120209 Dampak Krisis di Telekomunikasi : Kala Krisis Mulai Menunjukkan Taringnya

smsKetika krisis ekonomi mulai menghantam dunia pada kuartal keempat tahun lalu, banyak punggawa di operator telekomunikasi memprediksi pada tahun 2009 akan terjadi perlambatan pertumbuhan industri.

Para punggawa itu memprediksi dari sisi pertumbuhan pelanggan hanya akan tumbuh 20 persen dari posisi akhir 2008. Padahal, pada tahun lalu tingkat pertumbuhan melaju sebesar 40 persen, sehingga ada sekitar 140 juta nomor aktif di jagat telekomunikasi.

Sedangkan untuk raihan pendapatan diperkirakan tak akan jauh berbeda dengan tahun lalu alias flat. Tetapi benarkah prediksi para punggawa itu tepat jika melihat sinyal-sinyal sektor riil dari industri telekomunikasi?

Sektor riil yang dimaksud tentunya adalah penjualan kartu perdana, voucher isi ulang, dan telepon seluler di sentra-sentra ponsel di kota-kota besar.

Jika menggunakan data yang diambil berdasarkan investigasi ke pasar alias sentra-sentra ponsel di Jakarta, bisa dikatakan krisis ekonomi mulai menunjukkan taringnya.

”Omset kami drop hingga 30 persen sejak awal tahun ini. Gejalanya sudah terasa sejak usai lebaran,” ujar Asuy, salah seorang pemilik kios di Mall Ambassador, kepada Koran Jakarta, Rabu (11/2).

Menurut Pria yang memiliki empat kios di lokasi tersebut, penurunan omset terjadi di pengisian pulsa isi ulang karena perputarannya mulai melambat. Hal ini membuat para pedagang melakukan banting harga untuk produk kartu perdana agar pasokan pulsa isi ulang tetap diberikan oleh distributor besar.

Dijelaskannya, untuk membeli pulsa ke distributor utama para pemilik toko dituntut untuk membeli kartu perdana dan voucher dengan komparasi tertentu. Dan kedua produk tersebut memiliki target yang harus dipenuhi jika ingin meningkatkan volume pembelian berikutnya.

”Akhirnya harus ada yang dikorbankan. Kita banting harga kartu perdana, agar bisa menutup biaya makan,” ujarnya tanpa bersedia menyebut penurunan omset perdagangan di empat tokonya.

Arif, pedagang yang ditemui di Cempaka Mas juga mengalami hal yang sama. ”Dua tahun terakhir, ini penurunan yang lumayan berat. Khususnya untuk penjualan voucher isi ulang,”katanya.

Sebelumnya, lanjutnya, para pedagang memperkirakan terjadi perpindahan tempat pembelian oleh para konsumen. Namun, setelah dilakukan koordinasi, hal yang sama juga terjadi di sentra ponsel lainnya.

Equilibrium Baru

Direktur Komersial XL Joy Wahyudi menjelaskan, sejak usai Lebaran pada tahun lalu pasar pulsa isi ulang memang sedang mencari keseimbangan baru.

Dikatakannya, penjualan pulsa prabayar XL sebelum krisis hingga kuartal ketiga pada tahun lalu mencapai 1,2 triliun rupiah per bulannya . Namun, seusai Lebaran hingga pertengahan Februari ini, angka itu turun sekitar 16,6 persen menjadi satu triliun rupiah setiap bulannya.

”Bagi saya itu hal yang biasa karena angka satu triliun rupiah itu stabil dari bulan ke bulan,” katanya.

Direktur Pemasaran Indosat Guntur S Siboro juga mengaku terjadi penurunan penjualan pulsa isi ulang sejak Desember lalu hingga saat ini. ”Tetapi ini gejala yang biasa karena kuartal pertama setiap tahunnya itu selalu penderitaan bagi para operator. Pertumbuhan paling lemah itu memang terjadi di kuartal pertama,” katanya.

Untuk diketahui, pada 2007 pertumbuhan penjualan kartu perdana pada kuartal pertama sebesar empat persen. Namun, pada tahun lalu terjadi penurunan dimana pertumbuhan hanya terjadi sebesar dua persen.

Ketika didesak penurunan jumlah penjualan voucher isi ulang milik Indosat di pasar sejak beberapa bulan lalu, Guntur mengatakan, tidak bisa membuka angka secara implisit karena perseroan saat ini sedang menjalani tender offer di bursa.

”Ini black period untuk membuka soal angka. Saya Cuma bisa kasih petunjuk terjadi penurunan sebesar single digit,” jelasnya.

