210209 Merpati Terancam Tak Bisa Layani Pasar Perintis

merpatiJAKARTA —Maskapai penerbangan nasional, PT Merpati Nusantara Airlines, terancam tak bisa melayani pasar perintis di Kawasan Timur Indonesia menyusul ancaman gugatan Xian Aircraft Industry Ltd China atas pengurangan sepihak jumlah pesanan pesawat jenis MA-60.

“Adanya gugatan dari pihak luar itu bisa membuat Merpati kehilangan kesempatan menambah armada untuk melayani penerbangan perintis,” ujar Menhub Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (20/2).

Jusman mengatakan, jalur perintis itu tidak mungkin menunggu atau dibiarkan kosong. Jika memang Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak bisa mengelola akan diserahkan kepada swasta.

Dijelaskannya, selama ini pihaknya memprioritaskan BUMN penerbangan itu melayani penerbangan perintis di kawasan timur Indonesia yang disubsidi pemerintah.

Pada tahun ini, Departemen Perhubungan mengalokasikan anggaran sebesar 170,1 miliar rupiah untuk subsidi angkutan udara perintis dan BBM pada 101 rute penerbangan.

Ke-101 rute itu tersebar di 15 provinsi anatara lain Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Aceh, dan Sumatra Utara.

“Saya sangat mengharapkan kasus pesanan pesawat MA-60 segera selesai untuk mendukung rencana bisnis Merpati menambah armada. Kalau pesawat itu tidak jadi datang, ya Merpati akan kehilangan kesempatan melayani jalur perintis itu,” sesalnya.

S

ebagai solusi sementara, Menhub menawarkan Merpati menambah pesawat dari dalam negeri bekerja sama dengan PT Dirgantara Indonesia .

Namun, Menhub optimistis akan ada jalan keluar penyelesaian kasus MA-60 setelah Dubes China di Indonesia menyampaikan jalan keluar itu melalui negosiasi.

Saat ini, ungkap Menhub , China telah membentuk tim negosiasi untuk menyelesaikan kasus itu setelah pemerintah Indonesia menunjuk Mendag Mari Elka Pangestu sebagai ketua tim negosiasi. “Juru runding kedua belah pihak akan mencari solusinya. Itu kan kerja sama dengan Exxim Bank China . Nanti bisa dibuat aturannya,” katanya.

Untuk diketahui, Kasus MA-60, berawal dari keinginan Merpati mengurangi pesanan pesawat dari 15 unti menjadi tujuh unit karena alasan harga jual terlalu mahal. Namun, dua pesawat buatan Xian sudah didatangkan ke Merpati dan dioperasikan di kawasan timur Indonesia .

Xian, pabrikan pesawat itu mengancam menggugat perusahaan pelat merah itu untuk membayar ganti rugi satu triliun rupiah karena sudah terikat kontrak pemesanan.

Pembelian 15 pesawat MA-60 dilakukan melalui kontrak antara pemerintah China dan Indonesia waktu itu dengan harga per unit 15 juta dollar AS.

Dalam perkembangan, Merpati mengurangi pesanan pesawat itu karena alasan akan membebani keuangan maskapai pelat merah itu.

“Perubahan tersebut bagi China mengejutkan. Karena bagi mereka kontrak yang telah ditandatangani dianggap efektif meski Merpati belum mengganggap mengikat,”katanya.

“Nah, ini yang harus dicari jalan keluarnya supaya nanti Merpati bisa bayar. Sebab, kalau nanti tidak bisa bayar, maka pemerintah yang menanggung,” tambahnya.

Secara terpisah, GM Sekretaris Perusahaan Merpati Sukandi menyatakan pihaknya masih menginginkan memenangi lelang pelayanan angkutan udara perintis di kawasan timur Indonesia .

“Mudah-mudahan kami masih mampu memenuhi persyaratan dari Departemen Perhubungan,” kata Sukandi.

Diungkapkannya, Merpati akan menyiapkan sedikitnya tujuh unit pesawat tipe Twin Otter berkapasitas 18 penumpang, Cassa dengan 22 penumpang satu Fokker F-27 untuk melayani penerbangan perintis.

Sukandi melanjutkan pihaknya berharap kasus MA-60 tidak mengganggu operasional Merpati melayani penerbangan di kawasan timur Indonesia . “Karena pelayanan di kawasan itu bagian misi Merpati sebagai jembatan udara nusantara,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s