140209 Pertamina Diminta Sesuaikan Harga Avtur

JAKARTA —Departemen Perhubungan menilai sepanjang tahun lalu Pertamina menetapkan harga avtur yang lebih mahal ketimbang di Singapura terhadap maskapai lokal. Padahal harga avtur yang berlaku di Singapura itu selama ini menjadi rujukan di wilayah Australia , Malaysia , Thailand , Brunei Darussalam, dan Hong Kong .

“Saya sudah mengirim surat ke Pertamina terkait hal itu. Dan belum lama ini sudah ada jawabannya,” ungkap Menhub Jusman Syafii Djamal di Jakarta, Jumat (13/2).

Menurut dia, berdasarkan data perbedaan harga itu meliputi penerbangan domestik dan internasional. Disebutkan, untuk penerbangan domestik, harga jual avtur yang dipatok Pertamina lebih tinggi 28,13 persen dibandingkan Singapura. Sementara untuk penerbangan internasional, selisihnya mencapai 18,46 persen.

Jusman mengungkapkan, dalam suratnya Pertamina salah satu alasan yang digunakan adalah karena volume permintaan avtur di Singapura lima kali lebih tinggi dibandingkan di Indonesia.

Tingginya volume itu, menurut Pertamina, membuat Singapura bisa menerima keuntungan lebih besar dari permintaan tersebut. Sementara permintaan di Indonesia yang hanya seperlimanya, memaksa Pertamina untuk tetap mematok harga lebih tinggi.

”Namun, Pertamina terbuka melakukan evaluasi terhadap naik-turunnya harga avtur itu seperti yang telah dijanjikan kepada Asosiasi penerbangan lokal,” katanya.

Sejalan dengan upaya evaluasi tersebut, menurut Jusman, Pertamina juga berusaha untuk mengimbangi harga jual avtur dengan Singapura. Namun, perealisasiannya masih menunggu terbangunnya kilang baru di Balongan yang berjarak lebih dekat.

Terkait kondisi ini, Jusman mengharapkan keterlibatan pihak swasta untuk menciptakan sebuah kompetisi dalam penjualan avtur di bandara-bandara dalam negeri. Karena kompetisi tersebut berpotensi mendukung upaya pemerintah untuk memajukan dunia penerbangan nasional.

Bandara Juanda Surabaya, menurut Jusman, akan menjadi bandara pertama yang akan melibatkan pihak swasta dalam pengadaan avtur tersebut. ”Untuk di kedua bandara tersebut, mungkin masih harus bekerja sama dengan Pertamina untuk infrastrukturnya. Kecuali kalau mau bangun sendiri. Nah, di Kualanamu mungkin bisa,” paparnya.

Harga avtur di Indonesia terus mengalami kenaikan sejak Januari 2008 hingga Agustus 2008. Pertamina baru menurunkan harga avtur sejak September 2008. Berbeda dengan Indonesia , maskapai negara lain menggunakan avtur dengan harga yang berfluktuasi langsung layaknya harga minyak dunia.

Rata-rata harga avtur di Indonesia periode Januari hingga Desember 2008 sebesar 9.699 rupiah per liter, atau mengalami kenaikan sekitar 47 persen dibandingkan rata-rata 2007. sedangkan nilai kurs dollar AS mengalami kenaikan sekitar 8 persen menjadi 9.749 rupiah dibandingkan dengan rata-rata di 2007.

Harga avtur di Indonesia sejak Januari 2007 hingga Desember 2008 lebih tinggi di bandingkan dengan harga avtur di Singapura, dengan rata-rata untuk penerbangan luar negeri lebih mahal sekitar 0,20 dollar AS atau sekitar 31,77 persen dan untuk dalam negeri lebih tinggi sekitar 0,19 dollar AS atau 30,03 persen.[dni]