160209 Mandala Rekrut Mantan GM Air france KLM

JAKARTA —Maskapai swasta nasional, Mandala Airlines, merekrut mantan pejabat maskapai Air france KLM, Michael Hamelink, untuk menduduki posisi Chief Financial Officer (CFO) di maskapai tersebut. Sebelumnya, jabatan tersebut dirangkap oleh Presiden Direktur, Diono Nurjadin,

Diono dalam keterangan tertulisnya mengatakan, Michael diangkat sebagai CFO mandala dengan pertimbangan bahwa ia telah berpengalaman bergabung dengan manajemen internasional di Eropa, Asia dan Afrika.

“Nanti Michael akan memberikan laporannya langsung kepada Presiden Direktur,” katanya.

Dalam keterangan resmi manajemen Mandala Airlines disebutkan, Michael beberapa tahun terakhir bekerja untuk Air France KLM sebagai Regional General Manager untuk Afrika bagian Timur yang berkantor di Kenya, dimana ia berhasil memimpin aktifitas bandara dan aspek komersial di 10 negara.

Sebelumnya, pada tahun 2004-2008, ia menjabat sebagai Financial Director & CFO untuk KLM cityhopper BV/KLM cityhopper UK ltd yang bertanggung jawab terhadap aktifitas Finance, Control dan ICT sebagai salah satu maskapai regional terbesar di Eropa.

Micahel dianggap memiliki track record dalam mengatur proses transisi dan negosiasi dengan pihak ketiga. Dalam 16 tahun terakhir, ia telah terlibat dalam manajemen finansial KLM Royal Dutch Airlines.

“Pengalaman Michael akan memberikan kontribusi yang sangat berharga bagi Mandala untuk melanjutkan ekspansi bisnisnya yang agresif. Pengalamannya dalam aspek baik finansial maupun komersial akan memberikan nilai tambah bagi manajemen,” ujar Diono.[dni]

160209 Telkomsel Dapatkan Tambahan Frekuensi

logo-telkomselJAKARTA—Operator seluler Telkomsel
dipastikan mendapatkan tambahan frekuensi sebesar 5 MHz untuk menyelenggarakan
teknologi 3G, setelah anak usaha Telkom tersebut menyetujui harga yang ditawarkan pemerintah.

Tambahan frekuensi itu menjadikan Telkomsel memiliki pita
selebar 10 MHz untuk menjalankan teknologi akses data kecepatan tinggi
tersebut. Teknologi tersebut umumnya digunakan melalui jasa Telkomsel Flash.
Hingga Februari lalu tercatat pengguna layanan Telkomsel Flash sekitar 260 ribu
pelanggan. Akhir tahun ini ditargetkan menjadi dua juta pelanggan.

“Untuk tahun ini hanya Telkomsel yang diberikan tambahan
frekuensi 3G. Hal ini karena secara prinsip
operator tersebut menerima tawaran nilai yang diajukan oleh pemerintah,”
kata Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar kepada Koran Jakarta , Minggu (15/3).

Berdasarkan catatan, pemerintah menetapkan harga sebesar
160 miliar rupiah bagi pemilik lisensi 3G yang ingin menambah frekuensi sebesar
5 MHz selama 10 tahun. Di Indonesia pemilik jasa tersebut selain Telkomsel adalah Indosat, XL,
Hutchinson CP Telecom Indonesia (HCPT), dan Natrindo Telepon Seluler (NTS).

Operator yang paling membutuhkan tambahan frekuensi adalah
XL dan Indosat. Indosat bahkan dilarang untuk berjualan akses data di kawasan trafik
padat karena jaringannya tidak mampu lagi melayani pelanggan. Padahal jumlah
pelanggan dari akses data Indosat baru sekitar 500 ribu nomor.

XL beberapa waktu lalu sempat melontarkan harga untuk
mendapatkan tambahan frekuensi sebesar 5 MHz itu sekitar 40 miliar rupiah. Sedangkan
Indosat menawar setengah dari harga pemerintah.

Selanjutnya Basuki mengungkapkan, surat rekomendasi dari Direktoratnya telah
disampaikan ke Menkominfo Mohammad Nuh, dan tinggal menunggu
penandatanganannya. Bila sudah ditandangani oleh Menkominfo akan ada pembicaraan lebih lanjut dengan
Departemen Keuangan untuk meminta pertimbangan.

Berkaitan dengan nasib operator lainnya, Basuki menegaskan, pemerintah tetap mengacu
pada nominal rupiah yang telah ditetapkan meskipun masih terbuka untuk
melakukan negosiasi.

