260209 Menyoal Keberadaan Mobile Advertising

sms

Sejak pemerintah mengeluarkan beleid guna memangkas tarif ritel telepon nirkabel sebesar 20-40 persen pada April 2008, operator telekomunikasi mulai serius menggarap layanan nilai tambah (Value Added Service/Vas) sebagai usaha untuk mempertahankan tren pertumbuhan pendapatan yang positif.

Vas yang digarap berupa mobile data, SMS Premium, nada sambung, dan yang terbaru adalah menjadikan ponsel sebagai alat beriklan alias mobile advertising.

Mobile advertising adalah layanan yang menjadikan ponsel sebagai media beriklan (media seller) dari produsen. Pola bisnis dari layanan ini melibatkan produsen, biro iklan dan operator.

Di Indonesia, pionirnya adalah Indosat melalui i-klan dan diikuti oleh Telkomsel dengan kartu As Fress. Meskipun Indosat sebagai pionir, tetapi Telkomsel yang berani memasarkan jasa ini secara above the line dan below the line ke pasar.

Sedangkan Indosat seperti biasanya, belajar dari kesalahan yang dibuat pesaingnya dengan melakukan modifikasi dan muncul ke pasar melalui produk yang seolah-olah paling lengkap.

Saat ini i-klan berhasil menggaet 900 ribu pelanggan, sedangkan Kartu As Fress memikat 1,5 juta pelanggan. Indosat menargetkan jasa i-klan akan mampu mendapatkan dua juta pelanggan pada akhir tahun nanti setelah menggandeng Nokia dan Oke Shop sebagai mitranya belum lama ini.

“Layanan ini merupakan breakthrough dalam dunia periklanan. Tidak ada media yang bisa seresponsif medium ponsel dalam menyampaikan komunikasi. Saya yakin dua tahun lagi layanan ini akan booming,” ujar Kepala Pemasaran dan Merek Indosat Teguh Prasetya kepada Koran Jakarta, (Rabu (25/2).

Diungkapkannya, jika media internet hanya memiliki respons sebesar satu persen untuk setiap satu kali penayangan iklan, maka pesan melalui ponsel memliki respons sebesar 10-20 persen. “Dan pelanggan tidak merasa terganggu dengan pesan iklan yang disampaikan. Buktinya tingkat pindah layanan khusus untuk jasa ini hanya sekitar satu persen,” tegasnya.

Aturan Main

Jika di Indonesia mobile advertising merupakan hal yang baru, di luar negeri jasa ini telah berhasil menjadi penggerak pendapatan bagi operator. Di Jepang misalnya, NTT Do Como mengandalkan jasa tersebut sebagai penyumbang 10 persen pendapatannya.

Di Jepang, model bisnis yang telah terbentuk membuat jasa ini saling menguntungkan semua pihak yang terlibat yaitu pelanggan, biro iklan, pemasang iklan, dan operator. Berdasarkan catatan, pada 2011 nanti nilai bisnis dari mobile advertising akan mencapai 12 miliar dollar AS secara global.

“Di Indonesia jasa ini belum memiliki regulasi. Kesan yang muncul pelanggan dieksploitasi. Karena itu kami merasa perlu untuk mengaji keberadaan dari jasa tersebut. Kita tidak ingin pelanggan dirugikan,” tegas Anggota Komite Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi.

Jika dilihat sekilas, menurut Heru, jasa tersebut mencampuradukkan antara SMS premium, SMS Broadcast, dan iklan.


Seandainya mengacu pada regulasi SMS premium operator harus memberikan fasilitas mendaftar dan menghentikan layanan bagi pelanggan layaknya jasa yang diberikan oleh penyedia konten. Dan yang terpenting adalah operator tidak boleh memperjualbelikan data pelangganya ke pemasang iklan.


Heru menyoroti konsep mobile advertising di Indonesia yang terkesan mengeksploitir pelanggan. Hal itu dapat dilihat dari ketimpangan kompensasi yang diterima pelanggan dari jasa tersebut. Bonus berupa SMS atau pulsa bagi pelanggan yang rela menerima iklan dari para mitra provider dianggap belumlah optimal.


