140309 Pelindo II Tata Tanjung Priok

pelabuhan-tj-priokJAKARTA–PT  Pelindo  II  cabang Tanjung Priok  terus  melakukan penataan fasilitas di pelabuhan guna menegakkan  amanat  UU  nomor  17/2008,  tentang pelayaran.

Regulasi tersebut menyebutkan semua  aktivitas   yang tidak terkait  dengan  bisnis kepelabuhanan   harus  direlokasi  ke luar pelabuhan.

“Kami  akan menggusur lima  pangkalan  militer  TNI  AL  dan  10 galangan kapal untuk direlokasi ke luar  pelabuhan,” ujar General Manager Pelindo  II  cabang  Tanjung Priok Cipto Pramono di Jakarta, Jumat, (13/3)

Lima pangkalan militer  yang akan direlokasi  Kantor Deshidros dan Oceanografi TNI AL, Pangkalan Batalyon Air  TNI AD, Komando Terminal (Koterm) TNI AD dan Bengpusang TNI AD.

Guna memuluskan langkahnya, Cipto mengatakan, sedang.  melakukan  negosiasi  di tingkat  kementerian   dan  lembaga  terkait  untuk   memindahkan  Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil)  yang ada  di kawasan pelabuhan.

Sebelumnya   Dirjen  Petrhubungan  Laut  Dephub,  Sunaryo  mengingatkan,  penataan pelabuhan  yang dilakukan  PT  Pelindo  II,  tidak menimbulkan keresahan  di  kalangan mitra  kerja.

Penataan  itu  sendiri, ungkap Sunaryo,  harus  terlebih dahulu dilakukan sosialsasi  sehingga  kondisinya  menjadi  kondusif.

Dia  juga  mengingatkan, sebelum dibongkar harus dipertimbangkan investasi  yang telah ditanamkan pelaku  usaha.

“Jika baru saja berinvestasi sebaiknya diberi kelonggaran,” katanya.

Berdasarkan catatan, di Tanjung Priok terdapat 10 perusahaan galangan kapal yang harus direlokasi. Pelindo II sendiri belum menentukan tempat relokasi.

Lokasi bekas galangan kapal rencananya.  akan dijadikan dermaga dan lapangan penumpukan guna meningkatkan  kapasitas melayani  kapal maupun petikemas di Pelabuhan Priok pada  dua hingga tiga tahun mendatang.

Informasi lain menyebutkan  PT  Pelindo II memberikan  alternatif  untuk galangan kapal  pindah ke kawasan  Marunda Centre yang bi bisa menampung sekitar 20 perusahaan galangan kapal dengan luas areal keseluruhan 52,6 hektare. [dni]

140309 Pesawat Lion Air Alami Total Lost

Jakarta — Pesawat MD-90 dengan registrasi PK LIL milik Lion Mentari Airlines ylion air pesawatang tergelincir di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, pada  Senin lalu dipastikan
mengalami kerusakan berat atau total lost sehingga tidak bisa dipergunakan kembali.

“Pesawat tersebut dipastikan rusak berat, sehingga sulit dioperasikan kembali, ungkap  Direktur Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat
Udara Dephub, Yurlis Hasibuan ketika dihubungi Jumat,  (13/3).

Yurlis menyarankan,  manajemen Lion Air untuk mengklaim pada
asuransi karena pesawat sudah tidak mungkin diterbangkan.

Berkaitan dengan nasib dari empat pesawat MD-90 lainnya milik Lion Air, Yurlis mengatakan, akan ada kepastiannya pada Senin depan.”Nanti Pak Dirjen Hubud yang akan mengumumkan,” katanya.

Yurlis memahami, kebijakan mengistirahatkan pesawat tersebut akan membuat maskapai mengalami kerugian, namun regulator juga ingin memastikan aspek keselamatan dipenuhi.

“Sekarang sedang dicarikan dulu solusi terbaiknya bersama dengan dirjen bagaimana baiknya,” ujarnya.

Sementara itu juru bicara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) JA Barata mengatakan saat ini pihaknya telah mengumpulkan sebagian besar data-data kecelakaan MD-90 di Cengkareng itu.

“Kemarin KNKT telah mengundang pilot senior untuk konsultasi. Dia dimintai pendapat mengenai pesawat MD-90 yang lama dioperasikannya,” katanya.

Kerjasama
Selanjutnya Yurlis mengungkapkan, pemerintah Indonesia dan Australia menjalin kerja sama mengaudit keselamatan maskapai penerbangan masing-masing.

Tujuannya, agar tidak terjadi duplikasi audit terhadap maskapai tersebut.”Kami sekarang sedang mengaudit (pesawat) Garuda yang terbang ke Australia,” katanya.

