiran Palapa Ring. Hal ini karena backbone tersebut akan menjadi pintu masuk broadband menyentuh desa-desa yang membuat skala ekonomi bisnis internet semakin besar.

Impian Nuh boleh tinggi, tetapi kenyataan berbicara lain. Rencana penggalian yang harusnya menjelang tutup tahun lalu molor secara teratur. Bahkan nilai proyek yang sebelumnya bombastis di atas dua ratusan juta dollar AS juga menyusut secara teratur seiring menciutnya jumlah konsorsium yang mengerjakan proyek itu.

Awalnya proyek tersebut akan dibangun enam perusahaan yang tergabung dalam suatu konsorsium Palapa Ring. Keenam perusahaan itu berikut persentasi keikutsertaannya adalah PT Bakrie Telecom Tbk (13,3 persen), PT Excelcomindo Pratama Tbk (13,3 persen), PT Indosat Tbk (13,3 persen), PT Infokom Elektrindo (termasuk PT Mobile-8 Telecom Tbk sebesi nanar 6,3 persen), PT Powertek Utama Internusa (representasi Linbrooke Worldwide Ltd sebesar 10 persen), dan porsi sisanya diambil PT Telkom.

Namun, dalam perkembangan terakhir, dua perusahaan (Infokom Elektrindo dan Powertek Utama Internusa) mengundurkan diri sehingga menyisakan empat operator telekomunikasi mengerjakan proyek tersebut.

Mundurnya dua perusahaan tersebut menjadikan nilai proyek berkurang menjadi 180 juta dollar AS. Terakhir, datangnya krisis ekonomi membuat nilai proyek kembali terdepresiasi menjadi 150 juta dollar AS karena nilai tukar rupiah melemah. Lantas bagaimana perkembangan terakhir dari proyek yang selalu digembar-gemborkan oleh Menteri Nuh akan tepat waktu itu masa pengerjaannya?

Mundur

Kabar terbaru mengatakan, konsorsium keberatan dengan harga yang ditawarkan oleh vendor kabel optik peserta tender proyek. Tersiar kabar tiga vendor (NEC Corporation, NSW Fujitsu, dan Alcatel-Lucent) menawarkan harga 50 ribu dollar AS untuk harga serat optik per kilometer. Sedangkan konsorsium telah menganggarkan dana sebesar 20 ribu dollar AS.

Ketua Konsorsium Palapa Ring Tonda Priyanto memperkirakan, melihat gelagat harga yang ditawarkan oleh para vendor maka ada kemungkinan rute penanaman kabel optik dan kota-kota yang dilalui penggelaran kabel akan berkurang sampai separuhnya.

Tidak hanya itu, Tonda pun memperkirakan, jika penandatanganan kontrak dilakukan sekarang, vendor pun hanya sanggup merampungkan proyek pada awal 2011. Padahal pembangunan dan beroperasinya Palapa Ring menurut jadwal versi terbaru adalah pada awal kuartal kedua tahun ini.

“Kendala delivery yang tidak kami harapkan ini, membuat belum ada perkembangan yang signifikan dari proyek ini Kami masih akan mengajinya kembali sambil menunggu nilai tukar dan kondisi ekonomi membaik,” tuturnya di Jakarta , belum lama ini.

Melihat perkembangan terbaru, Menkominfo Mohammad Nuh meminta konsorsium menata kembali perencanaan penggelaran kabel optik menyusul penyusutan dana akibat depresiasi tersebut.

Nuh pun masih menyemburkan optimisme pergeseran tersebut tidak akan mengubah rencana memulai proyek itu pada 2009. Menurut dia, jika ternyata negara-negara tetangga juga menangguhkan proyek kabel optik, maka proyek Palapa Ring dapat disesuaikan dengan menurunkan harga atau melalui modifikasi penataan rute kabel dan mencari solusi pengganti di antaranya memanfaatkan satelit.

Dana USO

Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) Setyanto PS mengatakan, melihat perkembangan terakhir dari Palapa Ring, pemerintah sebaiknya turun tangan langsung sehingga efektivitasnya lebih terjamin.

Jika diserahkan kepada pelaku usaha tentunya business plan yang dimiliki masing-masing manajemen akan sangat menentukan. Seandainya merugikan, bukan hal yang aneh ada yang mengundurkan diri.

“Fungsi pemerintah antara lain mengambil alih tugas-tugas yang tidak bisa atau tidak sanggup dilaksanakan oleh swasta, seharusnya dana Universal Service Obligaton (USO) dimanfaatkan untuk peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan jasa telekomunikasi terutama di non profit area seperti KTI,” katanya.

Menurut Setyanto, proyek tersebut tidak akan molor jika pemerintah memiliki komitmen menyelesaikannya. “Dulu saat peluncuran satelit Palapa tida ada nilai ekonomisnya. Tetapi pemerintah kala itu melihat keuntungan kesejahteraanya. Harusnya pemerintah sekarang berpola pikir seperti itu,” tegasnya.

Secara terpisah, juru bicara Depkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, pemerintah sejauh ini hanya bisa membantu konsorsium dengan mempercepat mediasi untuk memperoleh keringanan pajak dan mencari celah kemungkinan mengundang investor asing untuk turut membiayai proyek tersebut. “Jika mengharapkan dari APBN tentunya tidak mungkin karena terlambat untuk tahun ini, sementara Palapa Ring harus jalan di 2009,” katanya.

Berkaitan dengan kemungkinan pemerintah melakukan investasi langsung, Gatot mengatakan, terbuka untuk melakukan tersebut meskipun skemanya bisa berlainan dengan skenario awal. Hal ini karena untuk investasi langsung perlu dicantumkan di buku birunya Bappenas dan itu akan memakan waktu.

Pada kesempatan lain, Asdep Telematika dan Utilitas Kantor Menko Perekonomian Eddy Satriya mengakui, masalah stimulus berupa keringanan pajak memang pernah dilontarkan oleh Depkominfo. “Tetapi akhirnya pemerintah hanya menurunkan stimulus untuk beberapa sektor. Dan Depkominfo juga tidak ngotot lagi bicara insentif,” katanya.

Menurut Eddy, sangat realistis bagi Depkominfo atau Ditjen Postel untuk menggunakan dana USO membiayai sisa pembangunan Palapa Ring yang tak bisa dikerjakan oleh konsorsium Palapa Ring karena dana itu adalah “titipan” dari operator ke pemerintah.

Dirjen Postel sudah mengadakan penjajakan kepada kantor kami dan Depkeu untuk menggunakan dana tersebut. Saat ini sedang dilaksanakan telaahan dan pembentukan Tim, kita tunggu kemajuannya dari Postel,” katanya..

Dikatakannya, usulan Ditjen Postel adalah memanfaatkan dana USO untuk “dipinjamkan” kembali ke operator dengan bunga murah. “Tetapi menurut hemat saya tidak usahlah ada bunga karena itu dana mereka (operator) juga,” tuturnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s