060309 Larangan Terbang Belum Tentu Dicabut

JAKARTA– Larangan terbang bagi maskapai nasional untuk terbang ke wilayah Uni Eropa belum tentu akan dicabut pada Maret ini meskipun Indonesia sudah berusaha memenuhi standar aspek keselamatan yang diminta oleh negara-negara tersebut.

“Temuan dari International Civil Aviation Organization (ICAO) sudah dijalankan. Yang kurang cuma satu, yakni masalah pengawasan,” kata Direktur Direktorat Sertifikasi dan Kelaikan Udara (DSKU) Departemen Perhubungan Yurlis Hasibuan, di Jakarta, Jumat (6/3).

Dikatakannya, regulator berencana akan melakukan surveilance (pengawasan) lebih ketat pada maskapai mulai bulan ini. “Sebenarnya ini sudah dijalankan. Yang menjadi masalah oleh UE itu adalah tidak idealnya jumlah inspektur dengan armada. Sekarang kita sedang meningkatkan jumlah inspekturnya,” katanya.

Menurut temuan UE, lanjutnya, Indonesia terlalu longgar dalam mengawasi maskapai. Tercatat, satu maskapai diperiksa 100 hari dalam satu tahun. Meskipun sudah dilakukan peningkatan, waktunya hanya berubah menjadi 40 hari. “Kesimpulannya kita kekurangan inspektur teknis dan operasional,” tuturnya.

Idealnya dengan kondisi 49 maskapai nasional, regulator membutuhkan 200 inspektur. Sedangkan saat ini hanya tersedia 169 inspektur. Kekurangan jumlah tersebut rencananya akan dipenuhi dalam waktu tiga tahun.

Diungkapkannya, untuk mengatasi masalah tersebut Dephub akan membuat rencana detail guna meningkatkan sistem pengawasan terhadap 49 maskapai nasional. Dephub merancang dua inspektur mampu menangani satu maskapai sehingga dapat mencapai 100 hari pemeriksaan dalam satu tahun.

Dia juga mengungkapkan pihaknya tengah membuat rencana detail penambahan inspektur berpengalaman dalam waktu singkat yakni mengontrak pilot dan teknisi pesawat dari luar. Ditjen Perhubungan Udara mengalokasikan anggaran hingga 4 miliar rupiah untuk mengontrak pilot dan teknisi berpengalaman non-PNS. Diprediksikan dibutuhkan empat pilot berpengalaman sebagai inspektur dalam waktu dekat ini untuk memenuhi permintaan UE.

“Pertengahan Maret ini, detail plan itu selesai dan akan langsung dijalankan,” papar dia.

Sriwijaya Air
Secara terpisah, Juru bicara Sriwijaya Air Ruth Hanna Simatupang mengungkapkan, perusahaannya baru saja menambah armada dengan mendatangkan dua pesawat tipe B737-300 dan 400. Penambahan jumlah armada tersebut menjadikan Sriwijaya memiliki 22 pesawat.

“Penambahan armada ini juga bertujuan untuk memperlancar usaha perseroan memperkuat pasar domestik dan regional,” katanya.

Dikatakannya, pada Maret ini Sriwijaya akan membuka rute penerbangan di Kawasan Timur Indonesia seperti Sulawesi Utara, Papua, dan Maluku Utara. Tak lama lagi Sriwijaya akan membuka kembali rute Jakarta-Surabaya- Manado dan rute baru antara lain Jakarta-Makassar-Sorong-Manokwari dan Jakarta-Makassar-Ternate. “Rute-rute tersebut akan dibuka menjelang tutup bulan ini,” katanya.[dni]