140309 Antara Wimax Atau LTE

wimax-logoBagi pengguna internet, istilah pita lebar atau broadband bukanlah suatu hal yang asing. Jika diartikan secara sederhana, broadband diibaratkan pipa yang lebar untuk koneksi internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat hingga 10-20 kali lipat dibandingkan modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan kecepatan dikisaran 30 hingga 50 kilobits per second (Kbps).

Karena kecepatan yang ditawarkannya sangat tinggi, maka layanan broadband mampu menghadirkan aplikasi multi media seperti aplikasi video dan music-on-demand, multi-player online games, voice dan video communications dengan nyaman.

Di Indonesia tanda-tanda masuknya broadband mulai terlihat dengan diperkenalkannya teknologi 3G tiga tahun lalu. Evolusi dari teknologi data milik GSM tersebut mampu menghantarkan data hingga 2 Mbps.

Namun, teknologi terus berkembang. Ketika 3G baru diluncurkan, para praktisi mulai sibuk membicarakan keberadaan Worldwide Interoperability for Microwave Acces (Wimax) yang lebih baik menghantarkan data ketimbang 3G.

Wimax secara sederhana dikatakan teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.

Tak mau ketinggalan, teknologi seluler pun meluncurkan Long Term Evolution (LTE). LTE adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler dengan standar IEEE 802.20 yang diproyeksikan menemukan momentumnya pada 2010 nanti.

Dalam ujicoba operator seluler terbesar di Jepang, NTT DoCoMo, pada Februari 2008, terungkap bahwa kecepatan downlink LTE bisa mencapai 250 Mbps sementara uplink berkisar 50 Mbps.

Di luar negeri diperkirakan LTE tidak akan dikomersialkan akhir tahun ini. LTE banyak dipergunakan operator untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data. Hal ini karena dari aspek ketersediaan spektrum, LTE dapat digunakan pada alokasi yang tersedia.

Hasil penelitian dari In-Stat memperkirakan LTE akan memiliki 23.1 juta pelanggan pada 2013 nanti alias tumbuh pesat dari hanya memiliki 176 ribu pelanggan pada 2010.

Anomali

Pemerintah telah menetapkan pada bulan depan tender Broadband Wireless Access (BWA) akan dibuka.Untuk tahap awal akan terdapat 100 MHz pita frekuensi yang akan ditender di pita 2,3 GHz dan 3,3 GHz. Bakrie Telecom, Indosat, dan Telkom telah menunjukkan minatnya untuk ikut dalam tender tersebut.

Jika dilihat sekilas, pemerintah lebih memberikan jalan eksklusif bagi wimax. Hal ini karena industri manufaktur dalam negeri bisa menjadi pemain dominan di teknologi tersebut. Saat ini pemain lokal yang mampu menopang teknologi wimax adalah TRG, Hariff, dan Xirka.

Sayangnya, bagi sebagian praktisi kebijakan pemerintah dalam mengembangkan teknologi Wimax banyak terjadi anomali. Pemerintah lebih memlih mengembangkan standar 802.16d ketimbang 802.16e.

Menurut kalangan yang menentang, standar 16d yang berarti nomadic alias tetap telah lama ditinggalkan dunia. Saat ini praktisi dunia sedang mengembangkan 16e dan menuju ke mobile wimax.

Staf Khusus Ahli Menkominfo Suhono Supangkat menjelaskan, dipilihnya standar 16d karena pemerintah ingin lebih fokus meningkatkan akses internet. “Harus diingat, akses internet banyak dilakukan dalam kondisi statis, lalu kenapa dipaksakan untuk mobile. Lagipula, manufaktur lokal sudah siap mendukung standar 16d,” katanya kepada Koran Jakarta belum lama ini.

Penggiat telematika dari Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Wahyu Haryadi mengatakan, jika pemerintah ingin mengembangkan industri dalam negeri untuk menjadi pemain utama harusnya yang dikembangkan adalah standar 16e.

Hal ini karena ketersediaan komponen dan nilai skala ekonomis dari WiMAX 802.16e saat ini secara global akan memberikan manfaat yang besar dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Di luar negeri orang bicara 16e. harusnya pemerintah menciptakan iklim investasi yang

kondusif sehingga bermunculan pemain lokal dan investor asing untuk membuka usahanya di Indonesia, bukan malah menghambatnya dengan menentukan platform yang apkiran,” sesalnya.

Sedangkan Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno lebih memilih sikap realistis dengan menggunakan kedua teknologi yang masuk kategori 4G tersebut. “Wimax akan digunakan untuk backbone bagi telepon pedesaan. Sedangkan LTE untuk akses mobile di perkotaan,” katanya.

Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam menambahkan, industri lebih menunggu komitmen pemerintah memberikan tambahan frekuensi bagi teknologi eksisting (3G) ketimbang berpolemik tentang penggunaan teknologi.

“Yang penting pemerintah itu memberikan frekuensi dengan harga murah ke operator. Jangan seperti sekarang, untuk tambahan 5 MHz bagi 3G dibanderol 160 miliar rupiah. Kalau begitu tak akan tercipta ekosistem broadband economy karena tarif internet tetap mahal,” tandasnya.[doni ismanto]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s