140309 Meretas Jalan Menuju C Generation

broadbandPara praktisi di industri telekomunikasi memilah-milah perjalanan pembangunan di sektor ini atas tiga tahap. Tahap pertama adalah era Palapa yang ditandai dengan peluncuruan satelit Palapa. Tahap kedua adalah era seluler, dan ketiga pita lebar (broadband).

Pada tahap pertama komunikasi di Indonesia dilakukan melalui telepon tetap dan televisi. Sedangkan perusahaan dalam negeri yang berkibar adalah RFC, PT INTI, PT LEN dan lainnya.

Sementara pada tahap seluler komunikasi dilakukan melalui perangkat bergerak. Sedangkan komunikasi data mulai berkembang meskipun teknologi yang digunakan masih dengan lebar pita yang sempit. Tahap kedua ini dimulai sekitar 20 tahun setelah satelit Palapa diluncurkan. Prestasi fenomenal yang diraih oleh teknologi seluler adalah sekitar 90 juta jiwa dapat berkomunikasi di Indonesia.

Sayangnya, pembangunan tahap pertama dan kedua tersebut tidak disertai dengan keinginan mengembangkan industri pendukung. Nilai ekonomi telekomunikasi seluler yang diperkirakan melebihi 200 triliun rupiah tidak memberikan dampak yang signifikan kepada industri manufaktur pendukungnya. Bahkan, saat ini PT INTI tidak mampu berbicara banyak di kancah seluler setelah mitra dari luar negeri Siemens memisahkan diri.

“Tahap ketiga adalah koneksi berbasis broadband. Ini ditandai dengan hadirnya evolusi teknologi generaki ke empat yang mengarah ke broadband seperti Wimax, Long Term Evolution (LTE), dan Fiber to Home (FTH),” ungkap Staf Khusus Ahli Menteri Kominfo Suhono Harso Supangkat kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Dikatakannya, konektivitas berbasis data akan memunculkan masyarakat kreatif dan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan Hal ini akan memicu datangnya generasi baru yang disebut C Generation. C Generation merupakan singkatan dari 5 C yaitu Conectivity, Convergence, Content Creative, Collaboration, dan Contextual.

Suhono memperkirakan, dalam waktu 10 tahun ke depan kebutuhan akan akses pita lebar bisa mencapai lebih dari 120 juta pelanggan. Sedangkan pada tahun lalu fixed broadband internet memiliki 600.000 pelanggan dan mobile broadband digunakan 10.756.880 pelanggan.

Broadband Economy

Selanjutnya Suhono memperkirakan dengan potensi pasar yang sedemikian besar akan membuat nilai bisnis dari broadband bisa mencapai 300 triliun rupiah dalam waktu 10 tahun ke depan.

Syaratnya, harus dibangun ekosistem untuk membangun broadband economy seperti ketersediaan jaringan, stasiun pengirim dan penerima, terminal komputer, perangkat bergerak seperti Mobile Internet Devices (MID), konten dan penyelenggaraan lainnya.

“Untuk itu Indonesia harus punya strategi nasional yang dapat memberikan nilai maksimum terhadap nilai ekonomi. Jika tidak, bangsa ini akan kembali menjadi masyarakat konsumen seperti era tahap pertama dan kedua,” tandasnya.

Pengamat telematika dari Universitas Indonesia Riri Fitri Sari mengatakan, era broadband economy memang telah menjadi arah perubahan global di dunia. “Masyarakat kita cukup siap untuk memanfaatkan efisiensi yang akan ditimbulkan. Sebagian industri juga cukup siap memanfaatkan media kolaborasi global,” katanya.

Menurut Riri, tantangan ke depan dalam mewujudkan C Genereation adalah menciptakan layanan yang inovatif untuk pemanfaatan teknologi yang kian konvergen demi nilai tambah ekonomi berbasis pengetahuan.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menambahkan, keberadaan broadband economy juga ditentukan oleh infrastruktur bandwidth, frekuensi, coverage, availbility, accessability, dan affordability jaringan.

Sedangkan Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengungkapkan, broadband economy di luar negeri telah dijadikan sebagai motor penggerak untuk keluar dari krisis ekonomi global.

“Hal ini terjadi di China, India, dan Australia. Karena dengan ekosistem broadband economy yang solid akan menyerap aktivitas ekonomi riil,” katanya.

Di Australia, ungkapnya, broadband berkontribusi sekitar 0,7 persen pada pertumbuhan domestik bruto (PDB) Australia. Sedangkan secara teori, pertumbuhan setiap 10 persen dari broadband akan memberikan dampak bagi PDB suatu negara sebesar 6,25 persen.

Indar mengatakan, tantangan di Indonesia untuk mewujudkan broadband economy adalah pada masalah manajemen frekuensi. Mislanya, di broadband wireless sangat diperlukan sekali penambahan spektrum dan harmonisasi alokasi dengan standard internasional.

Indar mengatakan, belajar dari kasus yang dialami oleh IM2 dalam memasarkan broadband berbasis teknologi 3,5G selama ini, perseroan kesulitan memberikan layanan berkualitas dengan alokasi spektrum yang terbatas.

Tercatat, indusk usaha IM2, Indosat, memiliki alokasi frekuensi sebesar 5 MHz untuk broadband data 3G, tetapi jumlah tersebut sudah keleleran menghadapi sekitar 300 ribuan pelanggan dari IM2 yang rajin berkoneksi internet. Akhirnya IM2 terpaksa mengerem nafsu berjualan dan hanya melakukan pemasaran pasif. “Untuk jangka panjang perlu dipikirkan alokasi spektrum bisa secara bertahap ditambahkan,” katanya.

Sarwoto menyarankan, pemerintah sebaiknya memberikan tambahan frekuensi kepada operator yang serius mengembangkan teknologi broadband. Ukurannnya tidak hanya penggelaran jaringan tetapi juga keseriusan menggaet pelanggan. “Namun harus diingat juga frekuensi tanpa manajemen BTS yang positif mendukungnya tidak akan gunanya,” katanya.

Harmonisasi

Penggiat telematika dari Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Wahyu Haryadi mengatakan, pemerintah perlu melakukan harmonisasi dalam setiap kebijakannya terkait membangun broadband dengan perkembangan teknologi.

“Pemerintah sekarang cenderung berjalan sendiri dengan keyakinannya. Contoh paling mutakhir dalam penetapan standar teknologi untuk Wimax yang lebih memilih standar 802.16d ketimbang 802.16e. Ini bisa membuat bangsa Indonesia menjadi terasing di komunitas internasional,” katanya.

Dikatakannya, di dunia internasional teknologi Wimax sedang bergerak dari 16e menuju 16m. Jika pemerintah dalam tender pita lebar pada April nanti masih bersikukuh dengan standar nomadic (16d) itu akan membuat Indonesia menjadi tidak kompetitif karena perangkat untuk standar tersebut tidak lagi diproduksi dunia internasional.

“Jika perilaku seperti itu dipertahankan terus, maka angka-angka yang dipaparkan tentang broadband economy hanya menjadi angan-angan belaka,” katanya.[dni]

.

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s