“Jika hanya diberikan bonus SMS itu tidak fair bagi pelanggan. Hal ini karena privasi mereka terganggu menerima iklan, tetapi kompensasinya tidak setimpal. Operator menerima puluhan miliar dengan memanfaatkan data base pelanggannya,” katanya.


Ketika ditanya akankah ada regulasi khusus yang dikeluarkan berkaitan dengan jasa tersebut, Heru mengatakan, jika regulasi SMS Premium sudah bisa mengakomodasi model bisnis dari layanan tersebut, kemungkinan besar tidak akan ada keluar beleid khusus untuk mobile advertising.


Sementara itu, Anggota Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo meminta, masalah kerugian akibat adanya penyalahgunaan informasi harus jelas dalam jasa tersebut. “Jika iklannya salah, konsumen harus jelas menuntut siapa. Jangan seperti SMS Premium, operator menikmati keuntungan, tetapi mereka tidak terkena tanggung renteng,” katanya.


Menanggapi hal itu, Teguh mengatakan, kartu perdana hasil co-branding dengan Nokia dan Oke shop memang hanya memberikan bonus pulsa sebesar lima ribu rupiah. Dan setelah jumlah tersebut habis, bonus yang dinikmati hanya berupa nada sambung, MMS, atau SMS untuk ke sesama pelanggan Indosat. “Sedangkan untuk masalah mendaftar dan menghentikan layanan fasilitas itu kami berikan dan tidak dipungut biaya,” jelasnya.


Harus Jelas

Pada kesempatan lain, Wakil Ketua Komite Tetap Informatika Kadin, Iqbal Farabi mengatakan, konsep mobile advertising yang berjalan saat ini memang belum optimal. Jika mengacu pada konsep yang lazim di luar negeri, kartu yang digunakan bebas biaya pemakaian dan dibayar dari pengiklan.


“Yang jalan sekarang masih mandul. Saya usul buat operator untuk benar-benar memberikan bonus yang bermanfaat bagi pelanggan, tidak hanya SMS,” katanya.


Sementara itu, Internal Affairs Director IMOCA Tjandra Tedja menegaskan, mobile advertising bukanlah SMS Premium. “Ini dua barang yang berbeda. saya kasihan jika ada yang bicara seperti itu. Ini berarti mereka tidak mengerti konsepnya,” katanya.


Dikatakannya, jika di SMS Premium penerima SMS terpotong pulsanya, maka di mobile advertising tidak dikenakan biaya apa pun karena pengiklan yang membayar biaya SMS.


“Dan masalah adanya penyalahgunaan data base itu sangat berlebihan. Pengiklan itu hanya tertarik SMS iklannya dikirim ke jutaan pengguna seluler alias massal,” katanya.


Secara terpisah, pengamat telematika Ventura Elisawati meminta regulator tidak terlalu ketat mengatur jasa yang tergolong baru tersebut dengan mengatasnamakan kepentingan pelanggan.


“Ini adalah produk kreatif. Kreatifitas itu biasanya hasil ‘kekurangajaran’. Jadi, baiknya di biarkan berkembang sambil diamati dan dipersiapkan dengan regulasi yang harmonis. Jangan belum apa-apa sudah diancam, mana fungsi regulator sebagai pelindung industri,” tandasnya.


Sedangkan Pengamat Periklanan M. Gunawan Alif mengatakan, mobile advertising di Indonesia masih memerlukan waktu untuk berkembang karena pengiklan masih ragu akibat belum adanya data terukur dan riset perilaku konsumen yang valid untuk medium ini.


Dikatakannya, medium ini mencapai skala ekonomis besar jika banyak pemasang iklan yang cerdas dan kreatif menjadi pendorongnya. Tetapi, keinginan untuk memanfaatkan medium tersebut akan terhalangi oleh sikap biro iklan atau media spesialis yang tidak terlalu getol menggunakan medium alternatif seperti mobile advertising.


“Biro iklan itu tidak mau repot dengan evaluasi data yang belum valid. Apalagi medium baru ini tidak menjanjikan keuntungan yang cepat layaknya TV. Karena itu saya bilang mengandalkan biro iklan sebagai driver tidak bisa diharapkan,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s