110209 Importir Obat Asing Terancam Bangkrut

JAKARTA–Para perusahaan farmasi internasional yang tergabung dalam International Pharamaceutical Manufacturers Group (IPMG) mengkhawatirkan para perusahan farmasi internasonal berbasis riset akan bangkrut dalam dua tahun ke depan jika Permenkes No 1010/2008 tentang pendaftaran obat asing dijalankan.

“Jika pemerintah bersikukuh menjalankan regulasi tersebut secara kaku dapat dipastikan di masa depan ada dua belas dari anggota IPMG yang akan bangkrut,” ungkap Direktur Eksekutif IPMG Parulian Simanjuntak di Jakarta, Selasa (10/2).

IPMG adalah organisasi nirlaba tempat bernaung 29 perusahaan farmasi asing seperti PT Abbot Indonesia, PT Astellas Pharma Indonesia, PT Actavis Indonesia, dan lainnya. Segmen pasar yang dibidik oleh perusahaan ini adalah menengah atas. Hal ini karena harga obat yang ditawarkannya 70 persen lebih mahal ketimbang obat generik.

Pada tahun lalu anggota IPMG mengimpor obat asing senilai 250 juta dollar AS untuk mengamankan posisi sebagai penguasa 30 persen pangsa pasar. Sedangkan penguasa pasar farmasi tetap dikuasai oleh obat generik dari perusahaan lokal

Parulian menjelaskan, ancaman bangkrut itu menjadi nyata karena dalam regulasi tersebut mengharuskan semua obat asing yang ingin terdaftar diwajibkan memiliki alat produksi di Indonesia . Dan jika tidak memiliki pabrik, maka diwajibkan bekerjasama dengan mitra lokal yang memiliki pabrik.

“Regulasi ini menjadikan supply chain menjadi panjang dan tentunya berujung pada ekonomi biaya tinggi. Yang paling dirugikan tentunya adalah konsumen dimana biaya itu dibebankan pada mereka,” katanya.

“Saat ini saja karena pelemahan rupiah harga obat asing kemungkinan besar mengalami kenaikan sebesar 10 persen. Jika regulasi itu telah melewati masa transisi selama dua tahun sejak disahkan November 2008, tentu harga obat akan melambung,” tambahnya.

Diungkapkannya, sejauh ini sudah ada 12 perusahaan farmasi asing yang menyatakan keberatan dengan regulasi tersebut. “Memang sebagai pebisnis mereka akan berusaha mengakali dengan tidak memberikan varia baru agar kewajiban register ditiadakan. Tetapi perusahaan ini kan selalu melakukan riset. Produknya di masa depan bisa susah dikonsumsi konsumen,” tuturnya.

Dikatakannya, saat ini para perusahaan farmasi asing tersebut sedang berupaya menjelaskan pada pemerintah bahwa mereka bukanlah distributor seperti yang ditudingkan oleh regulator. “Mereka itu adalah representatif dari perusahaan pusatnya. Dan di Indonesia pun bekerjasama dengan mitra lokal, serta memiliki tenaga kerja yang besar. Semoga pemerintah bisa mengerti dengan keberatan tersebut,” katanya.[dni]

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s