120209 Menguji Daya Tahan Operator

teleponDampak krisis ekonomi sebenarnya tidak hanya dirasakan oleh sektor riil yang menunjang industri telekomunikasi. Operator pun sebagai salah satu fundamental industri telah merasakannya sejak awal tahun ini.

Korban pertama yang bisa disebut adalah PT Excelcomindo Pratama Tbk (XL). XL terpaksa membatalkan tender tujuh ribu menara miliknya. Padahal proses tender sudah dalam tahap menentukan pemenang mengingat enam perusahaan sudah lolos hingga tahap akhir.

“Seharusnya sudah ada pemenang. Tetapi perusahaan pemenang tidak berhasil mendapatkan pembiayaan. Win-win solution-nya tender dibatalkan tanpa ada pemenang,” ujar Direktur Utama XL Hasnul Suhaimi di Jakarta, belum lama ini.

XL sebelumnya menargetkan meraih dana segar sebesar satu triliun rupiah. Jika dana itu didapat, nominal tersebut akan menjadi tambahan belanja modal tahun ini sebesar 700 juta dollar AS.

“Sekarang kita terpaksa mengandalkan dana internal, hutang, dan hasil right issue nanti akhir kuartal pertama ini untuk pemenuhan belanja modal,” katanya.

Nasib sial yang dialami XL, sepertinya akan diikuti oleh Bakrie Telecom yang sedang dalam proses penjualan 543 menara miliknya. Dari penjualan menara tersebut, Bakrie Telecom berharap mendapatkan dana segar sebesar 380 miliar rupiah.

Enam perusahaan penyedia menara mengikuti tender menara milik penyedia layanan Esia tersebut. Keenam perusahaan tersebut adalah Solusi Tunas Pratama, Tower Bersama, Protelindo, Retower, Padi Mekatel, dan Powertel.

Jika merujuk pada jadwal semula, Bakrie Telecom seharusnya sudah mengumumkan pemenang tender pada akhir Januari lalu. Namun, hingga saat ini tidak ada lagi kabar tentang hasil tender penjualan menara.

Direktur Korporasi Bakrie Telecom Rakhmat Junaedi ketika dikonfirmasi tentang hal ini membantah keras penjualan menara Bakrie Telecom dibatalkan. “Memang ada pengunduran jadwal pemenang. Ini karena kita sedang berusaha bernegosiasi dengan peserta untuk mendapatkan nilai penjualan di atas target,” katanya.

Rakhmat memastikan, pengumuman pemenang tender menara miliknya akan diumumkan pada akhir bulan ini. “Dipastikan tidak ada pengunduran jadwal lagi,” katanya.

Sumber Koran Jakarta mengungkapkan, terdapat tiga nama yang bersaing ketat untuk mendapatkan menara milik Bakrie Telecom. Ketiga perusahaan itu adalah Retower, Protelindo, dan Powertel.

Kandidat terkuat yang disebut-sebut akan menjadi pemenang adalah Retower karena perusahaan ini dimiliki oleh salah satu pengusaha muda yakni Sandiaga S. Uno bos dari Recapital. Pengusaha ini terkenal memiliki hubungan dekat dengan keluarga besar Bakrie.

Jika dua perusahaan di atas masih terlihat kuat untuk bertahan di tengah badai krisis. Tidak demikian dengan salah satu operator berbasis teknologi CDMA, Sampoerna Telekomunikasi Indonesia (STI).

Kegagalan operator tersebut dalam tender Universal Service obligation (USO) beberapa waktu lalu membuat terjadi perampingan besar-besaran di organisasi perusahaan tersebut. Proyek semacam USO memang menjadi andalan dari STI mengingat ceruk pasar yang digarap adalah wilayah pinggiran. Saat ini perusahaan tersebut memiliki 800 ribu pelanggan.

“Hampir tiap minggu di perusahaan tersebut terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) mulai dari level manager hingga VP. Belum lama ini ada 30 orang di level middle management yang di-lay off,” ungkap sumber Koran Jakarta.

Head of Regulatory STI Rudy Martines, ketika dikonfirmasi hal ini beberapa waktu lalu enggan untuk berkomentar.

Jika melihat fenomena seperti di atas, prediksi dari Ketua Umum Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Merza Fachys, menjelang tutup tahun 2008 bisa saja terjadi. Saat itu Merza memprediksi menjelang semester pertama pada tahun ini peluang operator untuk melakukan merger terbuka besar.

“Merger janganlah diartikan sebagai kalah bertarung. Bisa jadi berkumpulnya kekuatan kecil untuk melawan yang besar dapat memberikan perlawanan lebih berarti ketimbang berperang sendiri-sendiri,” katanya.

Sementara itu, Hasnul mengatakan, tahun ini adalah penentuan masa-masa indah sektor telekomunikasi bisa berlanjut. Jika pada tahun ini terjadi pertumbuhan sebesar 20 persen sesuai prediksi, maka dalam dua tahun ke depan adalah masa akuisisi pelanggan tetap berlanjut.

“Setelah itu potensi pelanggan akan habis dan berubah persaingannya ke arah retensi. Saat itulah operator dengan fundamental kuat yang akan bertahan ,” tegasnya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s