Dia melanjutkan, pesawat milik PT Garuda Indonesia (Persero) itu tidak perlu diaudit lagi di Australia.  Begitu pula sebaliknya, maskapai Asutralia yang terbang ke Indonesia tidak perlu lagi diaudit di sini.”Jadi, saat ini Australia juga sedang mengaudit maskapai Qantas yang terbang ke Indonesia,” ujarnya.

Kerja sama tersebut diharapkan bisa berkesinambungan dan diperbaharui dalam kurun dua atau setahun sekali. Pasalnya, cara ini dianggap juga bisa membantu menekan biaya audit yang anggarannya cukup besar.[Dni]

140309 Meretas Jalan Menuju C Generation

broadbandPara praktisi di industri telekomunikasi memilah-milah perjalanan pembangunan di sektor ini atas tiga tahap. Tahap pertama adalah era Palapa yang ditandai dengan peluncuruan satelit Palapa. Tahap kedua adalah era seluler, dan ketiga pita lebar (broadband).

Pada tahap pertama komunikasi di Indonesia dilakukan melalui telepon tetap dan televisi. Sedangkan perusahaan dalam negeri yang berkibar adalah RFC, PT INTI, PT LEN dan lainnya.

Sementara pada tahap seluler komunikasi dilakukan melalui perangkat bergerak. Sedangkan komunikasi data mulai berkembang meskipun teknologi yang digunakan masih dengan lebar pita yang sempit. Tahap kedua ini dimulai sekitar 20 tahun setelah satelit Palapa diluncurkan. Prestasi fenomenal yang diraih oleh teknologi seluler adalah sekitar 90 juta jiwa dapat berkomunikasi di Indonesia.

Sayangnya, pembangunan tahap pertama dan kedua tersebut tidak disertai dengan keinginan mengembangkan industri pendukung. Nilai ekonomi telekomunikasi seluler yang diperkirakan melebihi 200 triliun rupiah tidak memberikan dampak yang signifikan kepada industri manufaktur pendukungnya. Bahkan, saat ini PT INTI tidak mampu berbicara banyak di kancah seluler setelah mitra dari luar negeri Siemens memisahkan diri.

“Tahap ketiga adalah koneksi berbasis broadband. Ini ditandai dengan hadirnya evolusi teknologi generaki ke empat yang mengarah ke broadband seperti Wimax, Long Term Evolution (LTE), dan Fiber to Home (FTH),” ungkap Staf Khusus Ahli Menteri Kominfo Suhono Harso Supangkat kepada Koran Jakarta, belum lama ini.

Dikatakannya, konektivitas berbasis data akan memunculkan masyarakat kreatif dan ekonomi berbasis ilmu pengetahuan Hal ini akan memicu datangnya generasi baru yang disebut C Generation. C Generation merupakan singkatan dari 5 C yaitu Conectivity, Convergence, Content Creative, Collaboration, dan Contextual.

Suhono memperkirakan, dalam waktu 10 tahun ke depan kebutuhan akan akses pita lebar bisa mencapai lebih dari 120 juta pelanggan. Sedangkan pada tahun lalu fixed broadband internet memiliki 600.000 pelanggan dan mobile broadband digunakan 10.756.880 pelanggan.

Broadband Economy

Selanjutnya Suhono memperkirakan dengan potensi pasar yang sedemikian besar akan membuat nilai bisnis dari broadband bisa mencapai 300 triliun rupiah dalam waktu 10 tahun ke depan.

Syaratnya, harus dibangun ekosistem untuk membangun broadband economy seperti ketersediaan jaringan, stasiun pengirim dan penerima, terminal komputer, perangkat bergerak seperti Mobile Internet Devices (MID), konten dan penyelenggaraan lainnya.

“Untuk itu Indonesia harus punya strategi nasional yang dapat memberikan nilai maksimum terhadap nilai ekonomi. Jika tidak, bangsa ini akan kembali menjadi masyarakat konsumen seperti era tahap pertama dan kedua,” tandasnya.

Pengamat telematika dari Universitas Indonesia Riri Fitri Sari mengatakan, era broadband economy memang telah menjadi arah perubahan global di dunia. “Masyarakat kita cukup siap untuk memanfaatkan efisiensi yang akan ditimbulkan. Sebagian industri juga cukup siap memanfaatkan media kolaborasi global,” katanya.

Menurut Riri, tantangan ke depan dalam mewujudkan C Genereation adalah menciptakan layanan yang inovatif untuk pemanfaatan teknologi yang kian konvergen demi nilai tambah ekonomi berbasis pengetahuan.

Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno menambahkan, keberadaan broadband economy juga ditentukan oleh infrastruktur bandwidth, frekuensi, coverage, availbility, accessability, dan affordability jaringan.

Sedangkan Direktur Utama Indosat Mega Media (IM2) Indar Atmanto mengungkapkan, broadband economy di luar negeri telah dijadikan sebagai motor penggerak untuk keluar dari krisis ekonomi global.

“Hal ini terjadi di China, India, dan Australia. Karena dengan ekosistem broadband economy yang solid akan menyerap aktivitas ekonomi riil,” katanya.

Di Australia, ungkapnya, broadband berkontribusi sekitar 0,7 persen pada pertumbuhan domestik bruto (PDB) Australia. Sedangkan secara teori, pertumbuhan setiap 10 persen dari broadband akan memberikan dampak bagi PDB suatu negara sebesar 6,25 persen.

Indar mengatakan, tantangan di Indonesia untuk mewujudkan broadband economy adalah pada masalah manajemen frekuensi. Mislanya, di broadband wireless sangat diperlukan sekali penambahan spektrum dan harmonisasi alokasi dengan standard internasional.

Indar mengatakan, belajar dari kasus yang dialami oleh IM2 dalam memasarkan broadband berbasis teknologi 3,5G selama ini, perseroan kesulitan memberikan layanan berkualitas dengan alokasi spektrum yang terbatas.

Tercatat, indusk usaha IM2, Indosat, memiliki alokasi frekuensi sebesar 5 MHz untuk broadband data 3G, tetapi jumlah tersebut sudah keleleran menghadapi sekitar 300 ribuan pelanggan dari IM2 yang rajin berkoneksi internet. Akhirnya IM2 terpaksa mengerem nafsu berjualan dan hanya melakukan pemasaran pasif. “Untuk jangka panjang perlu dipikirkan alokasi spektrum bisa secara bertahap ditambahkan,” katanya.

Sarwoto menyarankan, pemerintah sebaiknya memberikan tambahan frekuensi kepada operator yang serius mengembangkan teknologi broadband. Ukurannnya tidak hanya penggelaran jaringan tetapi juga keseriusan menggaet pelanggan. “Namun harus diingat juga frekuensi tanpa manajemen BTS yang positif mendukungnya tidak akan gunanya,” katanya.

Harmonisasi

Penggiat telematika dari Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Wahyu Haryadi mengatakan, pemerintah perlu melakukan harmonisasi dalam setiap kebijakannya terkait membangun broadband dengan perkembangan teknologi.

“Pemerintah sekarang cenderung berjalan sendiri dengan keyakinannya. Contoh paling mutakhir dalam penetapan standar teknologi untuk Wimax yang lebih memilih standar 802.16d ketimbang 802.16e. Ini bisa membuat bangsa Indonesia menjadi terasing di komunitas internasional,” katanya.

Dikatakannya, di dunia internasional teknologi Wimax sedang bergerak dari 16e menuju 16m. Jika pemerintah dalam tender pita lebar pada April nanti masih bersikukuh dengan standar nomadic (16d) itu akan membuat Indonesia menjadi tidak kompetitif karena perangkat untuk standar tersebut tidak lagi diproduksi dunia internasional.

“Jika perilaku seperti itu dipertahankan terus, maka angka-angka yang dipaparkan tentang broadband economy hanya menjadi angan-angan belaka,” katanya.[dni]

.

140309 Antara Wimax Atau LTE

wimax-logoBagi pengguna internet, istilah pita lebar atau broadband bukanlah suatu hal yang asing. Jika diartikan secara sederhana, broadband diibaratkan pipa yang lebar untuk koneksi internet, sehingga memberikan akses yang jauh lebih cepat hingga 10-20 kali lipat dibandingkan modem dial-up yang hanya mampu menghantarkan kecepatan dikisaran 30 hingga 50 kilobits per second (Kbps).

Karena kecepatan yang ditawarkannya sangat tinggi, maka layanan broadband mampu menghadirkan aplikasi multi media seperti aplikasi video dan music-on-demand, multi-player online games, voice dan video communications dengan nyaman.

Di Indonesia tanda-tanda masuknya broadband mulai terlihat dengan diperkenalkannya teknologi 3G tiga tahun lalu. Evolusi dari teknologi data milik GSM tersebut mampu menghantarkan data hingga 2 Mbps.

Namun, teknologi terus berkembang. Ketika 3G baru diluncurkan, para praktisi mulai sibuk membicarakan keberadaan Worldwide Interoperability for Microwave Acces (Wimax) yang lebih baik menghantarkan data ketimbang 3G.