Berdasarkan catatan, sebelum krisis menghantam penjualan voucher isi ulang Indosat dengan 31 juta pelanggan kala itu mencapai 30 miliar rupiah per bulan.

Jika dilakukan analisa secara komparasi jumlah pelanggan, dapat dikatakan XL lebih produktif menarik pelanggannya untuk mengisi ulang pulsa ketimbang Indosat.

Hal ini karena dengan jumlah pelanggan sekitar 21,5 juta nomor pada periode yang sama mampu menghasilkan pendapatan setara Indosat yakni sekitar 1,2 triliun rupiah. Padahal, di periode yang sama Indosat memiliki sekitar 31 juta pelanggan.

Ketika analisa tersebut dikonfirmasi ke Guntur, Pria batak ini meminta untuk melihat persaingan secara lebih fair. ”Kemungkinan besar angka penjualan yang diklaim pesaing mencampurkan dengan kartu perdana. Di Indosat kami tidak membanjiri pasar dengan kartu perdana. Jadi, itu murni penjualan voucher,” tegasnya.

Jika Indosat dan XL mengalami penurunan penjualan pulsa, tidak demikian dengan pemimpin pasar seluler saat ini, Telkomsel. ”Penjualan kami stabil baik di Jabodetabek atau nasional. Totalnya sekitar 3,5 triliun rupiah setiap bulannya,” kata VP Area Jabodetabek-Jabar Telkomsel, Irwin Sakti.

Irwin mengungkapkan, masalah yang dihadapi oleh Telkomsel terkait penjualan pulsanya bukanlah di masalah volume melainkan harga pasar yang terlalu tinggi dilepas para pedagang.

”Kami tidak khawatir masalah volume. Pelanggan kami paling besar yakni sekitar 65 juta nomor. Tentunya perputaran pembelian pulsa akan tinggi,” katanya.

Namun, lanjutnya, perputaran yang tinggi tersebut banyak disalahgunakan oleh para pedagang atau distributor dengan mengambil margin yang tinggi. Misalnya, untuk voucher isi ulang denominasi lima ribu rupiah dibanderol tujuh ribu rupiah. ”Itu kan marginnya tinggi sekali. Kasihan para konsumen. Padahal denominasi itu kan untuk menengah bawah,” katanya.

Dampak lainnya adalah pelanggan lebih memilih membeli kartu perdana pesaing yang dijual di bawah harga pulsa isi ulang milik Telkomsel. ”Ini kan membuat kami kehilangan potensi pendapatan,” katanya.

Irwin melihat, jika ada distributor yang berteriak susah menjual pulsa isi ulang saat ini tak lebih dari upayanya untuk meningkatkan daya tawar ke operator. ”Seperti saya bilang tadi, kita lagi menertibkan margin mereka. Nah, perlawanannya dibilang barang susah dijual supaya kita membanjiri barang dengan harga murah dan mereka menikmati margin tinggi,” tegasnya.

Pada kesempatan lain, pengamat telematika Miftadi Sudjai mengatakan, berkurangnya konsumsi pulsa isi ulang tak dapat dilepaskan dari mulai bergesernya pola berkomunikasi dari pelanggan telekomunikasi.

”Tarif akses internet yang dibanting murah oleh para operator membuat banyak kalangan berkomunikasi melalui fasilitas chatting ala Yahoo Messenger, G Talk, atau BB messengger. Hal ini membuat pulsa dari pelanggan bertahan lebih lama sehingga perputaran isi ulang melambat,” katanya.

Menurut dia, berkomunikasi dengan fasilitas tersebut lebih murah ketimbang SMS atau suara. Jika dengan SMS biasanya sekali kirim menghabiskan pulsa 150 rupiah. Bandingkan jika berlangganan Blackberry harian yang hanya mengeluarkan biaya lima ribu rupiah per hari untuk menikmati akses internet sampai puas.

”Segmen yang sering isi ulang pulsa itu kan biasanya anak-anak muda. Nah, mereka sekarang lebih suka mengakses internet. Karena itu sekarang ada fenomena baru di masyarakat yakni autis terhadap lingkungan sekitar jika sedang asyik bersama gadget,” jelasnya.

Joy juga mengakui, fenomena berlangganan Blackberry secara harian membuat jumlah pelanggan yang menggunakan produk keluaran Research in Motion (RIM) tersebut melonjak hingga 300 persen di XL. ”Sejak empat bulan lalu kita perkenalkan berlangganan secara harian. Jumlah pelanggan dari 9 ribu langsung melesat hingga 30 ribu pelanggan,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s