Lion Diminta Tidak Terbangkan MD-90

JAKARTA— Direktorat Jenderal Hubungan Udara Departemen Perhubungan meminta maskapai nasional Lion Air untuk tidak menerbangkan seluruh pesawat jenis MD-90 miliknya selama tiga hari ke depan guna memastikan aspek layak terbang milik pesawat tersebut.

Lion Air tercatat memiliki lima pesawat jenis MD-90 dan MD-82 sekitar 11 unit.

“Saya sudah berbicara dengan manajemen Lion Air terkait kecelakaan yang dialami dua jenis pesawat MD-90 miliknya dalam waktu satu bulan ini. Mulai besok akan diperiksa semua jenis pesawat tersebut oleh regulator. Karena itu mereka dilarang untuk menerbangkannya selama tiga hari ke depan,” tegas Dirjen Hubungan Udara Herry Bhakti di Jakarta, Selasa (10/3).

Dikatakannya, kecelakaan yang dialami oleh satu pesawat biasanya dipengaruhi oleh tiga faktor yakni cuaca, operasi, dan teknis. “Saat ini Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang melakukan pemeriksaaan terkait insiden yang terjadi pada Senin (9/3) kemarin. Yang jelas penerbang dari pesawat nahas itu kita grounded selama satu bulan untuk pemeriksaan,” katanya.

Herry menegaskan, sebagai regulator pihaknya telah maksimal melakukan pengawasan terhadap setiap maskapai untuk memenuhi aspek keselamatan. “Kita sudah mencoba secara maksimal. Jika masih ada kecelakaan, bagaimana lagi,” katanya.

Direktur DSKU Yurlis Hasibuan menambahkan, pihaknya sedang menyusun detail surveilance untuk memperketat pengawasan bagi seluruh maskapai. “Terus terang kita kekurangan inspektur. Untuk satu maskapai itu dibutuhkan 80 kali pemeriksaan dalam setahun dan itu pengerjaannya 150 hari. Nah, sekarang apa satu inspektur cukup. Ini yang sedang dipelajari,” katanya.

Berkaitan dengan isu bebasnya berkeliaran jenis pesawat yang memiliki catatan kecelakaan tinggi di Indonesia, Herry mengatakan, dalam melihat kinerja pesawat tidak pada tempatnya berdasarkan umur atau jenis. “Yang penting perawatan dan pemenuhan aspek keselamatannya. Siapa yang bisa menjamin pesawat baru tidak bermasalah. Pengawasan dan perawatan, itu yang penting,” tegasnya.

Seperti diketahui, pada Senin (9/3) pesawat MD-90 milik Lion Air tergelincir di Bandara Soekarno-Hatta Cengkareng. Pesawat dengan nomor penerbangan JT-793 tersebut tergelincir keluar landas pacu bagian selatan Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat baru berhasil ditarik dari runaway bagian selatan bandara pada Selasa 2.30 sore.

Pesawat rute Makassar-Jakarta yang mengangkut 166 penumpang dan enam awak termasuk pilot dan kopilot itu tergelincir saat melakukan pendaratan pada 9 Maret sekitar pukul 15.30 WIB. Tidak ada korban jiwa maupun korban terluka akibat peristiwa ini.

Akibat insiden tersebut, bagian depan pesawat yang dipiloti Capt. Haryanto dan kopilot Darsito tersebut mengalami kerusakan cukup parah.

KNKT telah mengirimkan lima investigator untuk menyelidiki penyabab awal kecelakaan. Kelima investigator tersebut adalah Franz Wenaz, J. Temenggung, Capt. Nurcahyo, Alit Sadikin, dan Sulaeman.

Peringkat Lion

Ketika disinggung tentang nasib dari peringkat Lion Air dalam pemeringkatan pesawat yang akan diumumkan pada akhir Maret nanti, Herry mengatakan, terdapat 25 item yang dinilai untuk menentukan posisi maskapai.

“Tergantung penilaian secara keseluruhan. Kecelakaan ini kan hanya salah satunya. Namun, pasti dua insiden ini akan mempengaruhi penilaian,” katanya

Yurlis menambahkan, kecelakaan yang dialami oleh Lion Air di Soekarno-Hatta hanya dinilai kecil karena tidak ada korban jiwa. “Ini hanya mengurangi dua poin,” katanya.

Secara terpisah, Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menegaskan, siap untuk mengikuti perintah dari regulator. “Jika itu yang dimaui oleh regulator kami siap,” katanya.

Diakuinya, akibat pelarangan lima pesawat jenis MD-90 tersebut selama tiga hari ada potensi kerugian yang dialami oleh perseroannya. “Besarannya belum dihitung secara pasti mengingat rute yang dilalui oleh pesawat-pesawat tersebut berbeda-beda. Jika taksiran kasar bisa saja mencapai sekitar satu miliar rupiah,” katanya.

Dikatakannya, Lion Air juga telah menyiapkan pesawat pengganti untuk jenis MD. Terbukti pada Maret ini akan datang dua jenis B 737-900 ER yakni pada 17 maret dan 25 Maret.

“Kita memang berencana akan menjadikan pesawat jenis MD sebagai cadangan secara bertahap mulai Juni nanti. Sedangkan proses peremajaan selesai tinggal pemenuhan pemesanan,” ungkapnya.[dni]