Wimax secara sederhana dikatakan teknologi berbasis data yang bekerja pada spektrum pita lebar layaknya Wi-Fi namun dengan jangkauan lebih luas dan kemampuan transmisi lebih cepat yakni mencapai 75 Mbps.

Tak mau ketinggalan, teknologi seluler pun meluncurkan Long Term Evolution (LTE). LTE adalah siklus terakhir pengembangan teknologi data seluler dengan standar IEEE 802.20 yang diproyeksikan menemukan momentumnya pada 2010 nanti.

Dalam ujicoba operator seluler terbesar di Jepang, NTT DoCoMo, pada Februari 2008, terungkap bahwa kecepatan downlink LTE bisa mencapai 250 Mbps sementara uplink berkisar 50 Mbps.

Di luar negeri diperkirakan LTE tidak akan dikomersialkan akhir tahun ini. LTE banyak dipergunakan operator untuk meningkatkan kapasitas dan kecepatan akses data. Hal ini karena dari aspek ketersediaan spektrum, LTE dapat digunakan pada alokasi yang tersedia.

Hasil penelitian dari In-Stat memperkirakan LTE akan memiliki 23.1 juta pelanggan pada 2013 nanti alias tumbuh pesat dari hanya memiliki 176 ribu pelanggan pada 2010.

Anomali

Pemerintah telah menetapkan pada bulan depan tender Broadband Wireless Access (BWA) akan dibuka.Untuk tahap awal akan terdapat 100 MHz pita frekuensi yang akan ditender di pita 2,3 GHz dan 3,3 GHz. Bakrie Telecom, Indosat, dan Telkom telah menunjukkan minatnya untuk ikut dalam tender tersebut.

Jika dilihat sekilas, pemerintah lebih memberikan jalan eksklusif bagi wimax. Hal ini karena industri manufaktur dalam negeri bisa menjadi pemain dominan di teknologi tersebut. Saat ini pemain lokal yang mampu menopang teknologi wimax adalah TRG, Hariff, dan Xirka.

Sayangnya, bagi sebagian praktisi kebijakan pemerintah dalam mengembangkan teknologi Wimax banyak terjadi anomali. Pemerintah lebih memlih mengembangkan standar 802.16d ketimbang 802.16e.

Menurut kalangan yang menentang, standar 16d yang berarti nomadic alias tetap telah lama ditinggalkan dunia. Saat ini praktisi dunia sedang mengembangkan 16e dan menuju ke mobile wimax.

Staf Khusus Ahli Menkominfo Suhono Supangkat menjelaskan, dipilihnya standar 16d karena pemerintah ingin lebih fokus meningkatkan akses internet. “Harus diingat, akses internet banyak dilakukan dalam kondisi statis, lalu kenapa dipaksakan untuk mobile. Lagipula, manufaktur lokal sudah siap mendukung standar 16d,” katanya kepada Koran Jakarta belum lama ini.

Penggiat telematika dari Forum Komunikasi Broadband Wireless Indonesia (FKBWI) Wahyu Haryadi mengatakan, jika pemerintah ingin mengembangkan industri dalam negeri untuk menjadi pemain utama harusnya yang dikembangkan adalah standar 16e.

Hal ini karena ketersediaan komponen dan nilai skala ekonomis dari WiMAX 802.16e saat ini secara global akan memberikan manfaat yang besar dan meningkatkan daya beli masyarakat.

“Di luar negeri orang bicara 16e. harusnya pemerintah menciptakan iklim investasi yang

kondusif sehingga bermunculan pemain lokal dan investor asing untuk membuka usahanya di Indonesia, bukan malah menghambatnya dengan menentukan platform yang apkiran,” sesalnya.

Sedangkan Direktur Utama Telkomsel Sarwoto Atmosutarno lebih memilih sikap realistis dengan menggunakan kedua teknologi yang masuk kategori 4G tersebut. “Wimax akan digunakan untuk backbone bagi telepon pedesaan. Sedangkan LTE untuk akses mobile di perkotaan,” katanya.

Ketua Komite Tetap Telekomunikasi Kadin Johnny Swandi Sjam menambahkan, industri lebih menunggu komitmen pemerintah memberikan tambahan frekuensi bagi teknologi eksisting (3G) ketimbang berpolemik tentang penggunaan teknologi.

“Yang penting pemerintah itu memberikan frekuensi dengan harga murah ke operator. Jangan seperti sekarang, untuk tambahan 5 MHz bagi 3G dibanderol 160 miliar rupiah. Kalau begitu tak akan tercipta ekosistem broadband economy karena tarif internet tetap mahal,” tandasnya.[doni ismanto]