Menurut Basuki, harga yang ditawarkan pemerintah tidaklah terlalu mahal bagi operator. Hal ini karena
penetapan didasari oleh penetrasi
pengguna telekomunikasi yang demikian tinggi dan kinerja para operator yang
terus membaik.

“Wajar atau tidaknya harga, akan ditentukan oleh
Depkeu. Ini berlaku untuk semua operator yang telah mengajukan penawaran, tak
terkecuali Telkomsel, meskipun sudah memenuhi syarat dari kami,” kata
Basuki.

Secara terpisah, Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi mengatakan,
angka yang ditetapkan oleh pemerintah tersebut akan membuat harga akses internet semakin mahal di Indonesia. “Jika menyewa
frekuensi saja sudah selangit, bagaimana dengan tarif ke pelanggan? Beban itu (penyewaan
frekuensi) tentu akan kami bagi juga ke pelanggan,” katanya.

Pengamat telematika Miftadi Sudjai menyarankan
pemerintah untuk menyesuaikan kembali harga yang ditawarkan bagi penambahan
frekuensi tersebut karena kenyataan di lapangan berbicara lain.

”Harga yang digunakan
pemerintah masih tarif lama. Dulu angka sebesar itu dikeluarkan karena ada
euforia bahwa 3G akan booming. Kenyataannya tidak ada killer aplication
sehingga pertumbuhan pasar tidak sebesar
yang diharapkan operator,” ujarnya.

Faktor lainnya, lanjut Miftadi,
kondisi keuangan operator yang tidak lagi secemerlang dua tahun lalu. Hal itu
terlihat dari pertumbuhan pendapatan yang tidak lagi besar dan susahnya mencari
belanja modal. ”Masa bulan madu industri telekomunikasi sudah usai di
Indonesia. Sekarang masanya pengetatan dan efisiensi,” katanya.

Miftadi mengakui, jika kondisi
kekurangan frekuensi itu berlanjut yang akan dirugikan adalah pelanggan dan
operator. Meskipun operator mencoba mengakalinya dengan menambah kapasitas
tetapi itu akan terkendala keterbatasan bandwitdh.

”Idealnya bandwidth yang
dimiliki lebih lebar agar bisa dilakukan multi carrier dalam satu site. Hal ini
akan membuat biaya pembangunan menjadi hemat. Soalnya satu Node B (BTS 3G) itu
lumayan mahal, sekitar 120 ribu dollar AS,” jelasnya.[dni]

160309 Telkom Sediakan Rp 750 Miliar Demi Pendi

JAKARTA—PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) menyiapkan dana sekitar 750 miliar rupiah demi memuluskan program pensiun dini (Pendi) bagi 1.156 karyawannya pada tahun ini.

Dana tersebut diambil dari belanja modal Telkom pada tahun ini yang mencapai 2,5 miliar dollar AS.

VP Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia melalui keterangan tertulisnya mengatakan, perseroan pertama kali menjalankan program pendi pada 1995. tercatat kala itu sebanyak 5.188 karyawan mengikuti program tersebut. Saat ini Telkom memiliki sekitar 25.000 karyawan yang tersebar di seluruh Indonesia.

”Jika dihitung sejak 2002 hingga 2009 sudah 11.281 karyawan mengambil program pendi,” kata Eddy.

Dijelaskannya, Telkom menawarkan program pensiun dini secara bertahap untuk merampingkan jumlah karyawan agar perusahaan lebih lincah bergerak dalam kompetisi yang semakin tajam seperti saat ini. Selain itu, juga sekaligus memberikan kesempatan kepada karyawan untuk mengembangkan potensi dirinya di luar perusahaan dengan kompetensi yang dimilikinya.

”Kalau dibandingkan dengan perusahaan telekomunikasi lain sebagai incumbent, karyawan Telkom jumlahnya memang besar. Untuk memenangkan persaingan Telkom harus melakukan efisiensi dan efektivitas operasionalnya agar mampu bersaing,” katanya.

Dikatakannya, program pendi akan dilakukan oleh perseroan hingga 2011 dan diseleraskan dengan kondisi perusahaan. ”Telkom akan menawarkan pendi hingga dicapai jumlah karyawan yang ideal, tetapi intinya pendi ditawarkan secara sukarela kepada karyawan,” tuturnya.

Di samping pensiun dini, lanjutnya, pengurangan karyawan juga didukung pensiun reguler. Pada tahun 2009 ini, karyawan Telkom yang memasuki masa pensiun secara alamiah sekitar 700 orang. Rata-rata pensiun reguler dari 2005 hingga 2009 sekitar 500 orang.[dni]